Advertisement

Bagi kebanyakan sarjana dan periset, studi pendidikan adalah berbagai kegiatan investigasi yang berhubungan dengan belajar, biasanya dalam konteks sekolah.Meskipun didominasi oleh psikologi, bidang riset pendidikan dahulu hanya berada dalam domain filsafat. Disiplin-disiplin lain seperti antropologi, ekonomi, politik dan sosiologi, baru belakangan memberi warna, dan kian hari warna itu kian terlihat. Status ilmu pendididikan sebagai bidang studi terapan menyulitkan usaha identifikasi metode atau domain konseptual tertentu yang dapat membedakannya dari bidang studi lain. Namun masalah-masalah yang dipelajari dan metode yang dipakai masih sangat bervariasi dari periset yang satu ke yang lain Hanya saja, dibandingkan dengan ketika masih berada dalam domain filsafat dahulu, kini studi pendidikan lebih banyak dipengaruhi oleh pendekatan perilaku seperti lazimnya ilmu-ilmu sosial, dengan fokus pada cara (means). Sebagai studi terapan, masaiah-masaiah yang dibahas dalam ilmu pendidikan acapkali bersesuaian dengan persepsi para tokoh bisnis, pemerintahan dan media. Misalnya, pada akhir 1950-an dan 1960-an, ketika para pemimpin politik AS sangat mementingkan persaingan pengaruh dan kekuatan dengan Uni Soviet, masalah yang menonjol dalam dunia pendidikan AS di masa itu, seperti terungkap dalam rangkaian laporan tokoh pendidikan James B. Conant adalah kurangnya pemahaman dan penonjolan aspek teknis dan matematika yang sangat diperlukan dalam studi strategis dan persenjataan. Para psikolog seperti Jerome Bruner ikut menyarankan ditingkatkannya pengajaran eksakta mulai di sekolah dasar (Bruner 1960). Pada pertengahan 1960-an, isu yang menonjol adalah hak-hak sipil, dan kurikulum pendidikan pun mulai diwarnai oleh ajaran-ajaran sosial seperti yang disarankan cieh para tokohnya seperti Jean Piaget. Dalam waktu bersamaan, penekanan pada pelajaran eksakta dan matematika yang di masa sebelumnya dianggap sangat penting, mulai merosot meskipun banyak tokoh pendidikan yang menyayangkannya. Konsep persamaan -equality) menjadi fokus baru dalam dunia pendidikan. James Coleman (1968) menyajikan analisisnya dari ribuan sekolah di Amerika, tentang bagaimana pemilahan rasional mempengaruhi kinerja sekolah-sekolah itu. Para periset lain juga mengemukakan temuan mereka tentang kaitan antara prestasi pendidikan dengan ras dan kelas sosial ekonomi yang rendah. Pada masa itu, yang ditonjolkan dalam studi pendidikan adalah berbagai aspek pedagogis yang dicurigai ikut melanggengkan ketimpangan rasial. Coleman (1973) menegaskan bahwa pemilahan rasial memperburuk prestasi sekolah, dan ha! itu pada gilirannya mempertajam ketimpangan antar kelompok rasional, khususnya di kalangan minoritas. Pengutamaan persamaan status dan kesempatan pendidikan kemudian diterapkan secara luas dalam sistem pendidikan di AS. Konsepsi Coleman sebenarnya tidak pernah diterima secara penuh (ia sendiri mengajukannya secara tentatif). Meskipun demikian para politisi dan pembuat kebijakan pendidikan di Amerika mulai menyalurkan sumber daya federal ke berbagai kalangan khusus seperti penyandang cacat, kulit hitam, wanita dan kelompok etnik di Amerika yang tidak berbahasa Inggris.

