Advertisement

PENGERTIAN PASOLA – Suatu upacara yang dilakukan untuk menyambut masa permulaan penanaman padi di daerah Sumba Barat. Sekitar 60 persen penduduk di daerah masih menganut agama asli yang disebut merapu, vang menekankan pemujaan arwah nenek moyang, ijoacara ini dilakukan pada permulaan tahun, yaitu uiuh h ri setelah terang bulan kedua dan ketiga, tetapi {anggamya tidak selalu sama setiap tahunnya.

Kata pasola berasal dari kata bola atau sola, yang artinya sebatang kayu. Pada masa lalu, para pendekar Sumba Barat selalu menggunakan tombak untuk saling membunuh lawannya, oleh sebab itu upacara ini dapat digolongkan upacara pengorbanan. Sebelum melakukan upacara ini, penduduk setempat selama sebulan penuh harus menjalani berbagai pantangan, misalnya dilarang membunyikan tambur dan gong, dilarang menangisi mayat, dsb. Bulan itu dianggap sebaga bulan suci yang disebut bulan nyale. Nyale adalah sejenis cacing laut yang muncul setahun sekali dan berhubungan erat dengan pelaksanaan pasola.

Advertisement

pada saat bulan purnama, Rat o V bu Bewi (imam utama yang memimpin upacara) yang berdiam di atas bukit Ubu Bewi muncul dan mulai bersemadi untuk menentukan datangnya nyale dan saat mengadakan pesta. Bila waktu sudah diketahui, Rato memanggil para pendeta dari setiap kabizu (kampung) untuk menyampaikan hal tersebut kepada penduduk. Dua hari sebelum upacara pasola dilangsungkan, penduduk melakukan upacara pajura, yaitu doa yang dilanjutkan dengan acara tinju yang diiringi lagu ratapan tentang seorang gadis yang berpisah meninggalkan sanak keluarganya karena mengikuti suaminya. Hari berikutnya penduduk mulai berlatih mengendarai kudanya masing-masing.

Malam harinya, sebelum pasola dilakukan, di atas bukit Ubu Dewi diadakan upacara. Di dalam rumah suci sudah ada tujuh orang rato dan seorang ibu tua yang menjaga rumah. Bersama dengan beberapa wanita, ibu tua tersebut membuat ketupat yang akan diguna m sebagai sesaji bagi nyale di pantai. Sekitar pukul Oi.OO pagi, tatkala bulan sudah tinggi, para rato ke luar dari rumah suci dan duduk di atas dua buah batu besar yang menghadap ke arah pantai. Rato utama mulai membacakan doa lalu berdiri dan memanggil nyale dengan nada tinggi: “wu… wu… wu…” Selanjutnya para rato diiringi oleh ibu-ibu yang membawa ketupat, ayam hidup, sirih, pinang, dsb. mulai menuruni bukit dengan teriakan yang sama. Demikian juga penduduk dari kabizu-kabizu yang turut mengiringi para rato.

Ketika fajar mulai menyingsing, Rato Ubu Bewi turun ke laut dan berjalan di antara dua batu karang yang disebut pintu nyale. Ia membungkuk memberikan ketupat kepada nyale dan mulai mengambil cacing-cacing itu dengan tangan, yang kemudian diikuti oleh penduduk lain. Cacing-cacing yang berwarna merah muda, putih, hijau, biru, dan abu-abu itu dimasukkan ke dalam cuka, lalu dicampur dengan cabai merah dan hijau, kemudian disantap sebagai sambal. Menurut adat, setiap orang sebaiknya membagikan nyalenya kepada para tetangga agar hasil panen mereka sama-sama baik. Rato Ubu Bewi bisa meramal tentang hasil panen yang akan datang dari keadaan Cacing-cacing itu. Bila cacingnya banyak dan gemuk, berarti panen akan berhasil baik; bila cacingnya saling menggigit berarti akan ada serangan hama tikus; bila nyalenya membusuk berarti panen akan terganggu oleh hujan; bila nyale tidak muncul berarti akan terjadi bencana parah; dsb.

Kira-kira pukul 8 pagi, upacara pembukaan pasola dilakukan. Rato mulai membacakan syair sambil mengacungkan tombak yang ujungnya berhiaskan rambut manusia. Syair ini dijawab oleh rato-rato lainnya. Isi syair itu adalah seruan kepada merapu agar merestui dan menyaksikan upacara pasola yang akan segera dilangsungkan. Setelah itu, dilakukan pemotongan ayam oleh rato yang kemudian memeriksa hati ayam tersebut. Selesai upacara ini, penduduk berbondong-bondong pindah ke ujung pantai untuk menyaksikan pasola.

Inti pasola adalah pertandingan antara dua kampung dengan mengajukan jagoan masing-masing ke medan laga. Para pendekar itu mengenakan pakaian adat, yaitu hinggi (sarung) berwarna-warni dan hiasan kepala khas. Kuda tunggangannya pun dihiasi pita, bulu ayam, dan giring-giring. Mereka tidak menggunakan pelana dan sanggurdi, tetapi menggenggam beberapa tongkat kayu (dahulu tombak) di tangannya. Begitu acara dimulai, kedua pihak mulai melemparkan tongkatnya sekuat tenaga ke arah lawannya untuk saling menjatuhkan. Penduduk percaya bahwa bila ada darah yang tertumpah, panen akan berhasil baik. Suasana yang semakin panas tidak jarang mendorong para peserta menghunus parangnya dan siap berlaga. Tetapi biasanya ada petugas keamanan yang selalu siap melerai. Apabila ada peserta yang sudah jatuh, ia tidak boleh diserang lagi.

Sekitar pukul 10.00, pasola yang pertama selesai dan beristirahat sebentar. Pasola kedua dimulai dan para rato membaca syair kembali, para pendekar melarikan kudanya, melemparkan tongkat kayu sambil meneriakkan pekik kemenangan, dan darah pun mulai bercucuran. Upacara ini dilakukan hingga sore hari. Keesokan harinya upacara tanam padi dimulai dan suasana panas yang terjadi kemarin sudah terlupakan.

Incoming search terms:

  • Makalah Pasola sumba
  • Makalah tentang pasola
  • pengertian pasola
  • apa itu pasola
  • makna upacara adat pasola
  • tujuan pasola sumba
  • makalah pasol
  • makalah tentang pasola sumba
  • tujuan upacara adat pasola sumba
  • makna dari pasola

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Makalah Pasola sumba
  • Makalah tentang pasola
  • pengertian pasola
  • apa itu pasola
  • makna upacara adat pasola
  • tujuan pasola sumba
  • makalah pasol
  • makalah tentang pasola sumba
  • tujuan upacara adat pasola sumba
  • makna dari pasola