Advertisement

Sistem nilai budaya dalam masyarakat di mana pun di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:

  1. Hakikat hidup manusia (MM)

Hakikat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstrem; ada yang berusaha untuk memadamkan hidup (nirvana = meniup habis), ada pula yang dengan pola-pola kelakuan tertentu meuganggap hidup sebagai suatu hai yang balk, “mengisi hidup”.

Advertisement
  1. Hakikat karya manusia (MK)

Setiap kebudayaan hakikatnya herbeda-beda, di antaranya ada yang beranggapan bahwa karya bertujuan untuk hidup, karya memberikan kedudukan atau kehormatan, karya merupakan gerak hidup untuk menambah karya lagi.

  1. Hakikat waktu manusia (MW)

Hakikat waktu untuk setiap kebudayaan berbeda; ada yang berpandangan mementingkan orientasi masa lampau, ada pula yang berpandangan untuk masa kini atau yang akan datang.

  1. Hakikat aiam manusia (MA)

Ada kebudayaan yang menganggap manusia harus mengeksploitasi alam atau memanfaatkan alam semaksimal mungkin, ada pula kebudayaan yang beranggapan bahwa: manusia harus harmonis dengan alam dan manusia harus menyerah kepada alam.

  1. Hakikat huhungan manusia (MM)

Dalam hal ini ada yang mementingkan hubungan manusia dengan manusia, baik secara horizontal (sesamanya) maupun secara vertikal (orientasi kepada tokoh-tokoh). Ada pu!a yang berpandangan individualist is (menilai tinggi kekuatan sendiri)

 

Sistem nilai budaya ini merupakan abstraksi dari adat-istiadat dari yang merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga suatu masyarakat. Lima masalah dasar dalam hidup yang menentukan orientasi nilai budaya ini sangat berharga dan mahapenting dalam hidup sehingga berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah dan orientasi kepada kehidupan warga masyarakat (Koentjaraningrat, 1980).

Penelitian mengenai makna hidup dan rhakna kerja telah dilakukan tahun 1987 di lima komunitas masyarakat Indonesia, yaitu Daerah istimewa Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Bali. Hasii pengolahan data menunjukkan bahwa ada tiga pandangan dasar tentang makna hidup, yaitu: (1) hidup untuk bekerja, (2) hidup untuk beramal, berbakti, dan (3) hidup untuk bersenang-senang. Sebanyak 89,1% berpandangan bahwa hidup ialah untuk bekerja, sisanya berpandangan bahwa hidup itu untuk beramal dan bekerja. Untuk makna kerja diperoleh hasil bahwa kerja itu: (1) untuk mencari nafkah dan mempertahankan hidup, (2) untuk anak-cucu, (3) untuk kehormatan, (4) untuk kepuasan dan kesenangan, (5) untuk amal ibadah. Makna kerja untuk mencari nafkah mencapai 79,3%, dan untuk anak-cucu 63,7% (Buchori dan Wiladi, 1982).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hakikat hidup sudah mempunyai pandangan bahwa hidup itu baik (meminjam konsep Kluckhohn). Demikian pula hakikat kerja (karya) berpandangan bahwa karya itu nafkah hidup dan kehormatan (meminjam konsep Kluckhohn). Karena penghayatan agama yang mendalam, ada juga yang berpandangan bahwa hidup dan kerja itu untuk beramal. Pandangan ini, menunjukkan terarah kepada diri sendiri, tidak berorientasi ke luar. Pandangan semacam ini sering disebut stoic: gelap, keras, dan suram, sebagai akibat kecenderungan untuk berputar-putar dalam dirinya sendiri (Buchori dan Wiladi, 1982).

Sistem-sistem nilai di Amerika telah diteliti oleh Williams (1960). Diperoleh informasi adanya orientasi nilai-nilai yang dianut oleh warganya, yaitu:

  1. Hasil usaha dan keberhasilan dipentingkan oleh pribadi.
  2. Menekankan pada aktivitas dan pekerjaan.
  3. Memandang dunia dari segi moral.
  4. Mementingkan mores (adat istiadat) kemanusiaan.
  5. Menghargai efisiensi dan kepraktisan.
  6. Optimisme ke masa depan (kemajuan).
  7. Berorientasi kepada materi.
  8. Berkeyakinan pentingnya persamaan derajat.
  9. Menghargai kebebasan.
  10. Menyesuaikan diri terhadap dunia luar.
  11. Mementingkan segi rasio dan ilmu pengetahuan.
  12. Memiliki patriotisme.
  13. Berkeyakinan terhadap demokrasi.
  14. Berkepribadian individualistik.
  15. Mempunyai tema rasional dan superioritas kelompok.

Seluruh uraian di muka dapat memberikan kerangka berpikir dalam membedakan dan memahami tentang nilai, watak nilai, sistem nilai, dan orientasi nilai sosial atau budaya. Maka dalam memahami nilai-nilai dasar manusia, kita dapat dengan sekaligus memberi ”cap” tentang watak dan kompleksitas nilai-nilai dasar (baca budaya dasar).

Incoming search terms:

  • Orientasi nilai budaya
  • pengertian orientasi nilai budaya
  • pengertian orientasi budaya
  • orientasi budaya
  • orientasi nilai
  • orientasi kebudayaan
  • nilai nilai yang dianut menurut williams 1960
  • definisi tentang orientasi nilai
  • contoh tentang orientasi nilai budaya
  • sebutkan dan jelaskan orientasi nilai kebudayaan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Orientasi nilai budaya
  • pengertian orientasi nilai budaya
  • pengertian orientasi budaya
  • orientasi budaya
  • orientasi nilai
  • orientasi kebudayaan
  • nilai nilai yang dianut menurut williams 1960
  • definisi tentang orientasi nilai
  • contoh tentang orientasi nilai budaya
  • sebutkan dan jelaskan orientasi nilai kebudayaan