Advertisement

Pasar selain merupakan tempat bertemunya kelompok orang dengan kebutuhan yang berbeda dan tempat bertemunya bentuk mata pencarian yang berlainan. Pasar tradisional (Gambar 8.49) pada awal perkembangannya adalah tempat untuk menukai hasil mata pencarian antarkelompok masyarakat dari daerah yang berbeda. Masyarakat di daerah pedalaman yang membutuhkan bahan dan barang dari daerah tepi, akan bertemu di suatu tempat tertentu dengan orangorang dari daerah tepi yang memerlukan bahan dan barang dari daerah pedalaman. Harga dan nilai barang sangat ditentukan oleh benda-benda yang dibawa oleh masing-masing anggota atau kelompok masyarakat. Bentuk hubungan pertukaran ini dikenal sebagai ‘sistem barter/ Peristiwa ini biasanya terjadi pada masyarakatmasyarakat di daerah pedalaman. Masyarakat Mentawai misalnya biasa menukarkan telur ayam peliharaannya dengan benda-benda kebutuhan pangan. Mereka juga biasa menukarkannya dengan rokok dan pakaian, atau menukarkan rotan dengan

pakaian atau rokok, tembakau, gula, kopi dan lainnya sebagai kebutuhan makanan pokok dan sekunder.

Advertisement

Keanekaragaman masyarakat dalam hal mata pencariannya dan keanekaragaman kebutuhan masyarakat dalam kehidupan kesehariannya, menyebabkan pasar tradisional lambat laun berkembang mengikuti kekhasan dari benda-benda yang diperjualbelikan serta hari-hari yang muncul akibat sistem pertukaran yang terjadi. Di beberapa daerah Jawa misalnya, pasar dengan kekhasan benda-benda yang dipertukarkan atau dijual berkaitan erat dengan hari-hari pasaran dalam kebudayaan Jawa, yaitu pasar legi, pahing, pon, wage, dan kliwon. Sementara itu, dalam masyarakat lain di luar kebudayaan dan suku bangsa Jawa, pasar mengikuti hari-hari dalam kebudayaan Arab seperti pasar jum’at, kamis, ahad, raba’a, selasa, senayan, dan seterusnya.

Daerah tempat pertukaran hasil bumi ini kemudian berkembang menjadi daerah ramai sebagai arena perdagangan atau pertukaran, dan sampai sekarang berkembang dengan menggunakan sistem uang. Daerah-daerah pasar ini biasanya terus berkembang semakin luas dan di sekitar pasar akan tumbuh permukimanpermukiman penduduk, dan lambat laun pasar ini berubah menjadi sebuah kota kecil dan selanjutnya menjadi kota besar. Beberapa kota di Indonesia terbentuk karena adanya pasar-pasar tradisional.

Pasar-pasar tradisional ini kemudian juga berkembang dengan kekhasan barang-barang yang dijajakannya, seperti pasar barang kelontong, pasar buahbuahan, dan bahkan ada pasar-pasar yang hanya menjual buah-buahan tertentu, seperti pasar pisang, pasar mangga dan sebagainya. Selain itu terdapat juga, misalnya pasar hewan, yang berkembang karena kebutuhan masyarakat akan daging, seperti pasar sapi, pasar kambing dan pasar kerbau.

Di daerah Sumatra Barat, terdapat pasar hewan ternak sapi yang dijual dengan cara spesifik dan hanya ada dalam kebudayaan Minangkabau. Cara penjualan adalah dengan berpegangan tangan yang ditutupi kain sarung, dan transaksinya dilakukan di dalam kain sarung. Jari jemari melambangkan nilai rupiah, kepalan adalah juta, ibu jari dan ruas jari melambangkan lima ratusan ribu sampai pada yang nilainya kecil, yaitu puluhan ribu rupiah. Sistem ini dikenal dengan sebutan sistem rosok.

Sementara itu, jenis-jenis hewan seperti itik, ayam, dan aneka burung biasanya disediakan di pasar burung. Pasar semacam ini merupakan pasar untuk kebutuhan kesenangan (hobby), bukan pasar kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di pasar ini juga dijual bahan-bahan makanan unggas. Pasar burung banyak terdapat di semua daerah permukiman baik perkotaan maupun pedesaan.

Incoming search terms:

  • pengertian pasar hewan
  • apa yg dimaksud dengan pasar legi
  • Arti pasar tradisional
  • makalah pasar hewan
  • penger tian tentang pasar pon
  • pengertian pasar legi
  • pengetian pasar legi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian pasar hewan
  • apa yg dimaksud dengan pasar legi
  • Arti pasar tradisional
  • makalah pasar hewan
  • penger tian tentang pasar pon
  • pengertian pasar legi
  • pengetian pasar legi