Advertisement

Adalah sarana terorganisasi yang mempertemukan permintaan dan penawaran dana jangka panjang. Permintaan akan dana jangka panjang datang dari perusahaan-perusahaan swasta maupun pemerintah untuk memulai atau memperluas usaha, misalnya membuka pabrik baru atau memperluas pabrik yang sudah ada, membangun jalan tol, seperti yang dilakukan oleh PT Jasa Marga. Penawaran dana jangka panjang datang dari masyarakat, baik yang langsung aemasuki pasar maupun tidak langsung, yaitu melalui tabungan yang berada di bank atau lembaga-lembaga keuangan lainnya. Jadi dana mengalir dari masyarakat ke dunia bisnis melalui sistem perbankan dan pasar modal.

Untuk mempermudah penarikan dana dari masyarakat, permintaan modal dari dunia bisnis diwujudkan dalam bentuk penawaran saham atau obligasi kepada masyarakat di pasar modal. Saham adalah bukti ikut memiliki sebagian perusahaan, sedang obligasi ada- iah surat piutang jangka panjang kepada perusahaan yang mengeluarkan obligasi. Atas bukti kepemilikan itu, pemegang saham akan memperoleh sebagian laba perusahaan yang disebut dividen dan pemegang obligasi akan memperoleh bunga. Saham dan obligasi tersebut di Indonesia sering disebut efek. Karena dalam pasar modal diperjualbelikan efek, pasar modal juga sering disebut Bursa Efek.

Advertisement

Perusahaan yang berhasil menarik dana dari masyarakat melalui penjualan efek di pasar modal akan menyimpan seluruh atau sebagian dana tersebut ke bank dalam bentuk rekening giro, atau deposito. Pada hakikatnya dana yang bersangkutan tidak keluar dari sistem perbankan. Perubahan yang terjadi hanyalah struktur kepemilikan dana. Pemilik modal yang semula berstatus penabung pada bank, sekarang dapat langsung turut memiliki atau menjadi piutang perusahaan yang mengeluarkan efek. Di samping itu, bank dapat menyalurkan dana yang berasal dari masyarakat ke dunia bisnis, sehingga bank akan memperoleh penghasilan baik berupa dividen ataupun bunga dari dunia bisnis. Penghasilan ini sebagian akan diberikan kepada penabung sebagai bunga. Dengan demikian sebenarnya pasar modal merupakan “sumber penghidupan pokok” bagi dunia perbankan.

Saham dan obligasi, selain mempunyai nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum dalam lembaran saham atau obligasi, juga mempunyai nilai kurs, yaitu nilai atau “harga” yang benar-benar terjadi di bursa. Tingginya nilai kurs ini ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran terhadap saham atau obligasi yang bersangkutan. Jika permintaan atas suatu saham tertentu meningkat karena bonafiditas perusahaan yang meningkat, nilai kurs akan cenderung meningkat, dan sebaliknya. Nilai kurs akan naik atau turun mengikuti permintaan dan penawaran. Karena nilai kurs yang berfluktuasi, pasar modal juga berkembang menjadi arena bagi para spekulator yang ingin mendapatkan keuntungan dari situasi ini. Pada waktu nilai kurs suatu saham turun, spekulator memborong saham tersebut sebanyak-banyaknya dan akan menjualnya pada waktu nilai kursnya naik kembali dan diperkirakan mencapai puncaknya. Spekulator tersebut akan memperoleh keuntungan berupa capital gain.

Dari gambaran di atas jelas bahwa pasar modal berfungsi sebagai alat untuk mengerahkan dana dari masyarakat agar lebih produktif. Di satu pihak pemilik dana yang menganggur mendapatkan hasil berupa dividen atau bunga, di lain pihak dunia bisnis memperoleh dana untuk pembiayaan perluasan usaha. Kita melihat pula bahwa tanpa pasar modal manajemen dana bank sulit dilaksanakan secara efektif. Karena itu, pemerintah Indonesia selalu berusaha agar pasar modal dapat berkembang sebaik-baiknya untuk menunjang program-program pembangunan yang sedang dilaksanakan.

 

Advertisement