Advertisement

Kerja ladang disebut juga dengan (mencari hutan) dan (menebas secara simbolis) itu dilanjutkan dengan tahap penebasan lokasi ladang. Pada lokasi ladang, para pekerja mengawali pekerjaan penebasan ini dengan menghadap ke arah matahari terbit dan dengan begitu pula setelah penebasan selesai dilaksanakan. Menurut orang Rentenukng, adalah tabu bila memulai dan mengakhiri perladangan dengan menghadap ke arah matahari terbenam, karena arah ini adalah simbol kematian.

Tujuan penebasan lokasi perladangan adalah membersihkan semak belukar, membersihkan lantai lahan ladang guna menunjang efisiensi pekerjaan penebangan dan pembakaran ladang pada tahap-tahap berikutnya. Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan ini sangat sederhana yaitu parang pengait yang dibuat dari dahan kayu (agit) dan batu asah (Lahajir, 2001).

Advertisement

Arah penebasan.yang dilakukan oleh pekerja selalu berlawanan dengan arah rebahnya semak belukar yang ditebas. Misalnya lokasi ladang di lereng bukit maka pekerjaan merambat naik, sedangkan arah rebahan semak belukar yang ditebas selalu mengarah ke bawah atau ke belakang. Arah gerakan ini dilakukan dengan teratur. Sebab kalau tidak akan mengganggu pekerjaan penebasan berikutnya.

Pada umumnya pekerjaan penebasan dilakukan pada pukul sembilan pagi hari dan berakhir pada pukul 15 sore harinya. Lamanya pekerjaan sekitar tiga sampai empat minggu berturut-turut, dan dapat lebih. Pekerjaan ini pada dasarnya tergantung pada jumlah pekerja. Ada dua kategori sumber tenaga, yaitu keluarga batih atau rumah tangga, dan orang luar yang dikerahkan. Dengan istilah tonaudimaksudkan bekerja secara giliran atau rotasi oleh satu kelompok kerja tertentu dengan kelompok kerja lainnya yang terdiri dari para pemilik ladang. Jumlah kelompok kerja ini minimal 10 orang dan paling banyak 50 orang.

Advertisement