PENGERTIAN PENELITIAN MENGENAI ORANG ALOR

76 views

Setelah meninjau secara singkat beberapa metoda penelitian kebudayaan dan kepribadian ini, marilah kita lihat sekarang bagaimana sebagian metoda ini digabung dengan metoda-metoda lain dalam sebuah proyek penelitian yang jitu sekali. Cora DuBois bekerja selama 18 bulan di tengah-tengah orang Alor, sebuah pulau di Indonesia. Dipelajarinya bahasa Belanda, bahasa Melayu dan bahasa daerah. DuBois menulis sebuah etnografi umum mengenai Alor, yang juga memuat banyak observasi mengenai tingkah laku; diberikannya percobaan Rorschach kepada 37 orang, percobaan asosiasi kata-kata kepada 36 orang, dan percobaan Porteus mengenai salur jalan yang menyesatkan kepada 55 orang. Dikumpulkannya gambar-gambar yang dibuat oleh 35 anak lelaki dan 22 anak perempuan yang dicatatnya 8 riwayat kehidupan yang cukup panjang.

Dalam proses pembuatan analisa telah diikuti suatu pembaruan yang menonjol sekali dalam proyek ini yaitu prosedur “analisa gelap”, yaitu bahan-bahan proyektif itu diserahkan kepada para ahli yang berbagai ragam, yang sebelumnya tidak diberitahukan apa-apa mengenai kebudayaan Alor itu. Percobaan Rorschach diberikan kepada analis Rorschach, gambar-gambar kepada analis-analis gambar, dan sejarah hidup kepada Abram Kardiner untuk dianalisa. Setiap ahli diwajibkan memberikan gambaran umum mengenai kepribadian orang-orang Alor di atas berdasarkan bahan-bahan yang diberikan itu. Sekiranya ulasan-ulasan mereka sangat berbeda satu sama lain, orang akan cenderung untuk meragukan kebenaran dari metoda yang telah dipergunakan itu. Ternyata bahwa terdapat banyak sekali persamaan di antara laporan itu dan persesuaian dengan kesan yang diperoleh penulis etnografi tersebut. Metoda ini memperkecil kemungkinan adanya prasangka dan subyektivitas dalam deskripsi kepribadian orang-orang Alor itu.

Emil Oberholzer, analis Rorschach, mengatakan, bahwa orang Alor saling curiga-mencurigai dan tidak percaya satu sama lain. Dia memperoleh kesimpulan bahwa mereka itu pasif, tidak kreatif, dan tidak mempunyai sesuatu tujuan yang membutuhkan usaha yang harus dipertahankan. Menurut anggapannya orang-orang Alor itu gampang sekali menyerah kepada ledakan emosi, rasa marah dan keinginan mengamuk. Mereka tidak mengenal rasa persahabatan yang akrab. Analisa gambar-gambar mengemukakan, bahwa anak-anak itu diliputi oleh rasa kesunyian dan tidak memiliki daya kreatif. Kardiner mencatat, bahwa gambar yang berupa ayah tidak dijadikan teladan atau tidak diidealisir dan pembentukan superego mereka lemah .sekali.

Aspek hidup apakah yang menghasilkan gambar yang menyedihkan ini? Kardiner dan Gardner beranggapan, bahwa asalnya ialah kelalaian dari pihak ibu, sewaktu anak-anak itu masih kecil. Dalam masyarakat ini kaum ibulah yang memegang peran utama dalam mencari nafkah; merekalah yang mengerjakan pertanian, sedang kaum pria sibuk dengan penjualbelian babi, gong dan gendang-gendang. Antara 10 hari dan 2 minggu setelah melahirkan bayi, sang ibu kembali ke ladang untuk meneruskan usaha pertaniannya. Bayinya tidak dibawa ke ladang, seperti dilakukan oleji kaum ibu masyarakat lain, tetapi pengasuhan anak itu diserahkan kepada ayah anak tersebut, kakak lelaki atau kakak perempuan, atau kepada neneknya. Dia berada di ladang sehari suntuk. Bayi itu ada kalanya disusui oleh wanita lain, tetapi karena wanita semacam itu tidak gampang ditemukan, anak bersangkutan tidak berkesempatan untuk menetek. Baru sesudah ibunya kembali pulang di senja hari, dia dapat menetek. Menurut DuBois frustasinya semakin meningkat, setelah bayi mulai pandai berjalan. Anak itu tidak lagi digendong-gendong dan dengan demikian kehilangan sentuhan tubuh dan bantuan yang sebelumnya tersedia untuknya. Makannya tidak teratur, diberikan oleh anak-anak dan orang-orang lain. Mengganggu dan menimbulkan rasa cemburu sering dilakukan oleh ibunya sebagaimana juga terjadi di Bali. Secara bergurau anak-anak itu sering digertak oleh orang-orang dewasa dengan pisau dan diancam akan memotong tangan atau telinganya. Ledakan amukan merupakan aspek umum pada masa kanak-kanak orang Alor. Ledakan ini sering timbul waktu ibunya berangkat ke ladang di pagi hari. Anak itu mengamuk marah dan memukul-mukulkan kepalanya ke tanah. Tingkah laku semacam itu baru mulai reda ketika anak itu mencapai umur lima atau enam tahun.

Kardiner dan DuBois mencari penjelasan mengenai sifat kepribadian orang Alor itu dari frustasi di masa kanak-kanak itu. Hubungan antara kaum pria dan kaum wanita di masa de.wasanya selalu tegang; rata-rata terdapat dua kali perceraian pada tiap perkawinan. Menurut para sarjana itu ketegangan antara pria dan wanita itu bersumber pada perasaan ambivalensi yang sejak awal terhadap ibu, dan usaha kaum pria untuk tak henti-hentinya mencari sang ibu yang mengasuhnya. Karena sang isteri tidak dapat memenuhi peran sebagai pengasuh ini, frustasi di kalangan pria melekat terus. Walaupun ada kritik mengenai sebagian dari studi ini. The People of Alor tetap merupakan karya yang mengagumkan. Jika pembaca merasa agak ragu-ragu mengenai beberapa interpretasi analitis itu, dia dapat memeriksa sendiri data-data yang merupakan dasar dari tafsiran tersebut. Riwayat-riwayat hidup meliputi setengah dari buku itu. Juga dimuat banyak gambar-gambar dari anak-anak yang dipelajari. Beberapa catatan Rorschach termasuk di dalamnya, begitu pula analisa yang terperinci yang dibuat oleh Oberholzer mengenai catatan-catatan tersebut.  Presentasi yang sama mengenai data asli dengan interpretasinya sekali, dapat juga ditemukan dalam TrwA:: Man in Paradise dan meliputi sejarah-sejarah hidup, hasil tes Rorschach dan hasil TAT yang telah diubah. Dengan demikian pembaca dapat melihat bagaimana para analis mencapai konklusinya.  Jika interpretasi mereka dianggap tidak mencukupi, data-data itu tetap ada untuk dan kalau diinginkan dapat dipakai untuk menjadi dasar bagi penjelasan-penjelasan lain.

Incoming search terms:

  • arti alor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *