Advertisement

thinking (pemikiran)

Pemikiran manusia telah menjadi obyek penelitian para filsuf maupun psikolog sejak jaman Aristoteles. Sebagai subyek penelitian, pemikiran agak berbeda dari kebanyakan topik lain karena tidak adanya definisi tentangnya, bahkan sampai sekarang. Bagaimana topik ini dibahas dan dipelajari menunjukkan adanya perbedaan aliran tentang pemikiran manusia. Di antaranya, aliran yang tertua dan paling awam bahwa pemikiran berhubungan dengan ‘isi dari kesadaran . Ada tradisi tua dalam filsafat yang berawal dari Aristoteles sampai dengan aliran Empiris British Locke, Berkeley, Hume, dan Mill yang menganut perspektif ini dan melahirkan metodologi introspeksionisme di mana otak mempelajari dirinya sendiri secara langsung. Pandangan tentang pemikiran yang awam, yang tertanam dalam psikologi populer dari budaya kita, juga menganutnya bahwa kita adalah makhluk yang keputusan dan tindakannya dikendalikan oleh pemikiran yang sadar. Dalam psikologi populer, kita menghubungkan penyebab perilaku dengan berbagai keadaan mental yang kita sebut sebagai, keyakinan, motif, niat, keputusan, dan sebagainya.

Advertisement

Konsepsi modem tentang pemikiran dalam metodologi ilmu kognitif adalah sesuatu yang fungsional, yang didasarkan pada anggapan bahwa otak adalah sebuah sistem pemroses informasi yang bekerja seperti komputer. Dengan demikian pemikiran dipandang tidak lebih sebagai pemrosesan informasi tingkat tinggi dalam memecahkan masalah, penalaran, pembuatan keputusan, kreativitas, dan lain sebagainya. Dalam pendekatan ini, pemikiran kurang lebih didefinisikan oleh pengeluaran, sebagai sebuah kategori residual dari proses yang tidak ingin kita ikutsertakan di antara proses-proses yang bertanggung jawab atas persepsi, memori, atau bahasa. Kesadaran hanya sedikit berarti bagi ilmuwan kognitif. Sementara pandangan tentang pemikiran manusia ini diterima oleh beberapa filsuf kontemporer, dikalangan lain mendapatkan tentangan keras (misalnya Searle 1992). Pergeseran radikal baik dari psikologi populer dan tradisi filsafat selama dua milenium terjadi dalam satu abad belakangan dan ini penting untuk dipikirkan bagaimana kejadiannya.

Keyakinan tentang introspeksi sebagai metode untuk mempelajari pemikiran manusia ini semakin menurun karena beberapa alasan. Ketika psikologi muncul sebagai sebuah disiplin yang terpisah dari filsafat pada akhir abad 19, aliran pemikiran yang pertama terbentuk didasarkan atas penggunaan metode introspeksi. Salah satu aliran pemikiran ini, yang bermarkas di Universitas Wurzburg Jerman di sekitar pergantian abad ini, menghasilkan hasil yang pada saat itu mengejutkan dan sekaligus menakjubkan (Hump- rey 1951). Pasien diminta menggambarkan proses pemikiran yang dialaminya sembari menjalankan sebuah tugas sederhana yang kadang-kadang tidak mampu menunjukkan gambaran atau bentuk-bentuk pemikiran konknt yang lain; kadang-kadang pemikiran itu ada tetapi tidak dapat ‘dideskripsikan’, kadang-kadang subyek tidak dapat mengidentifikasi pengalaman yang menengahi perilaku mereka. Penemuan dari para psikolog terdahulu itu dibenarkan oleh kajian psikologi modem di mana, sebagai contohnya, tampaknya cukup mudah untuk menunjukkan bahwa perilaku manusia, seperti pembuatan keputusan, dikendalikan oleh ciri-ciri lingkungan di mana mereka tidak menunjukkan kesadaran dalam laporan-laporan introspektifnya. Terlebih lagi, ketika diminta untuk menjelaskan pemikiran mereka, orang sering kali bernalar atau berteori, menyusun kejadian dan sering kali terlampau menyanjung perilaku mereka sendiri (lihat Evans 1989: ch. 5).

