Advertisement

Sandbukt (1988:118) menyatakan bahwa sebenarnya Orang Kubu adalah kelompok masyarakat yang mendasarkan dirinya pada pencarian sumber daya tradisional yang ada dalam hutan. Mereka bukan orang-orang yang sepenuhnya termasuk kelompok berburu dan meramu yang selama ini banyak dikenal masyarakat, namun mereka adalah orang-orang yang hidupnya berpindah-pindah (r wmaden)untuk mencari sumber daya hutan yang masih baik di dalam hutan Bukit 12. Bagi Sandbukt, Orang Kubu adalah mata rantai terendah dari alur perdagangan yang ada di Kesultanan Jambi, dan berlanjut hingga ke perdagangan bebas Selat Malaka. Menurutnya Orang Kubu berperan sebagai penyuplai utama komoditaskomoditas bahan perdagangan yang menjadi andalan dari Kesultanan Jambi. Ada beberapa jenis sumber daya tradisional Orang Kubu yang mereka manfaatkan untuk dijual yaitu jernang (Daemonorops sp), damar, getah balam (Palaquium hexandrum Engler), getah jelutung, manau, dan berbagai jenis rotan. Jenis rotan diambil oleh Orang Kubu adalah mulai dari jenis-jenis rotan yang tumbuhnya di perbukitan seperti manau (calamus manan), tetebu, semambu (calamus scipionum), dan balam, hingga yang tumbuh subur di area rawa, misalnya rotan sego (calamus caesus) dan rotan cacing. Macam-macam sumber daya hutan ini sessungguhnya komoditas utama dalam perdagangan pada masa Kesultanan Jambi. Buah jernang digunakan sebagai bahan pewarna kain, getah damar digunakan sebagai perekat kayu kapal, getah jelutung dan balam sebagai bahan pembuat karet.

Namun, dalam perkembangannya semua jenis komoditas tersebut telah mengalami perubahan nilai jual yang disebabkan oleh penemuan bahan-bahan pengganti di pasaran dengan harga jual yang lebih murah dan massal. Seperti damar yang dulu digunakan sebagai penambal dan perekat kayu kapal, sekarang telah digantikan dengan bahan cat atau penambal dari karet. Demikian pula getah balam yang dulunya digunakan sebagai bahan pembuat karet kini digantikan bahan karet sintetis yang mempunyai harga jauh lebih murah. Juga dengan jernang yang dahulu digunakan sebagai bahan pewarna kain sekarang tergantikan oleh pewarna kain buatan pabrik. Selain itu dengan tingkat kerusakan hutan yang cukup parah di daerah Bukit 12, karena penebangan hutan dan pembabatan hutan untuk perkebunan sawit, sumber daya hutan tersebut menjadi sulit untuk dicari.

Advertisement

Orang Kubu Air Hitam sendiri harus berjalan jauh ke arah hulu sungai Kejasung dan Mengkekal diman menjadi daerah pengembaraan Orang Kubu Mengkekal untuk mencari sumber daya hutan di atas. Menurut keterangan Melimbu, keberadaan jernang (daemanorops draco) sudah tidak ditemukan lagi di daerah hutan Air Hitam. Demikian pula halnya dengan jenis tanaman lain seperti rotan. Hanya sedikit rotan yang tersisa di dalam hutan Bukit 12. Kalaupun ada, lokasinya jauh masuk di dalam hutan. Kelangkaan ini disebabkan oleh pengambilan rotan tanpa diikuti penanaman atau sekadar membiarkan alam menghasilkannya kembali.

Advertisement