PENGERTIAN PARADIGMA ILMIAH ADALAH

136 views

PENGERTIAN PARADIGMA ILMIAH ADALAH – Pembicaraan tentang paradigma ilmiah mungkin sulit dilepaskan dari nama seorang ahli filsafat ilmu pengetahuan, Thomas Kuhn (1972), yang lebih dari tiga dekade yang lalu mengembangkan konsep kajian paradigmatik sebagai upaya untuk mempelajari anomali-anomali dalam sejarah ilmu pengetahuan. Anomali-anomali itulah, menurut Kuhn, jika diperjuangkan secara konsisten, bisa berkembang menjadi suatu para-digma dalam ilmu pengetahuan. Kebanyakan ahli filsafat ilmu penge-tahuan masa kini sependapat bahwa ilmu pengetahuan berkembang sebagai proses akumulasi tampaknya tidak dapat lagi dipertahankan. Kemajuan ilmiah tidak dapat lagi dianggap sebagai pertambahan demi pertambahan secara eksklusif (Kuhn, 1972: 52; lihat juga Anderson, 1989; Little, 1991). Ilmu kimia modern dibangun dari penolakan, bukan pertambahan, terhadap ilmu kimia klasik. Teori relativitas Einstein di-bangun di luar teori fisika Newton, tapi sangat sukar mengatakan bahwa para ilmuwan pada masa Newton kurang ilmiah atau kurang rasional pendekatannya dibandingkan ilmuwan modern (Kuhn, 1972: 19). Lalu apa perbedaan antara perkembangan ilmu pengetahuan karena per-tambahan dengan penolakan (anomali)? Mengapa dan bagaimana ilmu pengetahuan berubah dan berkembang? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyebabkan paradigma ilmiah perlu dibicarakan (Kuhn, 1972; Anderson, 1989; Little, 1991).

Pengertian paradigma yang kedua di atas adalah apa yang disebut Kuhn (1972: 78) sebagai eksemplar [penekanan dengan cetak miring, oleh penulis] —yang berarti contoh yang bermutu tinggi dari penelitian yang sukses yang ditanggapi sebagai model ideal oleh para anggota komunitas ilmiah yang bersangkutan. Komunitas ilmiah terdiri dari individu-individu yang secara esensial memiliki pendidikan yang sama, tujuan yang sama, dan mengacu kepada perbendaharaan kepustakaan yang sama. Komunitas ilmiah dicirikan oleh komunikasi yang relatif intensif di kalangan para anggotanya dan kesepakatan yang relatif bulat dalam hal penilaian profesional dalam peringkat atau jenjang mereka. Pendek kata, komunitas ilmiah terdiri dari para ilmuwan yang memiliki bersama eksemplar yang sama. Etnografi mengenai masyarakat Trobriand yang dibangun Bronislaw Malinowski (1922) dapat dianggap sebagai sebuah eksemplar.

Jika kita simak lebih lanjut dari kedua pengertian di atas, pengertian yang pertama—paradigma sebagai konstelasi keyakinan dan teknik — adalah yang paling berpengaruh. Kuhn  menyebut paradigma dalam pengertian ini sebagai “matriks disiplin”. Beberapa ahli lain menggunakan istilah-istilah seperti “program penelitian” (Lakatos, 1974), “tradisi penelitian” (Laudan, 1977), dan “strategi penelitian ilmiah” (Harris, 1979). Matriks disiplin mendefinisikan masalah bagi penelitian dan membangun spesifikasi metode-metode penelitian yang sesuai. Hal ini khususnya penting untuk memahami bagaimana ilmu pengetahuan itu bekerja. Teori dan fakta adalah saling memasuki (interpenefr- ating): Jenis-jenis pertanyaan yang kita ajukan menentukan jenis-jenis jawaban yang kita peroleh, dan itulah sebabnya mengapa Scholte (1980: 76-77) mengatakan bahwa “arti penting dari suatu posisi paradigma akan mengemuka tatkala kita berhadapan dengan “fakta”.

jadi, paradigma terdiri dari asumsi dan -prinsip ontologis dan epistemologi khusus yang meliputi pula prinsip-prinsip teoretis, yang berdasarkan prinsip-prinsip tersebut teori-teori khusus yang dapat dibuktikan dibangun (Kuhn, 1972: 78). Yang terpenting kita catat adalah bahwa paradigma memberikan ranah yang sesuai bagi suatu kajian yang di dalam ranah tersebut prinsip-prinsip epistemologi dan teoretis diterapkan. Ketika suatu paradigma ditegakkan, paradigma ini menghimpun sejumlah teori eksplanatoris tertentu. Teori akan menjadi elcsemplar apabila sukses diterapkan untuk mengeksplanasi.

Suatu disiplin ilmiah dapat mencakup satu atau lebih paradigma. Mengikuti Kuhn (1972) dan Harris (1979), penulis menggunakan istilah paradigma yang berarti matriks disiplin atau strategi penelitian ilmiah. Secara umum paradigma sinonim dengan apa yang disebut aliran pemikiran disiplin. Dalam antropologi, misalnya, kita mengenal beberapa paradigma yang saling bersaing untuk meraih dan memelihara kesetiaan pengikutnya. Partikularisme historis dan difusionisme adalah contohcontoh paradigma antropologi yang tidak lagi populer dalam komunitas antropologi masa kini. Akan tetapi, perlu kita ingat bahwa paradigma itu sendiri tidak dapat dibuktikan benar atau salah. Yang penting adalah apakah suatu paradigma mampu mendukung argumentasi-argumentasinya dengan bukti-bukti yang sesuai dan konsisten dengan prinsipprinsipnya. Teori-teori yang spesifik yang dihasilkan oleh suatu paradigma ilmiah bisa atau seharusnya dibuktikan dalam kerangka paradigma itu sendiri.

