PENGERTIAN PENERIMAAN MASYARAKAT

80 views

Sebagian besar dari dunia dewasa ini berada dalam suatu lingkungan kebudayaan yang mengalami perubahan secara sangat cepat, bahkan di negara-negara yang relatif baru berkembang, unsur-unsur baru dari teknologi (hasil-hasil budaya berupa fisik) dan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun keyakinan-keyakinan baru diperkenalkan dengan kecepatan yang semakin meningkat. Walaupun ada kenyataan tersebut, akan tetapi waktu yang dibutuhkan oleh suatu gagasan ide-ide, maupun keyakinan-keyakinan dan hasil-hasil budaya berupa fisik, untuk diterima oleh mamasyarakat secara luas masih terlalu besar. Dengan demikian, dapatlah difahamkan bahwa proses penerimaan suatu gagasan-gagasan, ide-ide, maupun keyakinan-keyakinan serta hasil-hasil budaya berupa fisik yang baru (inovasi) merupakan suatu rangkaian tahap, artinya bahwa terdapat tahap-tahap tertentu yang harus dilalui oleh seorang individu untuk sampai pada suatu tahap akhir, yaitu tahap adopsi. Namun demikian, kemungkinan ada tahapan yang tidak dilalui, oleh karena ada faktor-faktor tertentu yang dimiliki dan merupakan sumber pemberi per-cepatan dalam menerima inovasi. Misalnya, ide keluarga berencana, pendidikan yang cukup tinggi, me-rupakan suatu faktor yang dapat mempercepat penerimaan ide itu, dalam arti mau melakukannya. Pada umumnya tahapan yang harus dilalui itu adalah:

  1. Pengenalan, di mana seseorang mengetahui adanya inovasi dan memperoleh beberapa pengertian ten-tang bagaimana inovasi itu berfungsi.
  2. Persuasi, di mana seseorang berkenan atau tidak berkenan terhadap inovasi.
  3. Keputusan, di mana seseorang terlibat dalam kegiatan yang membawanya pada pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi.
  4. Komfirmasi, di mana seseorang mencari penguat bagi keputusan inovasi yang telah dibuatnya. Pada tahap ini mungkin terjadi seseorangmengubah keputusannya jika ia memperoleh informasi yang bertentangan.

Selanjutnya, dalam menelaah kecepatan pene-rimaan oleh masyarakat, perlu pula disebutkan sifat- sifat inovasi yang dapat mempengaruhi kecepatan penerimaan tersebut, sebab di dalam masyarakat ternyata ada inovasi yang membutuhkan waktu lama (mungkin puluhan tahun) untuk dapat menerima inovasi itu secara luas, akan tetapi adapula inovasi ter-tentu yang cepat dapat diterima. Ciri-ciri dari inovasi yang lebih mudah dapat diterima adalah:

  1. Inovasi itu harus memiliki suatu keuntungan relatif
  2. Compatibility, suatu istilah untuk menyatakan sejauh mana gagasan-gagasan baru itu sesuai dengan nilai-nilai dan pola-pola tingkah laku yang sekarang ini dianut oleh masyarakat.
  3. Complexity; (kekompleksan). Bila inovasi itu terlalu rumit dan orang perlu mempelajari prosedur-prosedur yang terlalu banyak, besar kemungkinan bahwa inovasi tersebut akan ditolak.
  4. Divisibility; maksudnya keutuhan dari suatu inovasi. Ada benda-benda yang tidak dibagi-bagi dalam unit yang lebih kecil, akan tetapi ada pula yang dapat dibagi-bagi. Seorang petani misalnya, akan lebih tidak keberatan untuk mencoba satu karung pupuk urea (karena ia dapat dibagi), daripada harus membeli sebuah mesin yang mahal dan digunakan secara utuh.
  5. Communicability; maksudnya benda-benda atau hal-hal tersebut dengan mudah dapat dilihat atau disampaikan.

Sehubungan dengan penerima (masyarakat) Rogers dan Shoemaker menyatakan bahwa berdasarkan laju (percepatan) adopsi, para penerima dapat dibagi dalam lima kategori, yaitu adalah:ide baru. Orang-orang semacam ini tidak keberatan mengambil resiko walaupun kadang-kadang mereka akan mengalami kegagalan untuk menguji kebenaran suatu gagasan baru.

  1. Pelopor: Si Tauladan; adalah pemimpin lokal dan sudah tentu dihormati dikalangan masyarakat setempat. Ciri-ciri dari golongan ini adalah: memiliki umur yang relatif lebih muda, status sosialnya lebih tinggi, juga memiliki posisi finansial yang lebih baik.
  2. Pengikut dini : Penuh Pertimbangan; dengan motto “bukan yang pertama dan bukan yang terakhir”, mungkin dapat melukiskan mereka ini. Golongan ini mengikuti dengan penuh pertimbangan dalam pengadopsian.
  3. Penganut akhir : Skeptis; adalah orang-orang yang mengadopsi inovasi setelah rata-rata anggota sistem sosial menerimanya. Pengadopsian terjadi mungkin karena kepentingan ekonomi atau karena bertambah kuatnya tekanan sosial. Mereka baru mau percaya pada ide baru itu jika norma-norma sistem jelas-jelas menerima inovasi itu.
  4. Si kolot : Tradisional; adalah orang-orang yang paling akhir mengadopsi suatu inovasi. Mereka ini adalah yang paling sempit pandangan wawasannya diantara semua kelompok adopter, banyak di an-taranya hampir terasing. Referensi bagi kelompok laggard adalah masa lalu.

Pembagian masyarakat ke dalam kategori di atas dalam kecepatan menerima ide-ide, gagasan-gagasan, maupun keyakinan-keyakinan baru memang beralasan, oleh karena seperti dinyatakan oleh Muchtar Buchori dan Wiladi Budiharga di dalam “Sosok Orientasi Social Budaya Pada Tiga Komunitas Di Sulawesi Selatan” , bahwa “dalam komunitas Pole wali yang tampak menyolok ialah adanya persaingan an-tara dua kelompok yang menganut pandangan hidup serta gaya hidup yang berbeda. Pada satu fihak kita lihat kelompok pemangku adat dan alim ulama yang hidup secara lugas, taat kepada tradisi-tradisi yang mereka warisi, serta bersikap hati-hati menghadapi gaya hidup yang baru yang dapat disaksikan di ma-syarakat perkotaan. Sepintas lalu gaya hidup kelompok ini memberikan kesan “konservatif’. Pada lain fihak kita jumpai kelompok pejabat yang nampak berlomba-lomba memasuki pola-pola perilaku baru, yaitu pola-pola perilaku yang banyak diikuti oleh golongan mampu di kota-kota besar. Kelompok ini sepintas lalu memberi kesan “modern” Komunitas Polewali ini barangkali dapat disebut masyarakat di- khotomis yang sedang mengalami konflik kultural, kehilangan ekuilibrium kultural, oleh karena ma-suknya nilai-nilai baru yang belum dapat dicernakan”.

Dengan demikian, pada umumnya dalam konsep perubahan terdapat konsep reaksi yang bersifat ganda. Kadang-kadang, reaksi yang diperlihatkan berupa suatu penolakan yang keras dan tegar di lain kesempatan, reaksi itu berupa suatu pelukan hangat. Dan mungkin ada pula ide perubahan yang dinyatakan diterima, ya tidak, tetapi dinyatakan di tolak, juga tidak. Untuk membuktikan bahwa suatu ide perubahan mendapatkan penolakan yang keras dan tegar dikutip suatu tulisan yang disajikan oleh Peter L. Berger, dalam Piramida Pengorbanan Manusia sebagai berikut.

Di sejumlah negara-negara Afrika, pemerintah masing-masing negara telah menetapkan kebijaksana-an agar setiap daerah ikut ambil bagian dalam pem-bangunan sekolah-sekolah. Menteri pendidikan negara itu telah membentuk suatu regu-regu penyuluh ke desa-desa tempat sekolah-sekolah baru direncanakan akan dibangun. Demikianlah, suatu rapat desa diadakan orang. Jika (diharapkan oleh pemerintah) para penduduk desa itu menyetujui proyek pembangunan sekolah ini, mereka harus mendirikan sendiri bangunan tersebut dan juga perumahan untuk guru. Pemerintah akan menyediakan tenaga guru, peralatan mengajar, termasuk buku-buku pelajaran. Anda tentu beranggapan bahwa tugas regu penyuluh ini tidaklah berat, bukankah sekolah kini telah menjadi salah satu kebutuhan pokok yang diinginkan bahkan oleh penduduk-penduduk desa yang letaknya terpencil. Tetapi, dalam kisah ini, kejadiannya tidaklah demikian. Penduduk desa ini, terutama paraketua desa, sangatlah menentang gagasan-gagasan mendirikan sekolah ditempat mereka.

Incoming search terms:

  • pengertian penerimaan
  • penerimaan masyarakat
  • definisi penerimaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *