Advertisement

Merupakan kebutuhan manusia di segala waktu. Manusia prasejarah memperoleh pangan dengan berburu, menangkap ikan, dan memetik hasil hutan yang berupa buah-buahan, dedaunan, dan biji- bijian. Sekitar 10 ribu tahun yang lalu orang mulai bercocok tanam. Mereka juga mulai menjinakkan kambing dan domba. Ternak merupakan sumber daging dan susu.

Hampir dua abad yang lalu masalah pangan menghantui manusia. Thomas Malthus, ekonom Inggris, dikenal dengan ramalannya yang mengatakan bahwa pertambahan penduduk mengikuti deret ukur, sementara penambahan persediaan pangan hanya mengikuti dere; -tung. Namun 30 tahun yang lalu, Eropa, Amerika Utara, Uni Soviet, Jepang, dan Oseania telah terbebas dari masalah kekurangan pangan. Meskipun demikian dewasa ini beberapa negara di Afrika dan Asia masih dirundung kelaparan, baik sebagai masalah menahun, maupun sesekali sebagai akibat suatu bencana alam.

Advertisement

Kebutuhan kalori dan gizi per kapita dalam satu tahun dipenuhi dengan sekitar 258 kilogram gandum dan beras. Dalam tahun 1965 dengan penduduk dunia sebanyak 3,3 miliar jiwa, diperlukan gandum dan beras sebanyak 935 juta ton setahun. Sebenarnya kebutuhan ini dapat dipenuhi karena produksi dunia adalah 968 juta ton. Namun pembagiannya sama sekali tidak seimbang. Produksi pangan di negara-negara terbelakang rata-rata hanya memberikan 1.860 kalori per hari per orang, sementara di negara maju 5.000 kalori. Bila dalam tahun 2000 penduduk dunia menjadi 7 miliar, maka kebutuhan gandum dan beras akan meningkat menjadi 1,8 miliar ton untuk satu tahun.

Di negara maju gandum dan padi-padian hanya separo dikonsumsi manusia, sisanya dijadikan pakan ternak dan unggas, sehingga akan diperoleh susu, daging dan telur, yang merupakan sumber gizi pula. Di negeri terbelakang produksi beras dan padi-padian lain tidak cukup untuk dimakan manusia. Perbedaan lain antara negara maju dan negara terbelakang terletak pada usaha peningkatan produksi pangan. Di negara maju produksi dinaikkan dengan meningkatkan produktivitas (ton per hektar), sedangkan di negara terbelakang dengan menambah atau memperluas areal ladang dan sawah.

Di negara kaya dan maju, kebutuhan akan kalori dan gizi rakyat miskin boleh dikatakan telah terpenuhi (misalnya di Amerika Serikat: 3.000 kalori dan 90 gram protein per hari). Sebaliknya di negara miskin, rakyat termiskin hidup di bawah standar. Misalnya, bila standar untuk India adalah 1.900 kalori dan 48 gram protein per hari, diperkirakan ada 20 persen rakyat yang hanya mampu memenuhi 80 persen kebutuhan kalori dan 90 persen kebutuhan protein itu.

Usaha berbagai negara untuk meningkatkan persediaan pangan adaiah menambah areal sawah dan ladang; menaikkan produktivitas dengan penggunaan bibit unggul, pemupukan dan mengurangi rusaknya tanaman pangan oleh hama; mengurangi kerusakan persediaan pangan oleh hama; meningkatkan pangan yang diperoleh dari samudera; dan memproduksi pangan secara industri. Di samping itu dilakukan usaha untuk mengurangi pertambahan penduduk dengan menurunkan angka kelahiran.

Penggunaan pestisida, baik di sawah atau kebun, maupun dalam gudang penyimpanan pangan, haruslah dilakukan dengan bijaksana, agar tidak berdampak negatif pada lingkungan. Usaha peningkatan produktivitas pun harus dilakukan dengan hati-hati, karena umumnya yang lebih dahulu menikmati usaha ini adalah tuan tanah dan petani kaya, karena mereka mempunyai prasarana yang lebih baik dibandingkan petani miskin atau penggarap.

Kini banyak terdapat pangan sintetis, yakni pangan yang dihasilkan dengan mengisolasi protein nabati yang biasanya tidak dimakan langsung, dan mengubahnya menjadi pangan, setelah dicampuri peramu lain seperti lemak nabati, vitamin, dan zat citarasa dan pengawet.

Incoming search terms:

  • arti pangan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti pangan