Usaha-usaha hukum dilakukan pula guna mengatasi ketimpangan rasial di bidang pendidikan guna memberi kesempatan lebih besar kepada para pelajar wanita dan minoritas untuk mengikuti pendidikan lanjutan di univeritas dan sekolah- sekolah profesi. Sebelum munculnya konsepsi Coleman, sudah ada artikel-artikel sejenis seperti yang dilansir Arthur Jensen (1969) yang menyatakan gagalnya program-program kompensasi pendidikan yang mengharuskan peragaman metode pendidikan sesuai dengan tingkat kecerdasan anak. Menurut Jensen, anak-anak ber-IQ tinggi harus diberi metode pendidikan yang berorientasi pada pemecahan masalah, sedangkan yang ber-IQ relatif rendah perlu diberi motode-metode asosiatif. Artikel Jensen ini kontroversial karena tiga hal: ia menegaskan bahwa IQ adalah ukuran baku kecerdasan; 80 persen sumber IQ bersifat turunan; dan secara keseluruhan IQ kaum kulit hitam lebih rendah ketimbang kaum kulit putih. Jensen juga menyatakan bahwa peningkatan kondisi lingkungan belajar dapat memacu IQ. Ia melihat bahwa pada dasarnya IQ antara kaum kulit putih dan kaum minoritas (khususnya kulit hitam) timpang karena perbedaan lingkungan itu yang selanjutnya mendukung aspek genetik yang membuat prestasi pendidikan kaum minoritas secara umum relatif rendah. Terbitnya artikel Jensen mengundang reaksi hebat. Sementara kalangan mempertanyakan metode pengukurannya, dan akurasi IQ sebagai parameter kecerdasan. Keraguan terhadap konsepsi itu menguat ketika kemudian terungkap bahwa Jensen sendiri tidak punya pandangan yang akurat tentang proses belajar asosiatif dan konseptual. Setiap kelompok punya pendekatan sendiri dalam proses belajar, karena faktor-faktor lingkungan, dan ini luput dari perhitungan Jensen. Lagipula, Jensen tidak dapat menyediakan bukti nyata bagi konsepsinya itu. Betapa pun, perdebatan atas konsepsi Jensen itu penting karena sejumlah alasan. Salah satunya, hal itu langsung menyentuh inti persoalan persamaan kesempatan (equality of opportunity). Jika persamaan kesempatan itu ada, maka yang nantinya menentukan hasil adalah kemampuan dari masing-masing pihak. Namun jika ukuran kemampuan itu adalah hasil tes 1Q. maka hal itu akan menyempitkan kesempatan bagi pihak tertentu. Sejumlah ilmuwan, sekalipun tidak terpaku pada hasil tes IQ, beranggapan bahwa persamaan pendidikan sulit dicapai dengan cara apa pun. Pendapat ini muncul sehubungan dengan banyaknya upaya pemerintah di bidang pendidikan yang kelewat ambisius yang kemudian gagal membawa hasil yang diinginkan sehingga justru memperbesar rasa frustasi. Ada beberapa faktor lingkungan seperti perilaku, disiplin dan wawasan di kalangan kelas budaya tertentu yang sulit diubah untuk memacu kualitas pendidikan. Pendekatan ini mengawali studi serius yang mengaitkan pendidikan dengan kelas-kelas sosial para pelajar. Perluasan fokus itu beriringan dengan bangkitnya minat atas pemikiran Mantis yang bertumpu pada analisis kelas, khususnya karya dua ekonom. Bowles dan Gintis (1976). Studi mereka menyimpulkan bahwa sistem sekolah tidak banyak memberi peluang mobilitas, sekalipun ada parameter baku seperti standar IQ, dan bahwa sistem sekolah cenderung melanggengkan dan mensahkan hubungan hirarkis antar-kelas yang lazim dijumpai di berbagai negara kapitalis. Temuan-temuan Bowles dan Gintis itu ditentang atas dasar alasan metodologis. Betapa pun karya mereka diakui penting, dan telah memicu berkembangnya perspektif Marxis dalam studi pendidikan di AS. Perspektif itu sudah lebih dahulu berkembang di Inggris, Eropa Barat umumnya, Australia, dan juga sejumlah negara Dunia Ketiga. Hal ini kemudian menciptakan fokus