Advertisement

Merupakan pertunjukan cerita tutur di lingkungan masyarakat Sunda, Jawa Barat. Kata pantun dalam bahasa Sunda dan Jawa berarti padi. Pantun sebagai seni tutur masih ada hubungannya dengan pemujaan kepada dewi padi yang disebut Nyi Pohaci atau Kersa Nyai atau Nyi Pohaci Sang Hyang Sri.

Meskipun pada dasarnya pantun merupakan upacara keagamaan asli Indonesia, seni pertunjukan ini sangat dipengaruhi agama Hindu dan Islam. Hal ini tamp pada ceritanya yang diangkat dari jaman kerajaan Hindu, Galuh dan Pajajaran, serta doa-doa sebelum dan sesudah pementasan pantun yang memakai bahasa Arab.

Advertisement

Fungsi pertunjukan pantun masih berhubungan dengan upacara keluarga maupun sosial, seperti kelahiran, khitanan, perkawinan, kematian, ruwatan, dan nazar. Sifat keagamaannya masih tetap kuat meskipun kini lebih menonjolkan segi hiburannya. Juru pantun kebanyakan buta namun dihormati penontonnya karena kekhusyukannya akibat takut kena tulah nenek moyaug jika membuat kesalahan.

Sebelum penuturan cerita pantun dimulai, tuan rumah yang empunya hajat harus menyediakan sesajen berupa ayam bakar, tujuh jenis kue, tujuh jenis rujakan, tujuh jenis minuman, tujuh macam bunga, dan pedupaan lengkap dengan kemenyan. Jika pertunjukan pantun itu untuk upacara ruwat, sesajen tersebut ditambah dengan pucuk daun hanjuang yang diletakkan di mulut kendi berisi air tebu dan daun tebu, uang dalam bokor, cermin, sisir, bedak, minyak kelapa, dan minyak wangi. Semua ini mengisyaratkan peralatan rias yang mengingatkan kepada pemujaan Nyi Pohaci. Sesajen dalam lingkungan masyarakat Kanekes (Badui) lebih sederhana, yakni nasi putih, nasi uduk, kain putih, ayam panghurip, dan pedupaan.

Pola pertunjukan pantun dapat digambarkan sebagai berikut: (1) pendahuluan berupa penyediaan sesajen, membakar kemenyan sambil mengucapkan man-tra (rajah) dan doa, mengumandangkan rajah pamunah (mantra pencegah) yang berisi permohonan kepada para leluhur dan makhluk halus di sekitar tempat pertunjukan. Rajah dinyanyikan dengan iringan kecapi dalam suasana magis-religius; (2) penceritaan pantun yang berisi: bagian pertama protagonis (biasanya putra raja) mendapat panggilan suci (dari dewa) untuk suatu tugas; keberangkatannya untuk mengembara menempuh berbagai pengalaman, bagian kedua ujian ketabahan sang protagonis terhadap maksud baiknya berupa penderitaan, musuh, hambatan, di 1, bagian akhir ujian dan cobaan teratasi, musuh-musuh ditaklukkan, dan sang protagonis memperoleh anugerah dewata menjadi raja di daerah baru; (3) penutup: rajah pamungkas atau mantra penutup.

Penceritaan pantun berlangsung dari jam 21 malam sampai jam 5 pagi. Sekitar tengah malam biasanya ada adegan-adegan humor. Dalam ruwatan biasanya dihidangkan dua cerita, dari jam 21 sampai jam 3 pagi untuk penuturan cerita biasa, sedangkan dari jam 3 sampai 5 pagi cerita Batara Kala. Setelah selesai, orang yang diruwat dimandikan dengan air peru- watan.

Di dalam penceritaan, juru pantun bernyanyi atau berbicara dalam bentuk prosa. Begitu pula dalam dialog antara tokoh cerita. Namun jika narasi berupa pemberian, digunakan bentuk puisi lama. Selama penuturan cerita tersebut juru pantun bernyanyi dan bercerita diiringi kecapi perahu (kecapi indung) dan tarawangsa (rebab), kadang-kadang disertai kecrek, taleot, seruling.

Lakon pantun umumnya memaparkan ksatria kerajaan Sunda Lama, seperti Galuh dan Pajajaran. Lakon yang terkenal antara lain Mundinglaya di Kusumah, Sangkuriang, Ciung Wanara, Sumur Bandung, Sulan- jana, Kidang Pananjung, Badak Singa, Rangga Gading, dan masih amat banyak lagi. Lakon-lakon pantun yang sudah populer di jaman Kerajaan Pajajaran abad ke-16 adalah Langgalarang, Siliwangi, Hatur- wangi. Di lingkungan masyarakat Badui dikenal lakon Langgasari Kolot, Langgasari Ngora, Paksi Keling, Lutung Kasarung, dan sebagainya.

Penelitian cerita pantun masih kurang dilakukan sejak usaha para sarjana Belanda meminta perhatian terhadap jenis sastra dan seni pertunjukan ini pada awal abad ke-20. Sekitar tahun 1969 Ayip Rosidi melakukan usaha transkripsi dan dokumentasi lebih dari sepuluh cerita pantun yang direkam langsung dari seni pertunjukannya. Juru pantun semakin sedikit karena seni pertunjukan ini jarang mendapat tanggapan. Pertunjukan pantun mutakhir agak jauh meninggalkan seni pantun asli, lebih banyak unsur hiburannya dengan memasukkan pesinden serta instrumen gamelan yang lebih lengkap. Kalau biasanya musik pantun bernada pelog, dalam pertunjukan mutakhir sudah masuk nada selendro.

Incoming search terms:

  • pengertian papantunan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian papantunan