PENGERTIAN PENGUKURAN BEHAVIORAL DAN KOGNITIF

96 views

PENGERTIAN PENGUKURAN BEHAVIORAL DAN KOGNITIF – Pengukuran tradisional berpusat pada pengukuran struktur dan karakter kepribadian yang tersembunyi, seperti obsesivitas, paranoia, berhati dingin (coldness), agresivitas, intelegensi, dan sebagainya. Para ahli klinis yang berorientasi behavioral dan kognitif, di sisi lain, dipandu oleh suatu sistem yang mengarahkan mereka untuk mengukur empat macam variabel, yang kadangkala disebut dengan akronim SORC (Kanfer & Phillips, 1970).
• S yaitu stimuli, situasi lingkungan yang memicu masalah. Contohnya, ahli klinis akan mencoba menemukan situasi bagaimana yang cenderung menimbulkan kecemasan.
• O yaitu organismik, merujuk pada faktor-faktor fisiologis dan psikologis yang diasumsikan bekerja “di bawah kulit”. Mungkin kelelahan amat sangat yang dialami pasien sebagian disebabkan oleh konsumsi alkohol secara berlebihan atau oleh kecenderungan kognitif untuk mengkritik diri sendiri yang terwujud dalam pernyataan seperti “Saya tidak pernah bertindak benar, jadi apa gunanya mencoba?” Ini merupakan area yang menjadi fokus pengukuran tradisional.
• R yaitu respons-respons yang terlihat. Aspek ini mungkin mendapatkan perhatian terbanyak dari para ahli klinis behavioral, yang harus menentukan perilaku yang bermasalah, juga frekuensi perilaku, intensitas, dan bentuknya. Contohnya, seorang klien mengatakan bahwa ia mudah lupa dan sering menunda pekerjaan. Apakah maksudnya ia tidak menjawab telepon, datang terlambat dalam pertemuan, atau keduanya?
• Terakhir, C yaitu berbagai variabel konsekuen (consequent, variable) berbagai kejadian yang menguatkan atau menghukum perilaku terkait. Bila klien menghindari situasi yang ditakutkan, apakah pasangannya menunjukkan rasa simpati dan pengertian sehingga tanpa sengaja mencegah orang tersebut menghadapi ketakutannya?
Ahli klinis yang berorientasi behavioral akan berupaya untuk menspesifikkan faktor-faktor SORC bagi setiap klien. Seperti sudah diduga, variabel O kurang diperhatikan oleh para penganut Skinner, yang lebih memfokuskan pada stimuli dan respons-respons yang dapat diamati, dan varibel C mendapatkan perhatian yang lebih sedikit dibanding variabel O dari para terapis perilaku yang berorientasi kognitif karena paradigma yang mereka anut tidak menekankan penguatan.
Informasi yang penting bagi pengukuran behavioral atau kognitif diperoleh melaluibeberapa metode, termasuk pengamatan perilaku secara langsung dalam kehidupan nyata dan dalam situasi yang direkayasa, wawancara dan alat ukur self-report dan berbagai metode lain dalam pengukuran kognitif (Bellack & Hersen. 1998).
Sulit untuk mengamati sebagian besar perilaku ketika perilaku tersebut benar-benar muncul, dan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengendalikan di mana dan kapan perilaku tersebut muncul. Untuk alasan ini, banyak terapis merekayasa berbagai situasi di dalam ruang konsultasi atau di dalam laboratorium sehingga mereka dapat mengamati bagaimana seorang klien atau suatu keluarga berperilaku dalam suatu kondisi tertentu. Sebagai contoh, Barkley (1981) menempatkan seorang ibu dan anaknya yang hiperaktif bersama-sama dalam suatu laboratorium yang ditata seperti ruang keluarga, lengkap dengan sofa dan televisi. Kepada sang ibu diberikan satu daftar tugas yang harus dikerjakan oleh si anak, seperti membereskan mainan atau mengerjakan soal aritmatik. Para pengamat yang berada di balik kaca satu arah mengamati apa yang terjadi dan secara konsisten menandai setiap reaksi anak terhadap upaya ibunya untuk mengendalikannya dan juga setiap reaksisi ibu terhadap respons anaknya, baik yang menuruti perintahnya ataupun tidak menurutinya. Pengukuran behavioral tersebut menghasilkan data yang dapat digunakan untuk mengukur efek penanganan.

Sebagian besar riset yang telah diungkapkan di atas dilakukan dalam kerangka kerja operant, namun teknik-teknik behavioral juga dapat diterapkan dalam suatu kerangka kerja yang menggunakan berbagai mediator. Bahwa teori mediational beranggapan bahwa suatu stimulus lingkungan tidak langsung memicu respons terbuka, namun alih-alih melalui suatu proses yang mengantarai, atau mediator, seperti kecemasan. Contohnya dapat kita ambil dari penelitian Gordon Paul (1966) dalam mengukur kecemasan para pembicara publik. Ia memutuskan untuk menghitung frekuensi perilaku yang menunjukkan keadaan emosional tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *