Advertisement

Disingkat PPKI, suatu badan yang dibentuk oleh pemerintah Jepang menjelang proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia, tepatnya tanggal 7 Agustus 1945. Badan ini bertugas mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut masalah ketatanegaraan sehubungan dengan akan diserahkannya kekuasaan pemerintahan dari balatentara Jepang kepada bangsa Indonesia. Badan ini beranggotakan 21 orang: 12 dari Jawa, 3 dari Sumatra, 2 dari Sulawesi, 1 dari Kalimantan, 1 dari Nusa Tenggara, 1 dari Maluku, dan 1 dari masyarakat Tionghoa. Adapun yang ditunjuk sebagai ketua adalah Ir. Sukarno, sedangkan wakil ketuanya Drs. Moh. Hatta. Sebagai penasihat ditunjuk Mr. Ahmad Soebardjo. Kemudian, tanpa sepengetahuan Jepang, anggota PPKI ditambah lagi sebanyak enam orang, yaitu: Wiranatakusumah. Ki Hadjar Dewan- tara, Mr. Kasman Singodimedjo, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Soebardjo.

Badan ini dibentuk oleh pemerintah Jepang:sebagai upaya untuk menarik simpati dari pelbagai golongan terhadap pemerintah Jepang yang sejak tahun 1943 mulai terdesak dalam medan-medan pertempuran di Pasifik. Selain itu, pemerintah Jepang juga menjanjikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia. Dengan adanya janji kemerdekaan yang lebih dikenal dengan “Pernyataan Koisyo”, pelbagai golongan pun diberi kesempatan untuk mengembangkan politik. Mulai saat itulah terasa memuncaknya perjuangan menuju proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang digerakkan oleh golongan tua maupun golongan muda. Kedua-duanya sependapat bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia harus segera diproklamasikan, hanya cara mengemukakan pendapat itu dan cara melaksanakannya yang berbeda. Adanya perbedaan inilah yang menimbulkan ketegangan hubungan antara golongan tua yang terwakili dalam wadah PPKI dan golongan muda yang terwakili dalam kelompok Asrama Menteng 31 di bawah pimpinan Sukarni, dan Chaerul Saleh, Asrama Indonesia Merdeka di bawah Mr. Soebardjo, dan Ika Dai Gakku (Asrama Prapatan Mahasiswa Kedokteran) yang pro-Sjahrir, seorang tokoh dari masa sebelum perang yang menolak bekerja sama dengan Jepang dan melakukan suatu “gerakan bawah tanah” dengan jaringan di seluruh Jawa. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, hanya dengan jalan bekerja sama dengan Jepang. Mereka menggantungkan proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Advertisement

Para anggota di dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia itu digeiakkan oleh pemerintah, sedangkan mereka diizinkan melakukan segala sesuatunya menurut pendapat dan kesanggupan bangsa Indonesia sendiri. Tetapi di dalam melakukan kewajibannya itu mereka diwajibkan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) syarat pertama untuk mencapai kemerdekaan ialah harus menyelesaikan perang yang sekarang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, karena itu harus menyerahkan tenaga sebesar-besarnya, dan bersama-sama dengan pemerintah Jepang meneruskan perjuangan untuk memperoleh kemenangan akhir dalam Perang Asia Timur Raya; (2) kemerdekaan Indonesia itu merupakan anggota Lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya, maka cita-cita bangsa Indonesia itu harus disesuaikan dengan cita-cita pemerintah Jepang.

Ketika Rusia bergabung dengan Sekutu dan menyerbu Jepang dari Manchuria, pihak Jepang melangkah lebih jauh lagi dan mempercepat tanggal pembentukan negara boneka tersebut, yang oleh BPUPKI direncanakan akan jatuh pada tanggal 17 September 1945. Ketiga tokoh PPKI, yakni Sukarno, Hatta, dan Radjiman diterbangkan ke Dalath (Saigon) untuk menemui Jenderal Terauchi yang akan merestui pembentukan negara tersebut. Pada tanggal 14 Agustus 1945 ketiganya kembali ke Jakarta, dan pada saat itu pula Jepang menghadapi pemboman Amerika Serikat atas Hiroshima dan Nagasaki. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa kgjcalahan Jepang sudah di ambang pintu, sehingga proklamasi kemerdekaan harus segera dilaksanakan. Sutan Sjahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak segera diproklamasikannya kemerdekaan bangsa Indonesia oleh Sukarno-Hatta tanpa menunggu janji Jepang yang dikatakannya sebagai tipu muslihat belaka. Keberanian Sjahrir ini timbul karena ia sendiri mendengar langsung berita kekalahan tentara Jepang dari radio yang tidak disegel oleh pemerintah Jepang. Desakan tersebut dilakukannya pada tanggal 15 Agustus 1945, dalam suatu pertemuan dengan Drs. Moh Hatta tak lama sesudah Hatta kembali dari Dalath. Tetapi Sukarno dan Hatta masih mencari kebenaran berita tentang kapitulasi Jepang secara resmi dan tetap ingin membicarakan r- ;aksa- naan proklamasi pada rapat Panitia Persiapan Kemer-dekaan Indonesia.

Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan muda, yang menganggap PPKI adalah badan Jepang dan tidak menyetujui lahirnya proklamasi kemerdekaan dengan cara yang telah dijanjikan oleh Jenderal Besar Terauchi dalam pertemuan di Dalath. Golongan muda menghendaki terlaksananya proklamasi kemerdekaan dengan kekuatan sendiri lepas sama sekali dari pemerintah Jepang.

Menanggapi sikap pemuda yang radikal it i, Sukarno-Hatta berpendapat bahwa soal kemerdekaan Indonesia yang datangnya dari pemerintah Jepang atau dari hasil perjuangan bangsa Indonesia sendiri tidaklah menjadi soal, karena Jepang toh sudah kalah. Kini kita menghadapi Sekutu yang berusaha mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Oleh sebab itu untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia diperlukan suatu revolusi yang terorganisasi. Mereka ingin memperbincangkan proklamasi kemerdekaan di dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sehingga dengan demikian tidak menyimpang dari ketentuan-ketentuan pemerintah Jepang, yang menetapkan waktu berkumpulnya para anggota PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945 dan waktu diadakannya sidang PPKI yang pertama pada keesokan harinya.

Menghadapi sikap golongan tua yang seperti itu, golongan muda menjadi tidak sabar lagi. Tindakan ^ojongan muda selanjutnya adalah mengadakan suatu Perundingan di salah satu ruangan Lembaga Bakteriologi di gangsaan Timur, Jakarta (sekarang Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia) pada tanggal 15 Agustus 1945, jam 20.00 WIB. Rapat ini dihadiri oleh Chaerul Saleh, Djohar Nur, Kusnandar, Subadio, Subianto, Margono, di samping Wikana dan Armansyah dari golongan Kaigun. Keputusan rapat vang dipimpin oleh Chaerul Saleh menunjukkan tuntutan-tuntutan radikal golongan pemuda yang di antaranya menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia sendiri, tak dapat digantung-gantungkan kepada orang dan kerajaan lain. S, ala ikatan dan hubungan dengan janji kemer-dekaan dari Jepang harus diputuskan dan sebaliknya diharapkan diadakannya perundingan dengan Sukar- no-Hatta agar supaya mereka turut menyatakan proklamasi.

Keputusan rapat tersebut disampaikan oleh Wikana dan Darwis pada saat yang sama, yakni jam 22.000 WIB di rumah kediaman Ir. Sukarno, Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) 56, Jakarta. Tuntutan Wikana agar proklamasi dinyatakan oleh Sukarno pada keesokan harinya telah menegangkan suasana, karena ia menyatakan bahwa akan terjadi pertumpahan darah jika keinginan mereka tidak di-laksanakan. Mendengar ancaman itu, Sukarno menjadi marah dan melontarkan kata-kata berikut: “Inilah leherku, saudara boleh membunuh saya sekarang juga. Saya tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya sebagai ketua PPKI. Karena itu akan saya tanyakan kepada wakil-wakil PPKI besok”.

Suasana hangat itu disaksikan oleh golongan nasionalis angkatan tua lainnya, seperti Drs. Moh. Hatta, dr. Buntaran, dr. Samsi, Mr. Ahmad Soebardjo, dan Mr. I Kusumasumantri. Tampak adanya perbedaan pendapat; golongan pemuda tetap mendesak agar besok tanggal 16 Agustus 1945 dinyatakan proklamasi, sedangkan golongan pemimpin angkatan tua masih menekankan perlunya diadakan rapat PPKI terlebih dahulu.