Lalu apa yang terjadi dengan paradigma dalam perkembangan ilmu pengetahuan? Kuhn mengatakan bahwa “secara normal ilmuwan bergelut dengan urusan memecahkan teka teki yang dilontarkan oleh paradigma di mana ilmuwan tersebut berpikir. Kegiatan ilmiah yang normal terdiri dari upaya-upaya untuk memperluas pengetahuan mengenai fakta-fakta yang ditunjukkan (atau, mungkin lebih tepat kalau disebut, didefinisikan) oleh paradigma”. Selanjutnya, ilmuwan menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk memusatkan perhatian pada tiga lapangan kegiatan para.digmatis pokok: pertama, menentukan fakta-fakta yang dimiliki; kedua, membandingkan faktafakta tersebut dengan prediksi teoretis paradigma; dan ketiga, untuk menunjukkan dan mengartikulasikan prinsip-prinsip teoretis paradigma (Kuhn 1972: 25-28). Menurut Kuhn, kegiatan-kegiatan tersebut me-nunjukkan “ilmu pengetahuan normal”, yakni “proses kumulatif secara umum yang melalui proses tersebut keyakinan-keyakinan yang diterima dari suatu komunitas ilmiah diungkapkan, diartikulasikan, dan diperluas.

Meskipun Kuhn berpendapat bahwa kegiatan ilmiah normal tidak bermaksud mengevaluasi secara kritis asumsi-asumsi dasar suatu teori, namun tak berarti ia meninggalkan kriteria pembuktian sebagai standar esensial legitimasi ilmiah. Ia banya m.engingatkan bahwa dalam praktik ilmuwan tidak—dan tidak akan—dapat melakukan pembuktian secara ketat berdasarkan kriteria tersebut. Pembuktian tanpa kompromi mendorong teori-teori ilmiah hanya akan diperlakukan “hitam” atau “putih-ditolak atau diterima. Dengan cara tertentu, setiap kejadian, gejala, atau data dapat dipandang memperkuat atau melemahkan teori. Sebagaimana dikemukakan Kuhn (1972: 16): “Tidak ada teori yang mampu memenuhi syarat yang berat itu.” Dalam ilmu pengetahuan normal, tidak ada bukti diskonfirmasi yang secara mutlak konklusif; beberapa penyesuaian atau modifikasi teori selalu mungkin terjadi. Lakatos (1974: 97), misalnya, mengemukakan bahwa “pembuktian dogmatik (dogmatic falsification)

tidak lagi dapat dipertahankan.” Tentu saja pendapat Kuhn tidak sepi dari kritik. Lakatos (1974:178) mempertanyakan, “apa saja faktor-faktor yang membangkitkan kesadaran ilmuwan akan adany’ a anomali? Kapan ilmuwan merasa tak puas dengan paradigma mereka?” Menurut Lakatos inilah salah satu masalah paling serius dari pendapat Kuhn, bahwasanya oetidak ada penyebab rasional yang kuat bagi munculny-a “krisis” yang dikemukakan Kuhn”. Ilmuwan yang memiliki komitmcn kepada paradigma tertentu mengetahui dengan tepat apa yang diharapkan dalani konteks “kesesuaian teori-pengamatan”, dan oleh karena itu seharusnya ia sudah dapat menduga terlebih dahulu kemungkinan munculnya terjadinya fakta-fakta baru, yang dalam pandangan Kuhn ilmuwan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk mengantisipasi. Seperti dikemukakannya, “kegagalan aturan-aturan ilmiah yang ada adalah awal dari munculnya pengkajian baru”.

Paradigma yang lebih produktif lebih baik daripada paradigma yang kurang produktif. Kuhn setuju dengan hal ini karena ia berpendapat bahwa para ilmuwan memandang paradigma `yang lebih baik’ apabila memiliki `ketepatan, ruang lingkup, simplisitas, guna, dan sebagainya’ yang lebih daripada paradigma yang lain (1972: 61). Namun, hal ini masih meninggalkan pertanyaan mendasar yang belum terjawab mengenai apa yang menimbulkan kebimbangan di kalangan ilmuwan mengenai keberlakuan paradigma yang mereka ikuti. Mengapa dan bagaimana paradigma lama ditolak demi munculnya paradigma baru? Kuhn sendiri mengakui belum dapat menjawab persoalan ini (lihat, Lakatos 1974). Dalam konteks probabilitas, perubahan besar ilmu pengetahuan (yang sering kali diistilahkan dengan `revolusi’ ilmiah) diilhami sebagian oleh kegagalan aturan-aturan ilmiah (scientificrute-s-r) yang ada dan sebagian oleh daya tarik aturan-aturan ilmiah yang baru yang menjanjikan. Aturan-aturan ilmiah yang baru, tentu saja diciptakan untuk memecahkan persbalan ketidakberhasilan aturan-aturan ilmiah yang lama, tetapi aturan-aturan ilmiah lama, sekurang-kurangnya sebagian, tetap menjadi landasan bagi aturan-aturan yang baru. Saling penetrasi antara fakta dan teori selalu terjadi.

Incoming search terms:

  • tampil dengan paradigma sukses arti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *