Advertisement

Pasternak menggambarkan gelombang-gelombang kejadian yang berpangkal pada peristiwa atau keputusan politik di pusat, tetapi yang setibanya di pelosok daerah-daerah terasing itu telah berubah sifatnya sehingga tak mirip lagi dengan sifat atau maksud semula. Ia hanya merupakan air pasang yang membanjiri tanah luas serta mengobrak-abrik kehidupan manusia, sebagai salah satu kekuatan di antara kekuatan-kekuatan tandingan lainnya yang tak dikenal asalnya dan tak dimengerti tujuannya. Maka dengan jalan ini Pasternak telah berhasil mengesankan perbedaan proporsi antara manusia dengan kejadian sejarah yang mahadahsyat.

Tak ada tokoh dalam cerita ini yang digambarkan dengan lengkap, bahkan tokoh utamanya, Dr. Zhivago, tak terang wajah dan wataknya, dan ada pengkritik yang menganggap hal ini sebagai kelemahan di dalam buku ini. Akan tetapi, agaknya dengan jalan ini oleh pengarang dibayangkan kecilnya manusia pribadi dan hilangnya dia dalam proses yang impersonal ini, seperti setetes air dalam samudera.

Advertisement

Kita menyaksikan runtuhnya masyarakat lama dan bangkitnya suatu susunan baru. Kita melihat tokoh-tokoh yang turut patah dalam reruntuhan zaman yang sudah, dan tumbuhnya manusia-manusia yang berkat sifat sifatnya, bahkan kadang-kadang berkat kelemahan-kelemahannya, muncul sebentar ke permukaan arus revolusi. Ia menggambarkan betapa orangorang pemegang peranan dalam revolusi sebentar muncul, sebentar lenyap, seperti juga di dalam cerita sendiri. (Lara, kekasih yang cantik Dr. Zhi-vago, akhirnya hilang sebagai suatu nomor yang terlupa di dalam suatu kamp konsentrasi yang tak dikenal.) Ia meiukiskan perubahan watak yang terjadi pada orang-orang ini, serta luka-luka yang berbekas pada jiwa mereka itu. Seorang guru sekolah rakyat berbudi halus, yang menjadi algojo kejam, menjadi sadar kembali. Dan sesudah peranannya tamat, ia dikejar dan akhirnya membunuh diri. Betapa tepat dan dekat gambaran itu bagi kita. Ia menggoreskan kebingungan dan ketakutan, dan juga caracara orang menyesuaikan diri pada keadaan ketakutan itu, ketika all that’s left is the bare shivering human soul, stripped to the last shred (yang tersisa hanyalah sukma manusia yang menggigil menggelepar, tertelanjangi sampai sobekan yang penghabisan), dan ketika orang membujuk, menipu diri, menutup mata bagi sifat pengecut dalam hatinya sendiri, asal selamat saja.

Beberapa pengkritik juga telah mengemukakan bahwa Pasternak terlalu banyak bersandar pada koinsidensi, kejadian yang sangat kebetulan terjadi. Akan tetapi, dilupakanlah oleh mereka bahwa ketika susunan pergaulan hidup manusia begitu dikocar-kacirkan, hampir semua kejadian nampak sebagai koinsidensi, sebab kerangka acuan yang normal dan yang menentukan layak-tidaknya terjadinya suatu peristiwa di dalam rentetan peristiwa yang sudah, telah rusak pula. Setiap orang yang mengalami revolusi akan menyadarinya. Bahkan orang-orang yang di dalam tiap masa pancaroba semacam itu masih dapat menyadari hubungan antara kejadian-kejadian yang satu dengan lain, yang masih dapat merasakan arah gerakan sejarah yang nampaknya tak karuan itu, sebagai pribadi mungkin terhanyut juga di dalam arus sejarah itu sendiri.

Terhadap latar belakang kejadian-kejadian ini dibeberkan riwayat hidup, percintaan, dan runtuhnya tokoh utama, Dr. Zhivago. Ia seorang golongan inteligensia Rusia yang bertradisi revolusioner. Dan ia sendiri pun sangat bersimpati pada timbulnya revolusi, yang dilihatnya sebagai suatu regenerasi dan pembebasan bangsa Rusia.