Disamping keragu-raguan yang ditimbulkan oleh eksperimen kajian introspeksi, persamaan dari kesadaran dan pemikiran dibayangi oleh dua aliran psikologis besar. Yang pertama adalah gerakan psikoanalitis (Freudian) di mana pemikiran bawah sadar mendapat perhatian besar. Yang kedua adalah gerakan behaviorisme yang dipimpin oleh J. B. Watson pada tahun 1920-an dan sangat berpengaruh dalam psikologi eksperimental sampai pada akhir tahun 1950-an. Dalam pendekatan ini sisi mental dari perilaku manusia ditinggalkan dengan alasan bahwa semua observasi ilmiah harus obyektif dan dapat dilakukan oleh orang lain  ini adalah hal yang tidak dapat dilakukan oleh metode introspektif. Behaviorisme berusaha mendeskripsikan semua peri-laku, termasuk berpikir, dalam pengertian rang-sangan dan tanggapan yang dapat dipelajari (observable stimuli and responses).

Pada tahun 1960-an psikologi kognitif muncul sebagai pendekatan baru yang kemudian diikuti oleh pendekatan-pendekatan yang relevan terhadap bahasa, filsafat, kecerdasan buatan dan neuroscience untuk membentuk sebuah bidang baru multidisipliner yang dikenal sebagai ‘ilmu pengetahuan kognitif. Dalam pendekatan ini kecerdasan didefinisikan sebagai proses komputasi pada tingkat yang abstrak yang mungkin terwujud pada sistem biologis (seperti otak) maupun mesin (seperti komputer). Melalui metafora otak sebagai komputer dan ide berpikir sebagai pemrosesan informasi, psikolog kognitif modern menemukan kembali pemikiran tentang proses berpikir internal. Pada saat yang sama. hanya beberapa orang yang mau memperkenalkan kembali pemikiran yang ditentang oleh kelompok behavioralis yaitu bahwa kondisi mental yang sadar adalah penyebab perilaku.

Telah dipahami bahwa sebagian besar dari proses berpikir sehari-hari bersifat tidak bertujuan dan tidak terbimbing dan ada satu bidang ilmu yang menaruh perhatian pada khayalan tidak berdasar. Tetapi sebagian besar kajian kontemporer tentang pemikiran manusia lebih menitikberatkan pada pemikiran yang ‘terarah’, yaitu pemikiran yang terarah pada pencapaian suatu tujuan. Salah satu titik perhatian kajian semacam ini adalah pemecahan masalah yang berkenaan dengan proses di mana orang mampu mencapai tujuannya melalui cara-cara tidak langsung. Kebanyakan dari kajian ini mempergunakan permasalahan yang telah ‘didefinisikan dengan baik’ (well-defined), seperti permainan anagram (me- mutar-balik huruf-huruf dalam suatu kata sehingga menimbulkan arti yang lain) dan catur, di mana segala sesuatunya jelas sejak awal tujuannya, hambatan-hambatannya, maupun cara-cara untuk mengubah situasi yang ada. Pemecahan dari masalah ini biasanya digambarkan sebagai sebuah pencarian melalui sela-sela permasalahan yang terdiri dari sebuah kondisi awal tertentu, satu atau dua tujuan yang telah ditetapkan, dan sejumlah kondisi antara yang dapat dilalui seseorang dalam permainan. Ini mengarahkan pada program kecerdasan buatan yang berkaitan dengan perkembangan prosedur heuristic untuk mengurangi pencarian yang diperlukan dalam sela-sela permasalahan seperti dalam budaya manusia (Newell dan Simon 1972). Sejak pertengahan tahun 1970-an para psikolog telah menunjukkan perhatian pada pemecahan masalah yang belum tergali secara mendalam, di mana si pelaku harus memberikan bagian-bagian dari spesifikasi permasalahan yang didasarkan atas pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Ini berlaku untuk bidang-bidang seperti kedokteran dan perencanaan sipil.

