PENGERTIAN PENDEKATAN MARXIAN – Marxisme klasikberpendapat stratifikasi muncul sebagai akibat dari persaingan yang terus-menerus antar individu atau kelompok untuk memperoleh ekses terhadap sumber daya yang terbatas, yang terpenting diantaranya adalah kekayaan ekonomis, dalam proses produksi, yakni persaingan untuk menguasai modal. Kelompok-kelompok yang memiliki modal —kekuatan produksi yang sangat penting dapat menggunakan kekuatan ini untuk mengeksploitasi sesama dan mengeruk keuntungan untuk diri sendiri. Posisi superior dalam pemilikan modal membuat seseorang dapat menguasai sesamanya. Dan hak istimewa serta kekuasaan yang superior ini akhirnya melahirkan prestise superior. Kelompok dominan, umumnya Inengembangkan ideologi yang dapat melegitimasi kekuatan dan hak istimewanya, membuatnya tampak terhormat dan benar. Sebagai contoh, kapitalisme modern melegitimasi kekayaan dengan menyatakan bahwa mereka mendapatkan kekayaan atas imbalan resiko yang mereka hadapi dari investasi. Disamping itu, mereka mengklaim bahwa aktivitas kewiraswastaan mereka akan membawa kesejahteraan seluruh masyarakat dan, oleh karena itu, menguntungkan semua orang. Pernyataan mereka adalah “apa yang baik untuk General Motor, adalah terbaik untuk negara”. Kaum Marxis kontemporer akan berargumentasi bahwa pernyataan ini adalah satu aspek dari ideologi yang menguntungkan diri mereka sendiri (self-serving ideoiogy), dan oleh karena itu tidak benar. Mereka beranggapan bahwa apa yang baik untuk General Motor (yakni pimpinan puncak dan para manajer perusahaan) adalah sangat buruk bagi negara.

Erik Wright (1979) mengemukakan penelitian yang berharga, yang mencoba menguji pendekatan Marxisme terhadap stratifikasi. Ia memper-gunakan skema kelasnya sebagai alat menganalisis ketidaksamaan pendapatan dalam masyarakat Amerika Serikat kontemporer (skema Wright, tentu saja, menyimpang dari formulasi klasik Marxisme tentang kelas yang mendasarkan atas kekayaan). Wright memulai dengan menentukan apa yang menjadi lan-dasan pendapatan tiap kelas. Para borjuis menerima pendapatannya dengan mengeksploitasi pekerja, dengan cara mengupah mereka kurang dari nilai barang dan jasa yang mereka produksi. Para proletariat menerima pendapatannya dalam bentuk upah yang dibayarkan oleh kapitalis. Tingkat upah ini ditentukan oleh pasar tenaga kerja. Kapitalis berusaha menekan tingkat upah ini serendah mungkin. Pada formulasi klasik Marxisme, keuntungan mereka ditentukan oleh berapa jumlah upah yang dibayar. Tingkat upah pekerja berasal dari kekuatan tawar-menawar para kap italis dan pekerja, dan kekuatan ini ditentukan oleh banyak faktor seperti historis, sosial dan ekonomi (contohnya, tingkat kesatuan para buruh, permintaan relatif terhadap tenaga kerja, dan lain-lain). Anggota kelas petty borjuis tidak mempekerjakan pekerja dan pen-dapatan mereka tidak karena eksploitasi tenaga kerja, sehingga mereka harus mengusahakannya sendiri. Semakin keras mereka bekerja, semakin banyak penghasilan yang didapat. Manajer dan supervisor mendapat pendapatan mereka dari gaji (atau upah) yang dibayarkan oleh kapitalis. Pendapatan mereka sangat erat kaitannya dengan posisi mereka dalam hirarkhi wewenang dalam organisasi. Manajer atasan melakukan aktivitas penting untuk keuntungan perusahaan, sehingga mereka dibayar dengan gaji yang tinggi sebagai dorongan untuk mengerjakan tugas dengan sebaik-baiknya. Seperti ditulis Wright (1979:89) “Perbedaan pendapatan yang tajam antara kelas-kelas dalam struktur hirarkhi adalah penting untuk memperkukuh legitimasi wewenang”. Pegawai kecil menerima pendapatan dari usaha mereka sendiri dan eksploitasi terhadap tenaga kerja. Semakin dekat mereka dengan kelas borjuis, semakin besar pendapatan yang mereka terima dari eksploitasi. Beberapa pegawai kecil seperti ahli hukum, ahli fisika mempunyai tempat berpraktek sendiri (mempekerjakan diri sendiri), menerima pendapatan mereka tidak dengan mengeksploitasi tenaga kerja tetapi dengan kekuasaan mereka atas harga (fees). Pendapatan mereka ber asal dari kemampuan memanipulasi kekuatan pasar sehingga mendapat keuntungan. Pegawai semi-otonom menerima pendapatan mereka melalui gaji. Pendapatan ini biasanya cukup tinggi karena tingkat pendapatan merupakan dorongan untuk terciptanya tanggung jawab dan kreativitas. Prediksi-prediksi Wright tentang tingkat pendapatan kelas-kelas terse-but umumnya didukung oleh kenyataan empirik. Ia menemukan perbedaan pendapatan yang tinggi aii(ara manajer/supervisor dan para pekerja. Di samping itu, pendapatan para manajer/ supervisor, seperti yang diperkirakan, sangat erat kaitannya dengan posisi mereka dalam hirarkhi manajerial. Datadata juga menunjukkan bahwa pegawai rendahan mendapatkan tingkat pendapatan yang tinggi daripada semua kelas kecuali kelas para borjuis. Wright menyimpulkan penelitiannya sebagai berikut (1979:223-224): Adalah ironis bahwa dalam kajian Marxis tentang hubungan ketidaksamaan pendapatan dengan kelas-kelas yang ada, tidak menunjukkan analisis empirik terhadap antagonisme kelas dalam masyarakat sosialis: hubungan majikan dan buruh. Walaupun kita dapat menganalisis posisi kontradiksi kelas antara petty borjuis dan kelas kapitalis (pegawai kecil), kita tidak mampu menganalisis posisi itu dalam kaum kapitalis dengan tepat. Dan kita sama sekali tidak menyentuh apa yang disebut sebagai “kelas penguasa” dalam masyarakat sosialis masa kini. Sebenarnya, penting untuk meneliti pendapatan dalam masyarakat kapitalis sendiri, tetapi tidak mungkin menggunakan data survei saja.

