PENGERTIAN PANTI WREDA – Mitos yang tersebar luas mengenai panti wreda adalah bahwa keluarga-keluarga menyingkirkan kerabat mereka yang berusia lanjut ke institusi tersebut segera setelah melihat gejala pertama melemahnya kondisi kerabat tersebut. Namun, keluarga biasanya menggali semua alternatif yang ada dan menghabiskan sumber daya mereka sendiri sebelum memasukkan kerabat yang berusia lanjut ke institusi tersebut. Dengan demikian, keputusan untuk menginstitusikan adalah jalan terakhir, bukan sebagai pilihan pertama.

Institusionalisasi kadang dapat berdampak negatif bagi hubungan keluarga karena kuatnya ketidaksetujuan, kemarahan, dan rasa bersalah dapat timbul dalam diskusi untuk menentukan apakah perlu memasukkan orang tua ke panti wreda. Meskipun demikian, sebuah studi menemukan bahwa bagi sejumlah besar keluarga, memindahkan orang-tua-ke panti wreda justru memperkuat ikatan keluarga dan menciptakan kedekatan yang terbarukan antara orang tua dan anak yang sebelumnya adalah perawat utamanya. Perawatan yang diberikan oleh panti wreda menghilangkan beban dan tekanan yang disebabkan oleh banyaknya masalah fisik atau mental yang dialami orang tua. Hanya pada sekitar 10 persen keluarga di mana hubungan keluarga memburuk karena perpindahan tersebut.

Panti wreda dewasa ini merupakan sentra perawatan institusional bagi para lanjut usia yang menderita penyakit kronis parah dan gangguan mental. Menilik proyeksi kebutuhan pada masa mendatang, tampaknya tidak cukup banyak orang yang dilatih untuk memberikan layanan kesehatan mental di panti-panti wreda. Hal ini harus menjadi perhatian tersendiri, terutama karena hanya sedikit dari panti wreda yang jumlahnya hampir 17.000 di Amerika Serikat yang memberikan konseling sebagai layanan rutin, dan sangat banyak jumlah pasien yang didiagnosis menderita gangguan mental (termasuk demensia). Lebih buruk lagi, belum lama berselang dilakukan penataan ulang panti-panti wreda yang bertujuan untuk mengeluarkan dan tidak lagi menerima orang lanjut usia yang mengalami gangguan mental, suatu langkah yang kemungkinan akan semakin membebani rumah-rumah sakit psikiatrik milik pemerintah dan swasta serta rumah-rumah sakit umum yang memiliki unit psikiatrik, dan perawatan di rumah-rumah sakit tersebut tidak mungkin lebih baik.

Bahkan panti wreda yang baik dan tidak semuanya dikelola dengan baik dapat menimbulkan konsekuensi negatif tanpa disengaja pada beberapa penghuni. Pernyataan ini didasari oleh sebuah studi klasik yang dilakukan Blenker (1967). Para lanjut usia yang berada di pusat pelayanan keluarga ditempatkan secara acak ke dalam salah satu dari tiga kelompok: intensif, menengah, dan minimal. Perawatan intensif mencakup layanan oleh seorang perawat dan pekerja sosial; perawatan menengah mencakup perhatian profesional yang agak kurang; perawatan minimal mencakup informasi dan perujukan ke layanan berbasis komunitas. Orang mungkin berharap bahwa penanganan intensif adalah penanganan yang paling efektif, namun setelah setengah tahun berlalu angka kematian pada kelompok perawatan intensif empat kali lebih besar daripada kelompok perawatan minimal! Kelompok perawatan menengah juga lebih baik daripada kelompok perawatan intensif; angka kematian pada kelompok itu “hanya” dua kali lebih besar dibanding kelompok perawatan minimal.

Apa yang terjadi? Terungkap bahwa ternyata faktor utama adalah penempatan di institusi semacam panti wreda. Seseorang sangat diinstitusionalisasikan jika seorang perawat atau pekerja sosial secara intensif terlibat dalam merencanakan perawatan bagi orang tersebut, dan angka kematian yang tinggi terdapat pada para pasien yang tinggal di dalam institusi tersebut. Karena setiap orang ditempatkan secara random di salah satu kelompok penanganan, tidak mungkin bila angka kematian tersebut berhubungan dengan perbedaan yang sudah ada sebelum penanganan tersebut diberikan.

