Kaum pasifis.

Pengertian pacifism (pasifisme) adalah Pembantaian selama Perang Dunia I memberi alasan baru bagi doktrin lama yang menyatakan bahwa pe­rang, meski sebagai respons terhadap sera­ngan, selalu salah. Tetapi, para pengikutnya segera menghadapi dilema akut. Mengha­dapi ancaman, aktual atau potensial, dari rezim diktatorial yang brutal yang mampu melakukan genosida, muncul pertanyaan: bagaimana suatu negara yang tidak pu­nya tentara bisa bertahan atau mampu memenuhi kewajibannya untuk melindungi warganya? Dan jika negara itu tidak bisa bertahan, hagaimana rakyat akan memper­tahankan nilai-nilainya? Di abad ke-20 pe­rang menjadi sasaran kecaman moral. Terlepas dari mereka yang menganut pandangan “tak usah pikirkan hari esok,” kaum pasifis memahami persoalan terse­but dengan dua cara. Pertama, mereka berargumen bahwa tak seorang pun yang senang menyerang negara yang jelas-jelas tak punya pertahanan apa-apa. Kedua, mereka mengklaim bahwa jika serangan itu tetap terjadi, populasi yang diserang tetap bisa menjaga nilai-nilai masyarakat mereka dan akhirnya membujuk si penye­rang untuk mundur dengan cara perlawan­an tanpa kekerasan.

Pembangkangan si­pil. Pengertian pacifism (pasifisme) adalah

Untuk argumen pertama terdapat con­toh yang mendukungnya. Costa Rica telah lama bertahan meski tidak punya tentara, dan Austria, meski jelas bukan pasifis, bisa bertahan dan tetap aman selama Perang Dingin karena negara ini tidak menunjuk­kan kemampuan mengancam dan netral, ineski negeri ini mungkin punya kapasitas untuk mempertahankan diri dari ancaman NATO dari blok Barat atau Pakta War­sawa dari blok Timur; tetapi mengingat nasib Denmark pada 1940, Cekoslowakia pada 1968 dan Grenada pada 1983, sulit untuk mengatakan dengan meyakinkan bahwa bersikap tidak menunjukkan anca­man militer akan menjamin negara tidak diserang. Feasibilitas pasifisme karenanya sangat tergantung kepada keampuhan strategi non­kekerasan. Kampanye “pembangkangan si­pil” oleh Gandhi melawan kekuasaan Inggris di India, dan gerakan National Association for the Advancement of Coloured People di bawah kepemimpinan Martin Luther King yang menentang segregasi dan pelecehan kulit hitam di Amerika Selatan, tampaknya menunjukkan bahwa nonkekerasan kadang­kadang berhasil mengubah pikiran pihak lawan yang kuat dan bahkan brutal, meski jelas ada faktor lain yang ikut memengaruhi. Pengertian pacifism (pasifisme) adalah Dalam masing-masing kasus, aktivis mam­pu menarik opini publik demokratis yang memiliki kontrol atas penindasnya. Gan­dhi sendiri bukan seorang pasifis, namun kampanyenya, yang banyak menggunakan tindakan berpantang, secara konsisten me­nolak kekerasan. Ajarannya banyak clilan­daskan pada tulisan agama Hindu. ” jalan kerohanian adalah jalan pelepasan, me­nahan diri, dan tidak dikuasai oleh segala keinginan” (lihat Gandhi, 1951, hlm. 26). Gene Sharp (1971) melaporkan telah mengidentifikasi 125 bentuk nonkekeras­an yang berbecia, yang dibagi menjadi tiga kategori umum: protes, nonkerja sama dan intervensi, dan menjelaskan tiga lagi mekanisme perubahan: konversi, akomo­dasi dan paksaan (koersi). Karena para penentang mampu menjelaskan alasan dari perlawanan mereka, yang dianggap­nya sebagai sine qua non, maka gerakan nonkekerasan mereka, dan penghormatan yang diraih melalui kesiapan untuk men­derita demi keyakinannya akan membuat lawan siap untuk mengubah kebijakannya. Atau resistensi semacam ini akan menim­bulkan akomodasi di pihak lawan yang mau mempertimbangkan tuntutan aktivis karena dia “menganggap persoalan itu bia­sa saja dan tidak perlu diributkan sampai sedemikian rupa” (hlm. 156). COERCION dapat diterapkan jika resistensi sudah menyebar luas dan berkepanjangan, dan “berhasil mengganggu, secara langsung atau tak langsung, sumber kekuatan poli­tik penguasa.” Thomas Schelling (1971, hlm. 179), yang dalam tulisan awalnya menganalisis logika koersi kekerasan, ber­pendapat bahwa “potensi nonkekerasan sangatlah besar dengan implikasi bagi perdamaian, perang, stabilitas, teror, ke­percayaan dan politik domestik yang tidak mudah untuk dinilai.” Pengertian pacifism (pasifisme) adalah Pasifisisrne nuklir, yang berpendapat bah­wa penggunaan senjata nuklir selalu salah, bahkan untuk pembalasan, dan karenanya menyerukan penghapusan senjata itu, secara paksa kalau perlu, tampaknya kurang memi­liki prospek yang bagus. Bull (1961, hlm. 85) menyebut hal itu sebagai “tindakan menye­rah,” mengimplikasikan bahwa negara tidak memiliki persenjataan nuklir adalah negara lemah; tetapi Vietnam, yang tidak punya nuklir, masib bisa mengalahkan negara pemilik nuklir yang amat kuat. Pasifisme nuklir kini sering menyebut teori “perang yang adil” di mana agar kekuatan militer bisa dibenarkan, maka tujuannya haruslah baik (dan dapat dica­pai), tetapi kekerasan hanya boleh dipakai untuk melawan mereka yang sengaja me­nentangnya, yakni pasukan tempur lawan. Dalam kasus yang diangkat oleh Advisory Opinion yang diberikan oleh International Court of Justice (“The World Court”) pada 1996, yang menyatakan bahwa “ancaman atau penggunaan senjata nuklir dianggap bertentangan dengan aturan hukum inter­nasional yang dapat diaplikasikan dalam konflik bersenjata, dan khususnya berten­tangan dengan prinsip dan aturan undang­undang kemanusiaan”.