PENGERTIAN PENDIDIKAN SEBAGAI PEMBANGUNAN BANGSA (NATION-BUDDING) ADALAH – Teori yang paling akhir tentEmg sistem pendidikan massal ialah teori yang terutama dikembangkan oleh John Meyer danrekan-rekannya (Meyer, Ramirez, Rubinson, dan Boli-Bemett, 1977; Meyer, Tyack, Nagel, dan Gordon, 1979: Boli, Ramirez, dan Meyer, 1985). Karena tidak adanya nama yang lebih baik, maka saya menyebutnya teori pendidikan sebagai pembangunanbangsa. Para penulis teori ini pada umumnya menolak asumsi utama dari semua teori yang terdahulu, dengan menandaskEm secara khusus bahwa tak satu pun dari teoriteori itu dapat secara memuaskan menjelaskan ciri-ciri spesifik sistem pendidikan massal modern. Mereka menegaskan, ciri-ciri itu terutama adalab sebagai berikut: (1) Sistem-sistem pendidikan massal dimaksudkan menjadi universal, memiliki standar, dan sangat rasional. Dengan kata lain, sistem-sistem ituberlaku bagi se tiap orang menurut cara dasar yang sama, melintasiberbagai garis celah dalam suatu masyarakat (yakni, kelas, etnisitas, agama, ras, jenis kelamin, dan sebagainya). (2) Sistem-sistem pendidikan massal modern sangat melembaga pada tingkat dunia. Sistem-sistem itu sama dalam masyarakatmasyarakat yang sangat berbeda di seluruh dunia,, dan semakin sama sepanjang waktu. (3) Sistem-sistem pendidikan massal secara khusus diarahkan kepada sosialisasi individu sebagai satuan sosial primer. dilihat, misalnya, sejauh mana ritual-ritual pendidikan itu menghormati pilihan dan tanggung jawab individu, bukan termasuknya individu-individu dalam kelompok-kelompok seperti kelas sosial, kasta, atau keluarga luas.

Teori pendidikan sebagai pembangunan bangsa mengatakan bahwa sistem pendidikan massal timbul dalam dunia modern secara khusus sebagai alat sosialisasi individu yang intensif ke dalam nilai dan aspirasi negara-bangsa yang rasional dan modem. Seperti dikemukakan oleh John Boli, Francisco Ramirez, dan Jolm Meyer (1985:158), ” Dalam arti luas, pendidikan massal timbul sebagai suatu proyek yang disengaja untuk membangun pemerintahan modern, membentuk sesuai dengan kepatutan dan tujuan agama, politik, dan ekonomi kolektif”. John Meyer, David Tyack, Joane Nagel, dan Audri Gordon (1979) telah menggunakan garis berpikir ini untuk memahami perkembangan pendidikan Amerika sejak kira-kira tahun 1870 sampai kira-kira 1930. Bertentangan de-ngan Bowles dan Gintis, mereka menekankan bahwa pendidikan massal selama waktu itu bukan semata-mata gejala perkotaan dan industri. Mereka nlenandaskan bahwa pendidikan itu sekurang-kurangnya adalah karakterisGk pedesaan dan, juga perkotaan, dan cenderung lebih penting di daerah desa. Karena itu, pendidikan dimotivasi oleh keinginan segmen masyarakat Amerika yang penting untuk mensosialisasikan anak-anak mereka ke dalam kebu-dayaan nasional baru yang sedang muncul. Kebudayaan ini bersifat kapitalis-tik, rasionalistik, dan sangat individualistik. Sebagaimana dijelaskan oleh para penulis (1979:601):

Salah satu faktor kritis untuk memahami proses keseluruhan ini adalah peranan petani (fariner) Amerika, pendukung kebudayaan kapitalistik yang penting, yang terlibat dalam perhitungari rasional dalam pasar dunia, dan ingin mempertahankan tindakan bebas dalam suatu masyarakat bebas. Suatu ekonomi politik atau pemerintahan moral berdasarkan individuindividu yang bebas — terbebas dari bentuk-bentuk komunitas tradisional dan dari suatu statisme dunia-lama — memerlukan usaha yang besar dan kewaspadaan yang tetap: untuk mendidik individu-individu itu (bebas dari kebodohan), untuk membentuk kembali jiwa-jiwa mereka (bebas dari dosa), untuk menyelamatkan mereka dari subordinasi politik (bebas dari aristokrasi), dan untuk menyelamatkan mereka dari kemalasan (bebas dari kebiasaan-kebiasaan dunia lama). Untuk membebaskan individu-individu demikian dan untuk mengaitkan mereka melalui pendidikan dan penyelamatan dengan suatu Amerika yang baik dan makmur agaknya berada dalamjangkauan warga negara yang bertang-gung jawab. Instansi-instansi pendidikan utama kebudayaan kapitalisrne yang politis individualistik ini—rasional dan universalistik dalampremis-premis tapi han-tpir tak bernegara dalam struktur — adalah pelaku-pelaku yang kewenangannya lebih bersifat moral daripada yang resmi. Mereka tergabung dalam assosiasiassosiasi yang melihat kepada sosok-sosok abad xx seperti gerakan-gerakan sosial —religius dan kelompok-kelompok sukarela lainnya, bukannya organisasi-organisasi yang dilapisi dengan otoritas suatu negara birokrasi. …Kelompokkelompok itu bertindak tidak sekedar untuk melindungi status anak-anak mereka sendiri tapi untuk membangun suatu masyarakat yang makmur dan baik untuk semua anak. Cara berpikir dan bertindak mereka sekaligus bersifat politik, ekonomi, dan religius. Bahwa para penganjur sekolah itu sering sesung-guhnya etnosentrik dan melayani kepentingan religius, politik, dan ekonomi mereka sendiri cukup jelas; tetapi mereka melakukan demikian menurut suatu cara yang sangat luas dengan jalan membagun suatu masyarakat nasional yang diperbesar.

Menurut pikiran saya, teori ini harus banyak merekon-tendasikannya dan agaknya memang masuk akal mengenai ciri-ciri sistem pendidikan modern yang spesifik itu sehingga Meyer dan rekan-rekannya melihatnya sebagai penting. Teori ini tentunya dapat membantu kita memahami bukan saja asal mula pendidikan massal, tetapi juga alasan mengapa pendidikan dasar, dan sampai tingkat tertentu juga pendidikan menengah, telah menjadi demikian menonjol dalam sekian banyak masyarakat di seluruh dunia ini. Teori ini juga dapat membantu kita melihat bagaimana suatu sistem pendidik-an dapat menjadi fokus untuk perjuangan mencapai keberhasilan ekonomi individu. Karena sesua tu alasan, suatu sis tem pendidikan dapat dengan segera dilihat sebagai menawarkan sumber daya yang dapat sangat berguna dalam meningkatkan mobilitas ke atas individu. Akan tetapi, teori ini agaknya tidak memadai sebagai suatu cara memahami banyak perkembangannya dalam pendidikan tinggi, khususnya tentang mengapa pendidikan itu telah meluas sedemikian cepatnya dan demikian substansial dalam beberapa masyarakat. Lagi pula, teori ini mungkin tidak sepenuhnya memadai dalam menjelaskan sebagian besar ekspansi pendidikan menengah. Untuk menjelaskan hal-hal itu saya pikir kita harus kembali kepada argumen inflasi surat kepercayaan (credentials) dari Collins — tapi dengan konsepsi mekanisme tertentu yang diubah, yang mengakibatkan inflasi.

Filed under : Bikers Pintar,