Tetapi makin lama, dengan merajalelanya paksaan dan teror, makin sukarlah baginya untuk mempertahankan penghargaan intelektualnya terhadap revolusi. Lagipula ia sendiri langsung berhadapan dengannya dalam bentuk dan muka yang seram, kejam, dan tak masuk akal itu. Pasternak, dengan perantaraan salah satu dari tokoh-tokohnya, berkata: This has happened several times in the course of history. A thing which has been conceived in a lofty, ideal manner becomes coarse and material. Thus Rome came out of Greece and the Russian Revolution came out of the Russian enlightenment.

(Ini sudah terjadi beberapa kali dalam perjalanan sejarah. Sesuatu yang selama ini dibayangkan dengan cara yang agung dan ideal ternyata menjadi kasar dan material. Demikianlah Roma muncul dari Yunani, dan Revolusi Rusia muncul dari pencerahan Rusia.) Dr. Zhivago sendiri terhanyut oleh arus revolusi, diombang-ambingkan kian-kemari. Ia mengungsi ke daerah Ural, ia diculik oleh gerombolan Bolshevik dan dijadikan dokternya, terpisah’dari keluarganya yang tak akan ditemuinya kembali. Tetapi dalam segalanya itu, ia tak dapat memihak. Rasa relativitasnya, rangka nilai-nilai yang ada padanya, rasa kemerdekaannya sebagai manusia, tak memungkinkannya turut dengan satu pihak. Namun, ia bekerja terus di mana ia bisa, melakukan pekerjaannya sebagai dokter, sebagai pengarang, dan sebagai penyair.

Tetapi, makin lama makin kentara bahwa tak ada tempat baginya. Ia dicurigai, sebab ia tetap tinggal sendiri, tak tergolongkan. Bahkan saya rasa hanya seorang Indonesia yang mengingat zaman Revolusi akan mengerti artinya ia tak sampai mencatatkan diri di mana pun. Bayangkanlah seseorang dalam masa revolusi tanpa mempunyai surat keterangan! Dan dalam lakon ini terjalinlah juga kisah percintaannya dengan Lara. Tetapi akhirnya ia berpisah dari kekasihnya, dan kembali ke Moskow. Tak ada suatu episode yang lebih mengesankan tragedi manusia, penderitaan gerombolan anak-anak telantar di sepanjang jalan kereta api dengan gerbong-gerbongnya yang ditinggalkan, seperti kisah perjalanan kaki Dr. Zhivago ke Moskow ini. Di Moskow ia makin telantar dan merosot, dan ia mati karena sakit jantung.

Akhir yang lemah, dipandang dari sudut teknik episode yang lebih mengesankan tragedi manusia?

Bagi kita di Indonesia, cukuplah kita melihat di sekeliling kita sekarang ini untuk menyadari bahwa mati lantaran penyakit jantung ini bukan dicari-cari.

Dr. Zhivago sendiri waktu masih sehat telah memberikan keterangan untuk gejala ini. Ia berkata:

“It’s the common illness of our time. I think its causes are chiefly moral. The great majority of us are required to live a life of constant, systematic duplicaty. Your health is bound to be effected if, day after day, you say the opposite of what you feel, if you grovel before what you dislike and rejoice at what brings you nothing but misfortune.

Your nervous system isn’t fiction, it’s part of your physical body, and your soul exists in space and is inside you, like the teeth in your head. You can’t keep violating it with impunity.

(“Ia merupakan penyakit kaprah zaman kita. Saya kira penyebabnya terutama sekali bersifat moral. Sebagian besar dari kita harus menjalani hidup yang konstan dan berulang-ulang secara sistematis. Kesehatan Anda pasti terpengaruh jika hari demi hari Anda mengatakan sebaliknya dari yang Anda rasakan, merendahkan diri di depan apa yang tidak Anda sukai, dan harus bergembira dengan sesuatu yang tak menghasilkan apa pun kecuali kemalangan. Sistem syaraf Anda bukanlah khayalan; ia merupakan bagian tubuh Anda, dan sukma Anda hadir di dalam ruang dan berada di dalam tubuh Anda, seperti gigi di dalam kepala Anda. Anda tak bisa terus-menerus melanggarnya tanpa terkena hukuman.”)

Advertisement