Perbedaan pendapat itu telah membawa golongan pemuda kepada tindakan selanjutnya, yakni menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Tindakan itu diambil berdasarkan keputusan rapat terakhir yang diadakan pada jam 24.00 WIB menjelang tanggal 16 Agustus 1945 di Jalan Cikini, 71 Jakarta. Selain dihadiri oleh pemuda-pemuda yang berapat sebelumnya di ruangan Lembaga Bakteriologi, Pegangsaan Timur, Jakarta, rapat itu juga dihadiri oleh Sukarni, Jusuf Kunto, dan dr. Muwardi dari Barisan Pelopor, serta Shodanco Singgih dari Daidan Peta Jakarta Syu. Mereka bersama dengan Chaerul Saleh telah bersepakat untuk melaksanakan keputusan rapat pada waktu itu, yaitu antara lain “menyingkirkan Sukarno dan Hatta ke luar kota” dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang. Shodanco Singgih mendapat kepercayaan untuk melaksanakan rencana tersebut. Demikianlah pada tanggal 16 Agustus 1945 jam 4.30 waktu Jawa jaman Jepang atau jam 04.00 WIB terjadi peristiwa penculikan Sukarno dan Hatta untuk dibawa ke luar kota menuju Rengasdengklok, yang jaraknya 15 kilometer dari Kedung Gede, Karawang Jawa Barat.

Sesampainya di Rengasdengklok, rombongan yang membawa Sukarno dan Hatta langsung menuju ke markas kompi Cudanco Subeno. Di sana berlangsung pembicaraan antara Sukarno, Sukarni, dan Singgih, sementara Hatta sedang keluar ruangan. Sukarni atas nama golongan pemuda mendesak kembali agar Sukarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pembicaraan di antara mereka tidak membawa hasil. Tetapi dalam pembicaraannya dengan Singgih, akhirnya Sukarno menyetujui desakan golongan pemuda yang diwakili oleh Singgih, supaya proklamasi kemerdekaan diucapkan tanpa campur tangan pemerintah Jepang. Kesediaan Su-karno itu segera disebarluaskan oleh Singgih sekembalinya ke Jakarta, di Menteng 31.

Antara Ahmad Soebardjo dan Wikana dicapai kata sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilakukan di Jakarta, karena Laksamana Maeda bersedia menjamin keselamatan selama mereka berada di rumahnya. Karena itu Jusuf Kunto hari itu juga membawa Mr. Ahmad Soebardjo bersama Sudiro (Mbah) ke Rengasdengklok untuk menjemput Sukarno dan Hatta. Rombongan tiba pada jam 17.30 WIB. Di Rengasdengklok antara golongan pemuda dan golongan tua tidak terjadi perundingan, hanya Ahmad Soebardjo telah memberi jaminan dengan taruhan nyawa bahwa proklamasi kemerdekaan akan diumumkan pada tanggai 17 Agustus 1945 keesokan harinya selambat-lambatnya jam 12.00. Dengan jaminan tersebut, komandan kompi Peta Cudanco Subeno melepaskan Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta pada jam 23.00 WIB rombongan menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No.l. Di tempat inilah naskah proklamasi disusun. Sebelumnya Sukarno dan Hatta telah menemui Somubuco, Mayor Jenderal Ni- syimura untuk menjajagi sikapnya mengenai proklamasi kemerdekaan. Dengan segan-segan Nisyimura berjanji untuk tidak menghalang-halangi proklamasi kemerdekaan, asal tidak ada pernyataan yang anti- Jepang.

Para pemuka Indonesia yang hadir dalam peristiwa perumusan teks proklamasi berkumpul dalam dua ruangan, ruangan makan dan serambi depan. Para perumus melakukannya di dalam ruangan makan, yakni Sukarno, Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo. Pada saat itu Sukarno memegang pena dan menulis teks proklamasi yang terdiri atas dua kalimat. Kalimat pertama yang berbunyi “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia” merupakan kalimat yang dikutip oleh Ahmad Soebardjo dari Piagam Jakarta, yang antara lain berbunyi “Atas berkat rahmat Allah maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”. Kemudian Hatta menyempurnakan teks proklamasi dengan kalimat kedua yang berbunyi “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat- singkatnya”.