Yang membedakan pengambilan keputusan dari pemecahan masalah adalah individu harus mengikatkan diri pada sebuah tindakan secara satu per satu, di mana konsekuensinya akan nyata pada jangka waktu tertentu. Dengan demikian, pembuatan keputusan yang baik memerlukan kemampuan untuk mempertimbangkan probabilitas dari kejadian-kejadian di masa depan dan menggunakannya sebagai hasil-hasil yang mungkin dalam membuat pilihan-pilihan. Sebuah riset yang berkembang sejak awal tahunl970-an menghasilkan pendapat bahwa orang menilai probabilitas melalui penggunaan heuristik yang agak kasar yang mengakibatkan kesalahan-kesalahan sistematis seperti terlalu percaya diri dalam melakukan penilaian, peramalan yang didasarkan pada bukti-bukti yang bias, dan pengabaian atas informasi mendasar dalam menilai kasus-kasus khusus. Kesalahan ini mendorong para psikolog untuk berkesimpulan bahwa manusia pada dasarnya adalah pembuat keputusan yang tidak rasional.

Bidang psikologi lain yang juga telah menghasilkan kesalahan dalam percobaan-percobaannya adalah penalaran deduktif. Dalam bidang ini, subyek diminta menarik kesimpulan atas dasar informasi yang disediakan (premis) dengan tampilan yang sesuai dengan norma-norma dan logika formal. Hampir seluruh kajian semacam ini yang dilakukan terutama terhadap orang dewasa dengan tingkat intelejensi di atas rata-rata memperlihatkan cacat logika yang parah. Sebagai contoh, orang sering kali menarik kesimpulan yang ‘cacat’ secara logika, yaitu, kesimpulan yang tidak ditarik dari informasi yang tersedia. Tanggapan mereka dibelokkan oleh berbagai faktor, termasuk bentuk bahasa dari premis-premis serta kesimpulan-kesimpulan yang sebelumnya telah diyakini kebenarannya. Untuk pembicaraan yang lebih mendalam tentang bias dalam penalaran deduktif dan penilaian probabilitas lihat Evans (1989).

Barangkali benar bahwa rasionalitas telah menggantikan pembicaraan tentang kesadaran sebagai isu pokok filsafat tentang kajian psikologis atas pemikiran manusia. Masalahnya, keberhasilan spesies manusia memperlihatkan bahwa kita telah berevolusi untuk mendapatkan intelejensi yang sangat adaptif meskipun kita telah melakukan banyak kesalahan berpikir. Perdebatan tentang rasionalitas telah berkembang sejak pertengahan tahun 1980-an di mana para filsuf membicarakan rasionalitas manusia kendatipun ada bukti psikologis, dan para psikolog terpecah belah atas isu ini (lihat Manktelow and Over 1993). Salah satu argumentasi kelompok rasionalis adalah bahwa sistem normatif yang dipergunakan seperti teori probabilitas dan logika formal adalah ukuran yang sudah tidak sesuai dan tidak memadai lagi untuk mengukur rasionalitas; argumen yang lain adalah bahwa percobaan psikologis mempelajari ‘ilusi-ilusi kognitif yang memiliki keterbatasan dalam penalaran sehari-hari. Sebagai tanggapannya, tidaklah terlampau sulit untuk memperlihatkan bahwa kebanyakan dari efek yang diamati berlaku secara merata terhadap subyek-subyek ahli pembuat keputusan dalam wilayah pemahaman mereka.

Incoming search terms:

  • pengertian pemikiran
  • definisi pemikiran
  • arti pemikiran
  • pemikiran adalah
  • pengertian pemikiran manusia
  • apakah pemikiran itu
  • defenisi pemikiran
  • apa persamaan pemikiran asosiatif dan pemikiran terarah
  • penvertian pemikiran
  • pemgertian pemikir

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian pemikiran
  • definisi pemikiran
  • arti pemikiran
  • pemikiran adalah
  • pengertian pemikiran manusia
  • apakah pemikiran itu
  • defenisi pemikiran
  • apa persamaan pemikiran asosiatif dan pemikiran terarah
  • penvertian pemikiran
  • pemgertian pemikir