Ada apa sebenarnya di dalam beberapa panti wreda yang dapat berkontribusi terhadap memburuknya kondisi pasien? Pertama, relokasi ke suatu tempat baru itu sendiri menimbulkan stres dan diyakini berperan dalam meningkatnya mortalitas. Setelah tinggal di panti wreda, jangkauan dan karakteristik perawatan mencegah proses rehabilitasi dan bahkan dipertahankannya keterampilan merawat diri sendiri dan berbagai aktivitas mandiri yang dapat dikerjakan oleh penghuni. Contohnya, seorang penghuni yang mampu makan sendiri, namun dengan perlahan dan kadang berceceran, akan dibantu atau bahkan disuapi seperti anak kecil pada saat makan untuk menyingkat waktu yang digunakan untuk melayani makan dan mengurangi ceceran makanan di lantai dan noda di pakaian pasien. Yang terjadi kemudian adalah penghuni tidak lagi berpikir bahwa ia dapat makan sendiri tanpa dibantu, yang kemungkinan akan mengarah ke semakin banyaknya keberfungsian yang hilang dan menurunkan semangat hidup. Otot-otot menjadi lemah dan mengalami kemunduran karena tidak digunakan. Para kerabat yang cemas untuk mengetahui apakah mereka telah mengambil keputusan yang tepat dan apakah orang yang mereka cintai dirawat dengan baik, merasa senang dengan kerapian dan keteraturan yang merupakan hasil keterlibatan staf yang berlebihan dalam semua detail kehidupan.

Selama akhir tahun 1980-an serangkaian penyelidikan mengenai praktik-praktik penelantaran di berbagai panti wreda memicu dilakukannya sejumlah reformasi-oteh pemerintah. Meskipun menghasilkan peningkatan di sebagian besar panti wreda, masih terdapat masalah serius di banyak panti, yang dikonfirmasi baru-baru ini dalam kajian selama 18 bulan yang dipublikasikan pada bulan Maret 2002 oleh Komite Khusus Senat tentang Penuaan. Berbagai kekurangan tersebut menghapus keyakinan bahwa para penghuni secara konsisten memperoleh perawatan sekalipun yang paling kurang memuaskan.

Contohnya, para asisten panti sering kali tidak dilatih secara memadai, bekerja berlebihan, dan digaji rendah dan asisten pantilah, bukan staf panti profesional atau dokter, yang paling banyak melakukan kontak dengan para penghuni panti. Banyak asisten panti tidak dapat berbicara dengan bahasa yang digunakan para penghuni; banyak di antaranya tidak lulus SMU dan tunawisma; beberapa di antaranya memiliki dua pekerjaan dengan total 18 jam kerja dalam sehari. Pergantian staf dalam posisi ini terhitung tinggi. Terlepas dari niat baik mereka, para asisten panti menghadapi sejumlah tantangan yang terlalu besar, sebagian karena pengurangan dana dari pemerintah bagi panti-panti wreda yang berakibat pada beban kerja yang luar biasa berat. Kadang mereka bahkan kekurangan persediaan kebutuhan dasar, seperti popok, sabun, dan tisu toilet.

Dalam sebuah studi yang dilakukan Departemen Layanan Kesehatan California dan Advokasi untuk Reformasi Panti Wreda California, beberapa penghuni menuturkan bahwa mereka pernah terluka, kadang bahkan secara fatal karena kesalahan penanganan dan pengaturan yang dilakukan oleh para asisten panti. Depresi merupakan masalah utama di kalangan para penghuni panti wreda. Jenis intervensi yang diberikan biasanya adalah pemberian obat, dan kemungkinan besar obat psikoaktif yang diresepkan adalah obat penenang dan bukan antidepresanpasien yang tidak terlalu pemarah dan relatif tidak aktif lebih mudah untuk ditangani. Intervensi psikologis hampir tidak pernah terdengar, karena para staf tidak terlatih untuk mengimplementasikannya atau bekerja dengan asumsi yang diyakini secara luas bahwa terapi semacam itu tidak tepat bagi orang lanjut usia. Situasi ini tidak menguntungkan karena intervensi seperti terapi perilaku telah diketahui cukup efektif untuk mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki dan meningkatkan keseluruhan keberfungsian pada para penghuni panti wreda yang mengalami demensia; pada kenyataannya, pemberian obat dapat dikurangi secara signifikan setelah terapi perilaku diterapkan.

Secara ringkas, semua masalah institusionalisasi sangat jelas terlihat dan berlebihan di beberapa panti wreda. Kemandirian dihambat tanpa sengaja, namun dengan konsekuensi yang menyedihkan, dan karena memang diharapkan, terjadi kemunduran fisik serta emosional.

Filed under : Bikers Pintar,