Scottish Enlightenment, social theory (Pencerahan Skotlandia, teori sosial)

Pencerahan Skotlandia (1740-1790) mencakup banyak segi pemikiran yang semuanya mengarah pada teori sosial. Teori tersebut termuat dalam banyak penelitian intelektual, mulai dari karya terkenal Hume (1987 [1741-42] dan Smith (1981(1776]) hingga sosiologi Ferguson (1966 [1767]) dan Miliar (1960 [1779]), antropologi Kames (1774) dan Monboddo (1773) dan banyak karya tentang sejarah sosial, (misalnya, Robertson 1972 [1769]).

Ilmuwan Skotlandia meletakkan sosialitas manusia sebagai fakta yang memiliki bukti pem-benaran. Penjelasan umum terhadap fakta ini adalah bahwa manusia memiliki insting sosial atau hasrat, namun hal ini juga dihubungkan dengan ikatan sosial non-instrumental seperti pertemanan dan kesetiaan. Bagian dari signifikansi komitmen ini ialah kesengajaan menolak konsep kodrati (a state of nature) dan kontrak sosial. Selain aneh, pemikiran-pemikiran ini juga terlalu menekankan pada peran rasionalitas purposif. Bagi ilmuwan Skotlandia, lingkup alasan dibatasi oleh kebiasaan dan konvensi sosial; norma sosial contohnya adalah produk sosiali-sasi. Hal ini juga menandakan bahwa Skotlandia bersikap skeptis terhadap prestasi para tokoh pembuat undang-undang seperti Lycurgus dalam membentuk institusi-institusi sosial. Sebagai kebalikannya, ilmuwan Skotlandia memberi perhatian pada pembentukan institusi yang ber¬sifat kebetulan dan bertahap; dalam kalimat Ferguson yang di kemudian dikutip oleh pembuat teori lain seperti Hayek (I960)- tertulis seperti berikut ini: “nations stumble upon establishments which are indeed the result of human action, but not the execution of any human design.” (berbagai bangsa berada dalam kemapanan yang sungguh-sungguh merupakan hasil tindakan manusia, tapi tindakan ini bukan bagian dari pelaksanaan suatu desain manusia). Ini adalah contoh dari ‘hukum konsekuensi tak terhindarkan’ (law ofunmtended consequences) di mana bentuk klasik pencerahan Skotlandia yang lain adalah tangan yang tak terlihat’ dari Smith, di mana upaya mengejar kepentingan pribadi oleh para individu akan mempengaruhi kepentingan masyarakat.

Pengurangan peran individualisme rasionalis- tis adalah bagian dari usaha ilmuwan Skotlandia untuk menjelaskan institusi sosial sebagai akibat dari sebab-sebab sosial yang saling berhubungan. Mereka berusaha melangkah dari sekadar upaya menghimpun fakta-fakta menuju upaya melacak mata rantai sebab dan akibat. Cara ini biasanya dilaksanakan dengan menulis ‘sejarah-sejarah alamiah’ (natural histories), yang menelusuri perkembangan institusi-institusi penting seperti kepemilikan, pemerintahan, strata, status wanita, dan agama mulai dari kesederhanaan hingga kompleksitas, mulai dari keadaan barbar hingga peradaban. Sebagai sarana penyusun, perkembangan ini terbagi dalam tahap-tahap yang masing-masing memiliki model subsistensi yang berbeda, yaitu berburu, beternak, bertani, dan melakukan pertukaran. Untuk menyusun garis besar perkembangan ini, bukti-bukti dari etnografi kontemporer dan sejarah klasik dikombinasikan dalam menerapkan metode komparatif. Tujuan terpenting dari upaya ini adalah memberi tafsiran yang jelas atas ‘keragaman tiada tara’ (amazing diversify istilah dari Miliar) dari kehidupan sosial.

Ilmuwan Skotlandia mengganggap masyarakat mereka sebagai bagian dari tahap niaga ke empat. Artinya, mereka bukan lagi masyarakat yang tak beradab, nilai-nilainya lebih manusiawi dan menjalankan aturan hukum. Unsur paling menentukan dalam tahap ini adalah perluasan pembagian kerja, yang meskipun telah meningkatkan kesejahteraan material penduduknya tapi juga menimbulkan akibat yang merusak. Ferguson dan Kames mengevaluasi hal ini dengan menggunakan kosa kata korupsi, dan Smith juga melihat konsekuensi buruk dari kebaikan pekerja tapi ia mendesak suatu pemulihan dalam bentuk pendidikan dasar yang dibiayai masyarakat. Bauran antara analisis dan penilaian ini meru-pakan ciri-ciri teori sosial dari Pencerahan Skotlandia.