baru dalam riset pendidikan, dari yang semula bertumpu pada aspek individual ke aspek-aspek sosial, historis, kultural dan politik yang semuanya memiliki konteks yang lebih luas. Perspektif Marxis itu sendiri bermacam-macam. Bagi tokoh pendidikan Brazil, Paulo Freire (1973), perspektif itu tidak hanya bertolak dari analisis kelas khas Marxis, tetapi juga diwarnai oleh pemikiran eksistensialisme Perancis, fenomenologi, dan teologi Kristen. Ada ilmuwan lain yang memilih memadukan analisis Marxis itu dengan pendekatan struktural, seperti yang diterapkan pada studi tentang hubungan antara sistem pendidikan dengan mode produksi hirarkis. Ada pula yang memilih metodologi etnografis, seperti dalam studi tentang peran pendidikan dalam membangkitkan kesadaran kelas. Semuanya ikut memperkaya studi pendidikan yang bertumpu pada analisis kelas. Meskipun penting, pengaruh pemikiran Marxis itu bukan satu-satunya pemberi pengaruh dalam redefinisi studi pendidikan. Ketika ketimpangan sosial menjadi tema utama dalam studi pendidikan, pengaruh Marxisme itu memang menonjol. Tetapi ketika pengangguran mencapai puncaknya di AS, Inggris dan Eropa Barat, maka minat untuk mengaitkan pendidikan dengan penanggulangan ketimpangan sosial pun terhenti karena para pembuat kebijakan lebih memikirkan cara untuk membuat sistem pendidikan dapat memberi sumbangsih bagi berlangsungnya revolusi teknologi demi mengatasi depresi ekonomi dan lonjakan pengangguran. Hal ini kembali menggeser fokus studi pendidikan. Berbagai pemikiran feminis telah memberi pengaruh penting dalam studi pendidikan, terutama berkat fokusnya pada pemilahan proses belajar dan penalaran berdasarkan gender. Aliran pasca modernisme juga memberi pengaruh dalam soal-soal identitas, serta hubungannya dengan pengetahuan. Aspek-aspek non-kognitif dalam sistem sekolah dan pendidikan juga mulai diminati. Sifat terapan dari studi pendidikan, serta kegagalannya untuk berkembang sebagai program riset murni, mengisyaratkan bahwa masa depannya tergantung pada lingkungan ekonomi dan politiknya. Usaha terakhir untuk menciptakan sosok independen atas studi tersebut dilakukan oleh filsuf Amerika John Dewey. Sejak Dewey, studi pendidikan telah bergeser dan mengutamakan analisis konsep serta kejelasan linguistik. Namun pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar seperti kontinuitas dan perubahan pendidikan antar-generasi. serta aspek-aspek normatif dari proses-proses sosial dan budaya yang melingkupi pendidikan, tetap diminati. Meskipun belum banyak usaha yang telah dilakukan untuk mengungkap proses dan pola-pola identitas sosial, kini sudah dimungkinkan dilakukannya identifikasi atas berbagai program yang perlu dilakukan untuk mengembangkan studi pendidikan. Antara lain, analisis jenis pengetahuan yang dimuliakan oleh suatu masyarakat, pengaturan institusional yang ada untuk mengembangkan dan memelihara pengetahuan itu, metode-metode pengajarannya, serta distribusinya di antara berbagai kelompok di masyarakat yang bersangkutan. Program-program seperti ini dapat memelihara karakter inter-disipliner dari studi pendidikan, sekaligus memberi fokus terarah yang sebelumnya sering menjadi persoalan, serta menciptakan tolok ukur untuk menilai praktek pendidikan yang ada.

Advertisement

Incoming search terms:

  • pengertian equality opportunity
  • artikel pengertian equality
  • pengertian equality of opportunity
  • arti equaly of opportunity

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian equality opportunity
  • artikel pengertian equality
  • pengertian equality of opportunity
  • arti equaly of opportunity