Setelah selesai, teks proklamasi tersebut dibacakan di hadapan pemuka-pemuka yang sebagian besar adalah anggota PPKI, yang semuanya menunggu di dalam serambi muka yang biasanya dipergunakan untuk menerima tamu oleh Laksamana Maeda. Di sinilah teks proklamasi dimusyawarahkan. Pada wak-tu itu timbullah persoalan tentang siapa yang akan menandatangani. Yang memberi komentar adalah Chaerul Saleh yang tidak setuju bila teks itu ditandatangani oleh anggota-anggota PPKI, karena n nurut anggapannya badan itu bentukan Jepang, yang anggota-anggotanya diangkat oleh Jepang. Muncullah Sukarni, dan sebagai jalan keluar, ia mengusulkan agar teks proklamasi sebaiknya ditandatangani oleh Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Ternyata usulnya itu disetujui oleh semua yang hadir. Maka teks Proklamasi selanjutnya diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik. Olehnya terhadap beberapa kata dari versi terakhir itu diadakan perubahan-perubahan, yaitu kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”, “wakil-wakil bangsa Indc esia” diubah menjadi “atas nama bangsa Indonesia”. Versi terakhir yang telah diketik dan ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta itulah yang dikenal sebagai naskah autentik.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 jam 12.00 (waktu Tokyo) atau jam 10.30 waktu Jawa jaman Jepang, atau jam 10.00 WIB, teks proklamasi dibacakan oleh Ir. Sukarno dengan didampingi oleh Drs. Moh. Hatta di tempat kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur (sekarang Jalan Proklamasi) 56, Jakarta.

Sehari setelah proklamasi kemerdekaan, tanggal 18 Agustus 1945 PPKI mengadakan sidangnya yang pertama di Gedung Kesenian Jakarta. Pada hari pertama sidang ini dihasilkan beberapa keputusan penting yang menyangkut kehidupan ketatanegaraan serta landasan politik bagi bangsa Indonesia yang telah merdeka, yaitu: (a) mengusahakan Undang-undang nasar Negara; (b) memilih presiden dan wakil presiden, yaknj Ir. Sukarno dan Drs. Moh. Hatta; (c) presiden-1^ sementara waktu akan dibantu oleh sebuah Komite asional.

pada uari berikutnya sidang PPKI dilanjutkan. Sidang hari kedua ini menghasilkan keputusan membentuk 12 departemen, dan sekaligus menunjuk para ernimpin departemen (menteri), serta menetapkan pembagian wilayah negara Republik Indonesia menjadi delapan propinsi dan sekaligus menunjuk gubernurnya. Tentang tentara kebangsaan sidang memutuskan agar segera dibentuk. Pada sidang hari ketiga ternyata PPKI mengeluarkan keputusan lain mengenai tentara kebangsaan ini. Pada tanggal 23 Agust: Presiden Sukarno dalam pidatonya menyatakan berdirinya tiga badan baru, yaitu Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKN).

Sejak dibentuknya lembaga-lembaga kenegaraan tersebut, dengan sendirinya berakhirlah kegiatan PPKI. Walaupun anggota-anggota PPKI dinilai pro Jepang oleh kelompok pemuda, peranannya di dalam menyiapkan segala sesuatunya yang menyangkut hal ketatanegaraan tidak dapat diabaikan.

Incoming search terms:

  • pengertian ppki
  • jelaskan bahwa ppki adalah lembaga bentukan indonesia
  • hasil rapat pemuda di lembaga bakteriologi
  • hasil pertemuan para pemuda di lembaga bakteriologi
  • sebutkan hasil dari pertemuan para pemuda di lembaga bakteriologi
  • Pada tanggal 15 agustus 1945 para pemuda di bawah pimpinan chaerul saleh mengadakan rapat di
  • sebutkan hasil rapat di lembaga bakteriologi pimpinan chaerul saleh
  • ppki adalah lembaga bentukan indonesia
  • apakah hasil rapat pemuda yang diselenggarakan di lembaga bakteriologi yang dipimpin chaerul saleh
  • untuk melaksanakan kegiatannya ppki harus memperhatikan beberapa syarat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian ppki
  • jelaskan bahwa ppki adalah lembaga bentukan indonesia
  • hasil rapat pemuda di lembaga bakteriologi
  • hasil pertemuan para pemuda di lembaga bakteriologi
  • sebutkan hasil dari pertemuan para pemuda di lembaga bakteriologi
  • Pada tanggal 15 agustus 1945 para pemuda di bawah pimpinan chaerul saleh mengadakan rapat di
  • sebutkan hasil rapat di lembaga bakteriologi pimpinan chaerul saleh
  • ppki adalah lembaga bentukan indonesia
  • apakah hasil rapat pemuda yang diselenggarakan di lembaga bakteriologi yang dipimpin chaerul saleh
  • untuk melaksanakan kegiatannya ppki harus memperhatikan beberapa syarat