Advertisement

Secara organisasi didirikan pada tahun 1959 di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, dengan Kawruh Rasa Sejatinya. Pendiri organisasi ini adalah Soemardi Hadisoemarjo, Reksosoehardjo, dan Slamet, dengan penanggung jawab Soepono Hardjosoewito sebagai suh. Soemardi Hadisoemardjo bertugas selaku kasukan (kurungan yang kemasukan roh), sedang Reksosoehardjo bertugas sebagai penerima sabda. Pengurusan organisasi ini dipercayakan kepada sembilan orang cucu yang masing-masing diberi nama limpahan (asmapatri).

Sejarah terbentuknya Padepokan Kawinduran diawali dengan munculnya permainan jaelangkung pada tahun 1955 di Purbalingga, Jawa Tengah. Permainan tersebut berupa permainan manusia buatan yang dilakukan oleh anak-anak dengan landasan kepercayaan adanya roh. Dalam permainan itu, boneka manusia yang kemasukan roh memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan melalui anak yang bertugas sebagai juru baca untuk ditulisnya di atas sabak. Perhatian terhadap permainan jaelangkung semakin berkembang setelah dikenal kehadiran roh Mbah Winduro (Windoero) yang menganggap para pemerhati menjadi cucu cucunya sendiri. Maka lahirlah sebutan Padepokan mBah Winduro atau Padepokan Kawinduran dalam tahun 1958. Padepokan diasuh oleh roh mBah Manir Seto Manjoyo yang menjabarkan Kawruh Rasa Sejati, yaitu Kawruh Kasampurnan.

Advertisement

Kawruh Rasa Sejati menggunakan simbul Ki Basranaya yaitu Sismaya Jati (Semar) berisikan tiga hal pokok, yaitu (1) manusia hidup tanpa pedoman kasampurnan/kaluhuran; (2) manusia berperilaku dalam kasampqrnan/kaluhuran; (3) manusia telah mencapai kasampurnan/kaluhuran budi. Kawruh Rasa Sejati memberikan “srana” untuk mengisi hidup dengan makna “berbudi bawa leksana” (suka memberi dan menepati janji dalam kebenaran). Ajaran ini memberikan pertolongan terhadap sesama, khususnya penyembuhan, menahan nafsu jahat, tidak mengejar harta, ingat pada Sang Pencipta, bersikap teguh, sabar, cinta kasih kepada sesama, berani mengalah, susila, suka kepada sesama, suka kepada kebenaran, bijaksana, halus perasaan, menjalani laku penyempurnaan hidup. Penghayatannya dengan triloka (niyat, karep, tekad mantep) dan trisula (eling, ngelingi, ngemuti) sebagai syarat laku yang mendasari pergaulan, dan mengutamakan watak sabar, narima dan tawekal, tepa selira dan tata susila, serta mengalah kata sekecap perbuatan setindak.

Padepokan bersanggar di dua tempat, yaitu (1) pasewakan/padepokan Kawinduran yang berada di dukuh Setabelan desa Purbalingga Timur, Kabupaten Purbalingga; (2) Sanggar Wisma Winandri Sinang- kung Aji di dukuh Karangso, dusun Blater, kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga. Dalam penghayatan dipakai sebutan Hyang Murbeng Dumadi untuk Tuhan Yang Maha Esa. Anggota padepokan tersebar di Propinsi Jawa Tengah ( Purbalingga, Purwokerto, dan Magelang), Yogyakarta dan Jakarta.

Incoming search terms:

  • pengertian padepokan
  • arti padepokan
  • apa yg d mksud dengan padepokan
  • pengertian padepokanpadepokan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian padepokan
  • arti padepokan
  • apa yg d mksud dengan padepokan
  • pengertian padepokanpadepokan