Advertisement

Setiap peradaban memiliki pandangan hidup (dunia) yang memberi makna kepada kehidupan manusia, dengan menempatkan kedudukannya dalam kosmos (alam semesta) dan dengan menegaskan fungsinya dalam hubungan dengan telos (tujuan) dari hidup itu sendiri. Makna hidup diperoleh dengan dunia transedental, jauh meiampaui karya rutin serta situasi yang diliputi oleh jebakan institusional.

Kosmologi, mitologi, dan agama membawa manusia dalam proses kosmosiasi, suatu proses mencegah timbulnya perasaan keterasingan dan isolasi, dan sebaliknya memantapkan perasaan aman berdasarkan keikutsertaan atau keterlibatannya dalam sistem universal.

Advertisement

Ungkapan di atas secara garis besar telah menjelaskan bahwa pelbagai kebudayaan dalam tiga dimensinya adalah hal yang imanen ada pada setiap peradaban. Maka dalam pelaksanaan pembangunan bangsa pada umumnya serta pendidikan kepribadian khususnya, wajarlah apabila fungsi unsur-unsurtersebutditingkatkan. Setiap kelengahan yang mengabaikan pembangunan kemanusiaan itu akan mengakibatkan kemerosotan ke arah kebiadaban lagi.

Penjelasan yang disajikan di muka menurut perluasan uraian, terutama untuk memusatkan perhatian kepada fungsi dan makna sosial pelbagai bidang humaniora, sejajar dengan kedudukan unsur-unsur kebudayaan dalam pelbagai dimensinya. Selanjutnya proses pembangunan nasional di sini dipersempit ruang lingkupnya, yakni terbatas pada pembentukan kepribadian bangsa sebagai inti dari pembangunan nasion.

Sebagai titik tolak uraian ini, perlu ditegaskan bahwa sejak akhir abad ke-19 bertentangan dengan pendirian positivisme para penganut neokantianisme, mengemukakan pendapat mengenai adanya dikotoni antara Ilmu pengetahuan alam (Natur-Wissenschaft), dan ilmu pengetahuan kebudayaan (Kultur-wissenschaft), masing-masing memakai metode yang berbeda sekali. Yang pertama-tama menentukan hukum atau dalil (nomothetis), membuat analisis, melacak kausalitas, dan menyusun generalisasi. Berdasarkan metode itu, lazimnya dapat dibuat predikasi. Yang kedua “menggambarkan” (deskripsi) situasi, kejadian atau gejala yang unik (tunggal), melukiskan dalam bentuk cerita (naratif), dan menginterpretasikan. Bukan dalil yang dicari, tetapi makna.

Dengan metode ini humaniora berusaha memahami realitas sosial dan manusiawi. Jadi, tujuannya ialah memahami (understanding), dan bukan menerangkan (explanation).

Perlu ditambahkan di sini bahwa dominasi alam pikiran positivistis lewat politik pendidikan kolonial meninggalkan dampaknya di Indonesia. Tambahan pula, kebutuhan akan tenaga kaum teknik menciptakan persepsi yang negatif terhadap humaniora di negeri kita. Baru dalam memasuki tahap-tahap terakhir pembangunan nasionallah humaniora mulai mendapat perhatian lagi. Ini tidak lain karena proses modernisasi dan industrialisasi mau tak mau menghadapi hambatan-hambatan yang berasal dari faktor manusiawi.

Secara berturut-turut akan dipaparkan perubahan tentang fungsi sejarah, bahasa (kesastraan), kesenian, kebudayaan, dan filsafah.

Advertisement