PENGERTIAN ORIENTASI PARADIGMA ADALAH – Beberapa istilah dapat digunakan selain dari “orientasi paradigma”, misalnya “model”, “aliran”, “tradisi”, skema konseptual”, “sistem teoretis”, atau “orientasi teori”. Penggunaan istilah “orientasi paradigma” lebih mengikuti istilah “paradigma” dari Thomas Kuhn (1989), akan tetapi karena banyak perbedaan pendapat mengenai apakah antropologi itu suatu paradigma atau bukan paradigma, maka istilah ini saya gunakan secara longgar, suatu hal yang juga disinggung oleh Kuhn. Sejurntahparadigma dicakupi oleh suatu perspektif, yaitu suatu cara Oidang yang memberikan arah umum dari paradigma-paradigma yang ada di dalamnya. Di dalam paradigma antropologi yang memiliki batas-batas yang longgar itu, terdapatlah sejumlah paradigma yang lebih khusussebagian antropolog menyebutnya teori-teori saja—yang setiap paradigma itu memiliki arah berpikir, suatu orientasi teori, masing-masing. Sebagai contoh, Pelto dan Pelto (1989) membedakan antara metateori (misalnya, filsafat tersirat dari pelaku, apakah manusia adalah makhluk dari (produk) kebiasaan atau agen yang aktif dan rasional dalam proses sosial), teori antropologi khusus (seperti evolusionisme dan struktural-fungsionalisme), dan teori personal (bias peneliti, apakah konflik ataupun harmoni yang ditekankan).

Isu orientasi paradigma ini penting dikemukakan di sini untuk ke-pentingan penggolongan banyak sekali teori dalam antropologi menjadi beberapa paradigma pokok karena setiap paradigma tersebut memancarkan kesamaan-kesamaan yang menonjol dari teori-teori yang berada dalarn satu kategori. Jadi, penggolongan ini pada dasarnya bukan sekadar penyederhanaan, melainkan untuk membantu memahami orientasi “umum” dari setiap paradigma pokok tersebut. Mengikuti Pelto (1984) rnaka suatu orientasi paradigma meliputi:

a. wilayah konseptual di mana disiplin dianggap bekerja;

b. metodologi, termasuk desain penelitian, kriteria verifikasi, teknikteknik yang disukai, dan asumsi-asumsi mengenai keseimbangan “seni” dan “ilmu pengetahuan”;

c. falsafah tersirat dari pelaku: apakah bebas atau terikat, rasional atau , emosional, baik atau buruk;

d. ruang lingkup pertanyaan yang dipandang absah, seperti apakah motivasi penting atau dapat diabaikan, atau apakah rekayasa genetik pada manusia dapat dibenarkan; dan

e. asumsi eksplisit atau implisit mengenai faktor-faktor “kunci” seperti kekerabatan, agama, ekonomi, dan solidaritas sosial.

Sebagaimana dikemukakan di atas, penggolongan teori-teori di atas tidaklah mutlak karena selalu ada persoalan bahwa suatu orientasi teori mungkin saja masuk ke kategori yang lain menurut konteks persamaan tertentu. Misalkan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Dapatkah manusia dipahami dalam konteks evolusioner makro?” (paradigma evolusionisme awal); “Apakah setiap kebudayaan itu unik?” (paradigma partikularisme historis); “Apakah kita selalu hidup dalam harmonis?” (paradigma Dur-kheim); “Apakah rnanusia selalu dalarn konflik?” (paradigma konflik Marx), dan sebagainya menunjukkan bahwa tidak mudah menggolongkan teori-teori ke dalam suatu cluster tertentu. Teori konflik non-Marx dirnasukkan ke kategori paradigma konflik Marx, tapi ciri-cirinya juga mengindikasikan bahwa teori konflik ini bisa dimasukkan ke paradigma struktural-fungsionalisme, karena ciri ekuilibrium yang kuat terpancar dari teori ini. Marxisme sendiri juga bisa direpresentasikan dalarn paradigma konflik, paradigma tindakan sosial, dan paradigma strukturalisme. Malahan barangkali ada orang yang menempatkannya dalam paradigma evolusi. Dalam contoh terakhir, pandangan Marx tampaknya memotong, melintasi, dan mengintegrasikan berbagai paradigma yang mendasar dari disiplin tersebut, termasuk paradigma konflik dan paradigma struktural-fungsionalisme. Tetapi, tidak tepat kalau kita secara gampang mengatakan pandangan Marx mengintegrasikan beberapa paradigma atau menjadi semacam `jembatan paradigma’ karena kesamaan-kesamaan yang terjadi adalah hasil dari proses diferensiasi, spesialisasi, dan revisi dalam perkembangan pemikiran Marx sendiri. Jadi, kesamaan-kesamaan tertentu harus dilihat sebagai pascaproses diferensiasi, spesialisasi, dan revisi tersebut, bukan sebagai praproses. Dalam penulisan, para penulis teks teori antropologi kerap kali mengabaikan proses sintesis pemikiran teori yang bersangkutan, dan lebih menekankan pada skema besarnya di mana sejumlah teori sehingga suatu label paradigma dapat digambarkan secara tegas dan bisa diurai-uraikan secara lebih sistematik.

Contoh lain adalah bahwa penggabungan materialisme kebudayaan, neo-evolusionisme, dan ekologi budaya dapat juga disebut perspektif tekno-ekonomi karena ciri dominannya. Konflik neo-Marx tercermin pada masa kini dalam teori dependensi (Wallerstain, 1974), antropologi ekonomi Perancis (Bloch, 1978), dan sebagian orang memasukkan juga ke kategori ini, strukturalisme Levi-Strauss. Sedangkan, sosiologi awal di Amerika sangat kuat dipengaruhi teori konflik Simmel. Menjelang tahun 1950-an dan 1960-an teori Simmel memberi dampak terhadap antropologi, khususnya dalam karya Gluckman (1963), yang bersentuhan secara kebetulan dengan pembaruan teori Simmel dalam sosiologi, khususnya sebagai hasil upaya Coser (1964).

Teori tindakan sosial Weber memiliki sejarah yang lebih panjang dalam sosiologi daripada antropologi, membantu membentuk orientasi teori tindakan Parsons dan tulisan-tulisan setelah masa Parsons dalam interaksionisme simbolik (misalnya, lihat, Berger 1976). Antropolb-gi belum banyak bersentuhan dengan teori tindakan sosial Weber sebelum posisi teori tindakan sosial Bailey dikenal dan barulah mulai berartikulasi dalam antropologi pada tahun 1960-an, sekalipun Barth sebelumnya (1966) secara eksplisit banyak dipengaruhi Weber dalam merumuskan model generatifnya, dan sebagian konsep Malinowski mengenai asas tukar-menukar yang pas dengan pemikiran teori tindakan sosial itu.

Filed under : Bikers Pintar,