Advertisement

Nama lengkapnya Sanggar Pangayoman Majapahit, didirikan pada tahun 1963 di Denpasar, Bali, oleh Raden Ayu Siti Sutarmi, Azis Yogi Oey B.A., Ida Bagoes Budhiawan S.H., dan Ida Bagus Oka Swardika. Tujuan ajaran sanggar ini, antara lain, (1) bersila untuk melebur dosa dan melebur diri; (2) bertugas demi kepentingan negara, rakyat, nusa, dan bangsa; (3) menguasai dharma; (4) mengadakan inti persaudaraan atau kekeluargaan demi kerukunan umat manusia bersusila (beretika) dan berbudi pekerti; (5) menyelidiki dan mempelajari secara mendalam untuk menghindari ketakhyulan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan gejala mistik atau gaib; (6) membina jiwa bangsa ke arah kesehatan psikis/mental dengan melaksanakan penyembuhan secara kerohanian; (6) berusaha mengetahui, menghindari, dan mengatasi terjadinya bencana alam.

Pendalaman gejala mistik baik yang ada pada diri manusia sendiri (buana alit) maupun yang terdapat di dalam dunia alam semesta (buana agung) dilakukan dengan bersila (semadi) di bawah bimbingan medium yang dapat diterima secara sadar (sekala) maupun secara abstrak (niskala). Semadi dilakukan menurut ritus yang terdapat pada ajaran Hindu, Budha, dan Kejawen yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata berdasarkan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Hyang Widhi Wasa). Warga sanggar dibimbing untuk bersatu dalam melaksanakan upacara sanggar, tanpa mengurangi kemerdekaan tiap warga untuk memeluk agamanya masing-masing. Upacara sanggar dilakukan pada waktu tertentu, termasuk menari dan menyanyi spiritual dengan menggunakan pakaian adat Hindu Bali. Ajarannya bersumber dari sabda, ilham, dan jejak jaman bahari berdasarkan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan penghayatnya diwajibkan mengamalkan apa yang terkandung di dalam syair Sanggar Pangeyoman. Anggota sanggar tersebar di Bali, khususnya Kabupaten Badung, Gianyar, Klungkung, dan Karangasem.

Advertisement

Advertisement