PENGERTIAN PEMBAGIAN KERJA MENURUT JENIS KELAMIN DAN KETIDAKSAMAAN – Ada berbagai cara masyarakat dalam menentukan orang-orang untuk peranan pekerjaan menurut jenis kelamin. Beberapa kegiatan seperti pembuatan tembikar, menenun, hortikultura – yang diperuntukkan bagi kaum wanita dalam heberapa masyarakat dan diperuntukkan bagi kaum pria dalam masyarakat lainnya. Tetapi, meskipun terdapat perbedaan-perbedaan itu, ada sejumlah pekerjaan yarig secara konsisten diperuntukkan hanya bagi kaum pria dan lainnya secara konsisten diperuntukkan hanya bagi kaum wanita dalam sebagian besar masyarakat di dimia ini.

Dengan menggunakan contoh 185 masyarakat, Murdock dan Provost (1973) telah berusaha untuk mengidentifikasi pekerjaan-pekerjaan yang paling konsisten untuk “maskulin” dan “feminin” yang dapat dijumpai di selurub dunia. Mereka mengidentifikasi pekerjaan maskulin yang paling konsisten sebagai berik ut: memburu binatang; mengerjakan logam; melebur pekerjaan soldir; pekerjaan pertukangan kayu; membuat instrumen musik; menangkap dengan perangkap; membuat kapal; pekerjaan batu; mengerjakan lang-tulang, Mnduk, dan kulit kerang; menambang; mengangkut; dan lain. Pekerjaan feminin paling konsisten ialah yang mencakup mengumput bahan bakar, mempersiapkart minuman, meramu dan menyediakan bahan makanan dari tumbuh-tumbuhan liar, produksi bahan siisu, mencuci, rne_ ngambil air, dan memasak. Kaum wanita secara ekstensif di seluruh dunia terlihat di dalam mengasuh anak dan melakukan kegiatan umum dalarn rumah tangga. Pada umumnya, kegiatan-kegiatan yang secara konsisten diperuntukkan bagi kaum pria ialah kegiatan-kegiatan yang memerlukan kekuatan fisik yang lebih besar, tingkat resiko dan bahaya yang lebih tinggi, sering ke luar dari rumah, tingkat kerja sama kelompok yang lebih tinggi, masa latihan teknik yang lebih lama, dan tingkat keterampilan yang lebih tinggi (Parker dan Parker, 1979). Sebaliknya, kerja sama feminin secara konsisten, relatif kurang berbahaya, cenderung lebih bersifat mengulang, tidakmemerlukan konsentrasi yang intens, lebih mudah terputus-putus, dan kurang memerlukan latihan yang intensif dan keterampilan yang rendah (Parker dan Parker, 1979). Yang mendapat perhatian lebih besar dalam bab ini ialah status relatif dari jenis-jenis kelamin itu;sejauh mana jenis-jenis kelamin ditempatkan dan dinilai secara tidak sama, maupun sejauh mana masyarakat manusia berpusat pada kaum pria atau wanita. William Divale dan Marvin Harris (1976) telah mengidentifikasi adanya supremasi material, sosial, dan ideologis kaum pria yang tersebar luas dalam masyarakat kecil dan kesukuan. Mereka mencatat bahwa lembaga-lembaga supremasi pria dalam masyarakat-masyarakat itu dinyatakan dalam berbagai cara. Praktek-praktek perkawinan dan kekerabatan, misalnya, menunjukkan asimetri jenis kelamin di dalam organisasi mereka. Patrilokalitas dan virilokalitas — bentuk-bentuk kediaman sesudah nikah yang diorganisir mengikuti pria — kira-kira delapan kali lebih sering dibandingkan dengan matrilokalitas dan uksorilokalitas bentuk-bentuk kediaman sesudah nikah mengikuti wanita. Selanjutnya, patrilini pelacakan keturunan mengikuti pria — kira-kira lima kali lebih umum bila dibandingkan dengan matriluli — pelacakan keturunan melalui wanita. Lagi pula, malahan masyarakat-masyarakat matrilineal menempatkan otoritas atas masalah-masalah rumah tarigga di tangan pria, bukannya wanita. Asimetri jenis kelamin yang mencolok juga tampak dalam praktek-praktek perkawirum, oleh karena poligini — perkawinan seorang pria dengan beberapa isteri — dapat dijumpai 141 kali lebih sering bila dibandingkan dengan poliandri — perkawinan satu wanita dengan beberapa pria.

Asimetri jenis kelamin adalah karakteristik yang terletak pada sektor ideologis masyarakat suku dan band. Divale dan Harris mencatat di sini adanya kepercayaan yang luas yang memberi penekanan pada rendalmya kaum wanita. Kaum wanita secara luas, dalam banyak masyarakat, dipercayai sebagai sumber dosa dan polusi, dan terdapat aturan-aturan tabu berhubungan dengan mereka, khusus selama masa haid. Selanjutnya, dewa-dewa laki-laki jumlahnya melampaui dewi-dewi wanita, dan pahlawan pria jumlahnya melampaui pahlawan wanita. Dalam banyak masyarakat, kaum pria mengancam kaum wanita dengan kedok, gemuruh sapi, dan alat-alat suci lainnya. Asimetri jenis kelamin dalam sektor ideologi juga terungkap oleh adanya preferensibudaya yang tersebar luas untuk anak-anak laki-laki suatu preferensi anak pertama haruslah laki-laki. Masih banyak contoh mengenai pranata-pranata sosial suku dan kumpulan (band) berpusat pada pria yang dapat ditambahkan pada daftar yang diberikan oleh Divale dan Harris. Kegiatan ritual pria pada umumnya jauh lebih sering dan luas bila dibandingkan dengan kegiatan ritual yang dihubungkan dengan wanita; masyarakat rahasia laki-laki tidak mempunyai mitra wanita; kaum laki-laki mendominasi bidang kegiatan ekonomi prestise; pekerjaan yang dilakukan oleh kaum wanita pada umumnya sesuai dengan status yang lebih rendah bila dibandingkan dengan yang dilakukan oleh laki-laki; dan kaum wanita sering tertimpa pelecehan fisik yang serius (misalnya, perkosaan), sementara jarang, jika ada, terhadap laki-laki. Bagaimanapun, lembaga-lembaga yang asimetris menurut jenis kela-min terbatas pada masyarakat-masyarakat kumpulan dan suku. Sebaliknya, masyarakat pada tingkat evolusi yang lebih maju ternyata mempunyai bentukbentuk subordinasi wanita yang baru dan sering lebih intensif. Dalam masyarakat agraris, masalah-masalah ekonomi dan politik secara ketat terorganisasi di bawah kontrol laki-laki, dan wanita disisihkan ke dunia pribadi dan rumah tangga. Dalam kebanyakan masyarakat demikian, kegiatan kaum wanita sangat ketat diawasi, dan sering terdapat perhatian khusus terhadap seksualitas kaum wanita. Singkatnya, status kaum wanita di dalam masyarakat agraris, pada umumnya, demikian rendalmya sehingga mereka diperlakukan seperti orang yang belum dewasa dan yang bergantung. Dunia agraria adalah dunia yang hampir seluruhnya berpusat pada dan didominasi oleh laki-laki.

Filed under : Bikers Pintar,