Advertisement

Dalam monarki kebijaksanan berpengaruh pada banyak hal, dengan sesedikit mungkin keutamaan. Sebagaimana dalam mesin yang paling baik, seni telah mengurangi jumlah gerak per dan roda.
Marilah kita bandingkan apa yang dinyatakan para seja-rawan sepanjang sejarah mengenai istana raja-raja; marilah kita mengingat kembali percakapan dan perasaan orang di semua negeri mengenai kelakuan keji para petinggi istana; maka akan kita dapatkan bahwa semua itu bukan hal yang dibuat-buat melainkan kebenaran yang didukung oleh pengalaman yang menyedihkan dan kelabu.
Ambisi dalam kemalasan, kepicikan bercampur dengan keangkuhan, keinginan menjadi kaya tanpa usalaa, kebencian akan kebenaran, puja-puji yang berlebih-lebihan, peng-khianatan, pelanggaran janji, memandang rendah kewajiban kenegaraan, rasa takut akan keutamaan seorang penguasa yang benar, harapan dari kelemahannya, dan di atas segalanya itu cemoohan yang tiada hentinya terhadap keutamaan; semuanya itu—menurut saya—merupakan ciri-ciri khas sebagian besar petinggi istana sepanjang sejarah, dan negaranegara terus-menerus dibedakan berdasarkan itu. Dewasa ini para pemimpin bangsa amat sulit untuk menjadi bajingan; dan sulit juga bagi orang-orang yang lebih rendah untuk menjadi jujur; karena para pemimpin itu memang merupakan penipu; dan bawahannya sudah puas hanya dengan menjadi orang-orang yang mudah dibohongi.
Akan tetapi, seandainya ada kesempatan untuk menjadi orang jujur yang malang di antara orang banyak, dalam surat pernyataan politiknya Cardinal Richelieu agaknya menyindir bahwa seorang penguasa hendaknya berhati-hati dan tidak mempekerjakan orang seperti itu. Jadi, benarlah bahwa keutamaan bukanlah sumber atau asal mula pemerintahan ini! Tentu saja, keutamaan memang tidak disingkirkan, tetapi keutamaan bukanlah sumber pemerintahan ini.

Kini sudah saatnya saya membahas pokok permasalahan ini, atau kalau tidak, saya akan dicurigai telah menulis suatu puisi berbau sindiran terhadap pemerintahan monarki. Semoga saya dijauhkan dari hal itu; apabila monarki menginginkan sumber keberadaannya, monarki itu akan memperoleh yang lain (dari keutamaan). Kehormatan yang merupakan prasangka dari tiap orang dan kelas sosial, menyediakan tempat bagi keutamaan politik yang selama ini saya bicarakan, dan di mana pun memiliki wakil ke-hadirannya: di sini kehormatan itu mampu mengilhami tindakan yang paling mulia, dan bila dipadukan dengan kekuatan hukum, kehormatan dapat membawa kita pada akhir pemerintahan maupun keutamaan itu sendiri.

Advertisement

Advertisement
Filed under : Uncategorized,