PENGERTIAN PENERIMAAN DALAM TERAPI PASANGAN BEHAVIORAL – Sebuah perkembangan menarik dalam terapi pasangan behavioral (BCT–Behavioral Couples Therapy), sebuah istilah yang tampaknya menggantikan terapi perkawinan behavioral, adalah semakin meningkatnya pemahaman atas pentingnya penerimaan pasangan seraya mencoba mendorong dan mendukung perubahan. Didasari penelitian terdahulu oleh Rogers dan Ellis serta terapi perilaku dialektikal berpendapat bahwa para terapis perilaku telah mengabaikan pentingnya kemampuan seseorang dalam hubungan berkomitmen untuk menerima pasangan mereka seraya pada saat bersamaan mengharapkan dan mendorong perubahan.

Teori penerimaan memiliki riwayat panjang dalam psikologi klinis dan psikiatri, paling tidak sejak masa Sigmund Freud. Sebagaimana diindikasikan oleh Chris-tensen dan Jacobson, penggunaan interpretasi dalam terapi pasangan psikoanalitis dapat mendorong penerimaan yang lebih besar terhadap peri-laku yang tidak menyenangkan dengan menambahkannya pada kepedihan di masa kanak-kanak sehingga menimbulkan rasa simpati bagi pasangan yang berperilaku negatif. Akan tetapi konsep tersebut mendapatkan makna yang lebih dalam melalui kerja Carl Rogers, yang terapinya, yaitu terapi berpusat pada klien didasari oleh keyakinan bahwa “kondisi keberartian” semestinya tidak ditetapkan bagi orang lain. Namun, kita harus mencoba menerima mereka (dan diri kita sendiri) sebagai orang yang berarti yang pantas dihargai setiap saat dalam hidup kita terlepas dari perilaku yang dimiliki. Pendekatan rasional emo tif Ellis juga menekankan penerimaan dengan mendorong orang untuk mengabaikan banyak tuntutan yang (mungkin) diberikan kepada diri sendiri dan orang lain.

Bagaimana Jacobson dan Christensen akhirnya memiliki pandangan bahwa penerimaan merupakan bagian penting yang telah diabaikan untuk keberhasilan terapi pasangan? Dalam pemantauan hasil-hasil studi hasil terapi terdahulu, mereka mengamati bahwa setelah dua tahun, dari dua pertiga pasangan yang telah memperoleh manfaat terapi pasangan behavioral, sepertiganya mengalami kekambuhan. Dengan demikian, meskipun terapi yang diberikan sangat efektif bagi hampir separuh pasangan, tetapi ini, tidak efektif bagi separuh lainnya setelah satu kurun waktu tertentu (2 tahun). Hal ini memicu pertanyaan mengenai kemungkinan adanya sesuatu yang salah atau hilang dalam terapi pasangan behavioral

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, berbagai prediktor hasil yang buruk dari pendekatan ini mencakup telah menikah untuk waktu lama, ketidakterikatan emosional, parahnya masalah yang dialami dalam hubungan, dan peran gender yang dipegang secara kaku. Jacobson dan Chris tensen menduga bahwa suatu faktor atau tema yang sama dengan prediktor negatif tersebut adalah rendahnya kesediaan untuk berkompromi dan mengakomodasi pasangannya. Dan karena terapi pasangan behavioral menghendaki kompromi—dengan, contohnya, berusaha memenuhi harapan pasangan sebagai balasan atas beberapa penguat tertentu tidak mengherankan bila pendekatan tersebut kurang berhasil bagi orang-orang yang tidak bersedia mengakomodasi keinginan pasangannya.

Hal ini mes tinya bukan berita baru bagi setiap orang yang pernah mencoba memediasi masalah perkawinan atau pernah menjalani perkawinan bermasalah. Bila suatu pasangan telah menj alani perkawinan selama bertahun-tahun, dapat terjadi akumulasi kemarahan, rasa sakit hati, kekeceWaan, dan pengkhianatan yang membuat hal seperti memutuskan restoran yang akan dikunjungi pada hari Jumat pun menjadi masalah. Niat baik telah hilang. Motif selalu dipertanyakan. Jika memtingkinkan untuk memberikan interpretasi negatif pada perilaku positif, maka hal itu akan dilakukan. Dan jika terapis perilaku meminta masing-masing dari mereka untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan baik pada pasangannya, tipe pasangan yang carakan oleh Jacobson dan Chris tensen ini bergem- ing atau, jika mereka benar-benar melakukan perubahan spesifik, akan langsung menambahkannya pada instruksi terapis, contohnya, “la tidak sungguh-sungguh menghargai saya atas kebaikan saya di kantor hari ini; ia memuji saya hanya karena Dr. Smith memintanya berbuat demikian.” Bukan suatu bencana bila sesi-sesi terapi pasangan dapat amat sangat menantang bagi terapis dan luar biasa enerjik dan ramai. Faktor lain yang menghambat upaya untuk berubah adalah reaktansi, yaitu resistensi yang dapat dirasakan seseorang bila orang lain mencoba mengubah mereka. Reaktansi kemungkinan menjadi sangat tinggi bila orang yang mencoba memengaruhi tidak dihargai oleh orang yang akan dipengaruhi. Karena terapi perilaku ditandai oleh berbagai upaya terbuka untuk mengubah orang lain, jenis pemberian pengaruh ini tidak mungkin berhasil bila tindakan saling memengaruhi tersebut didorong untuk dilakukan antara dua orang yang hanya memiliki sedikit afeksi dan kurang saling menghargai.

Filed under : Bikers Pintar,