Advertisement

Sehubungan dengan masalah pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, tidak berlebihan kiranya di sini dikemukakan sebuah kesan dari seseorang yang turut memprihatmkan keadaannya. Sebagai pengamat media massa yang semestinya berperan sebagai pengemban bahasa standar, kita sering mengalami keresahan, tidak lain karena membaca atau mendengar pemakaian bahasa secara “ceroboh” atau “kikuk” (clumpsy).

Timbullah dugaan bahwa si penulis atau pembicara kurang berketerampilan menyusun karangan atau ucapan menurut pola bahasa yang rapi. Mungkin pula kekacauan bahasa itu merupakan pencerminan dari pikiran yang kalut. Memang ada pengaruh timbal-balik antara bentuk bahasa dan struktur pikiran kita. Alam pikiran yang tidak disiplin dan dibudidayakan serta diberi struktur, akan diekspresikan sebagai bahasa yang kacau. Sebaliknya, bahasa yang tak menentu bentuknya akan mempunyai umpan balik kepada alam pikiran. Lama-kelamaan proses itu secara kumulatif menimbulkan bencana: bahasa Indonesia tidak dapat berfungsi lagi sebagai alat untuk berpikir diskursif.

Advertisement

Padahal pada masa kita menghadap pertumbuhan bahasa nasional yang pesat ini, justru sangatlah dibutuhkan pemolaan yang mantap agar dapat dicegah suatu perkembangan yang liar dengan segala akibatnya di dalam alam pikiran. Masalah ini perlu menjadi butir pembicaraan tersendiri. Dalam rangka pembahasan ini, cukuplah dikemukakan bahwa pelajaran bahasa anak didik kita di balai pendidikan perguruan tinggi belum memadai untuk membekali para siswa dengan keterampilan memakai bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Memberikan pengetahuan tentang bahasa adalah satu hal, membudidayakan bahasa pada anak didik adalah perkara lain. Di lingkungan perguruan tinggi, dalam bidang humanioralah masalah itu perlu digumuli dan dipikirkan cara-cara mengatasinya.

Para dosen, seluruh jajaran guru, mahasiswa, sastrawan, penyiar, dan seluruh barisan komunikator di semua bidang perlu menyadari pentingnya peran mereka sebagai pengemban bahasa standar.

Sebagai homo symbolicus, manusia berkomunikasi dengan memakai lambang-lambang. Tujuannya, melakukan bermacam-macam fungsi sosial pada umumnya, melaksanakan integrasi sosial khususnya.

Di samping bahasa dan seni sastra, pelbagai cabang kesenian merupakan bentuk-bentuk simbolis yang menjadi alat utama dalam menjalankan interaksi (simbolis) dalam masyarakat. Dengan bentuk-bentuk simbolis itu, manusia mampu mengobjektivikasikan pikiran dan perasaannya, sikap, motif, cita-cita, harapan. Pendeknya, semua pengalaman hidupnya.

Karya seni sebagai fakta mental meneruskan kepada semua anggota masyarakat, khususnya generasi yang mendatang, seluruh perbendaharaan kebudayaannya. Karena itulah fungsinya sangat esensial dalam proses sosialisasi atau pendidikan. Pembentukan identitas dapat difokuskan pada lambang-lambang, dan dengan demikian menciptakan solidaritas dan orde konsensusnya. Orde sosial senantiasa menuntut sosialisasi warga masyarakatnya menurut sistem nilai-nilai tertentu.

Bagaimana penghayatannya dalam situasi kongkret atau skenarionya, memerlukan contoh-contoh.

Incoming search terms:

  • pengertian penggunaan bahasa
  • pengertian penggunaan
  • pemgertian pemakaian bahasa
  • definisi penggunaan bahasa
  • pengertian pengguna
  • maksud dari penggunaan bahasa
  • perbedaan penggunaan bahasa maksudnya ?
  • pengertian perbedaan pengguna bahasa adalah
  • pengertian pengunaan
  • pengertian perbedaan pengguna bahasa

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian penggunaan bahasa
  • pengertian penggunaan
  • pemgertian pemakaian bahasa
  • definisi penggunaan bahasa
  • pengertian pengguna
  • maksud dari penggunaan bahasa
  • perbedaan penggunaan bahasa maksudnya ?
  • pengertian perbedaan pengguna bahasa adalah
  • pengertian pengunaan
  • pengertian perbedaan pengguna bahasa