Walaupun demikian, dari analisis hubungan pemilikan modal, terlihat jelas bahwa pemilikan modal yang kecilpun mempunyai konsekuensi tertentu. Pen-dapatan rata-rata pegawai rendahan dua kali lebih besar dari kelas pekerja bahkan, perbedaan pendapatan antara pegawai dan pekerja lebih besar lagi antara pekerja dan para manajer Pendapatan, tentu saja, hanya salah satu cara empirik menunjukkan pembagian kelas-kelas dalam masyarakat. Apabila data tersedia, adalah mudah untuk menunjukkan bahwa kelas, yang ditentukan oleh hubungan sosial produksi, sangat berbeda dalam kaitannya dengan kekayaan dan kekuasaanpolitik. Kekuasaan ekonomi yang sebenarnya atas proses produksi….tetap merupakan landasan yang essensial dalam hubungan distributif, dan dalam setiap penelitian tentang ketidaksetaraan pendapatan perlu mempertimbangkan hubunga’n produksi ini. Selama lebih dari satu generasi, para teoritisi telah menyatakan bahwa stratifikasi dalam wewenang dan/ atau berpengetahuan telah menggantikan stratifikasi kekayaan sebagai pengatur prinsip ketidaksetaraan dalam pendapatan pada masyarakat kontemporer. Hasilnya menunjukkan bahwa kriteria hukum pun digunakan untuk mendefinisikan hubungan pemilikan, dan bahkan ketika sampel tidak memasukkan kelas yang terkaya dalam masyarakat kapitalis, pembagian mereka yang mempunyai mMal dan mereka yang tidak, tetap sangat nyata, dan hal itu semakin substansal dibandingkan perbedaan antara “kelas-kelas terpelajar” atau “kelas-kelas wewenang”. Dalam penelitian terakhir yang berlandaskan kriteria kelas yang telah dimodifikasi dan diperluas, Wright (1985) telah menghasilkan kesimpulan yang hanya sedikit berbeda. Datanya tentang Amerika Serikat memperlihatkan bahwa “manajer ahli” —para manajer dengan tingkat pendidikan yang ting g i dan maju— mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi daripada pegawai rendahan. Data-data tentangbangsa Swedia bahkan lebih mencolok . Data menunjukkan bahwa empat kategori manajer dan supervisor, termasuk mereka yang memiliki pendidikan menengah, mendapatkan lebih banyak darip ada pegawai-pegawai kecil. Secara keseluruhan, data Amerika dan Swedia menunjukkan bahwa pendidikan dan wewenang organisasional adalah penentu utama tingkat pendapatan. Walaupun Wright mencoba menginterpretasikan hal ini dalam kerangka Marxisme, ia mendapat kesulitan dalam melakukannya. Walau bagaimanapun, penghargaan terhadap pendidikan dan wewenang dalam organisasi merupakan hal yang asing dalam pendekatan Marxisme terhadap stratifikasi. Apa yang ditemukannya mendorong digunakannya – pemikiran Weberian dalam upaya untuk mengerti pola-pola stratifikasi kontemporer.

Filed under : Bikers Pintar,