religion and ritual role (peran)

Peran adalah perilaku yang diharapkan dalam kerangka posisi sosial tertentu. Masyarakat Mongolia bagian luar yang mengunjungi sidang pengadilan di Inggris dan mengobservasi serangkaian pengadilan kriminal tak dapat memahami apa yang mereka lihat bila mereka tidak mengerti bahwa orang-orang di dalam pengadilan memainkan peran khusus sebagai: hakim, pihak penuntut, pengacara, terdakwa, saksi, juri, penjaga pintu, penonton dan seterusnya. Interpretasi perilaku dalam sebuah ruang sidang adalah contoh tepat kegunaan, termasuk juga keperluan, konsep peran. Aspek positif peran akan dibahas lebih dahulu sebelum mempertimbangkan apakah pengambilan contoh lain tak akan menimbulkan keraguan tentang nilai konsep peran tersebut. Jika mereka sanggup mendengarkan percakapan dalam berbagai bagian di gedung pengadilan tersebut, maka para pengunjung akan sanggup menemukan angka dan nama posisi yang sedang disandang jika jalannya sidang memang sesuai hukum yang berlaku; nama-nama individual yang menduduki posisi-posisi ini pada kesempatan khusus; dan seberapa baik individu-individu tertentu melaksanakan peran-peran mereka. Selama periode waktu yang lama, para pengunjung dapat melihat orang tertentu mengajukan pembelaan di depan hakim dan mengambil berbagai kasus; sementara sebagian orang meniti karir mereka lebih cepat dibandingkan yang lain.

Menyaksikan para pengacara setelah mereka menjadi hakim, pengamat mungkin menyimpulkan bahwa mereka telah menetapkan beberapa hakim tertentu sebagai teladan tentang apa yang harus ditiru dan apa yang mesti dihindari. Dengan cara tersebut, pengamat dapat menetapkan proses di mana individu belajar memainkan peran sesuai dengan kepuasan atau ketidakpuasan orang lain. Pengamat juga dapat mempelajari proses dalam hal individu-individu menduduki berbagai posisi.

Pada awalnya, pengamat bisa saja heran melihat pengacara yang telah berbicara untuk prosekusi dalam suatu kasus yang telah selesai hadir kembali untuk membela dalam kasus berikutnya. Mereka akan mempelajari bahwa itulah peran sang pengacara untuk membela siapa pun klien yang harus mereka bela (ditentukan oleh jaksa agung); opini pribadi mereka tentang nilai moral klien sama sekali tidak relevan, dan pakaian yang mereka kenakan (rambut palsu, gaun, dan pakaian seragam) memperkuat pesan bahwa kepribadian mereka ditentukan oleh peran mereka. Dalam observasi juga akan terlihat bahwa pengacara dapat dihukum karena tidak mematuhi aturan (seseorang yang ditanyai pertanyaan terarah ‘leading question’ atau tak berhubungan akan ditegur hakim) dan dapat diberi penghargaan apabila bertindak baik (dengan diserahi kasus-kasus lain, dan pada kasus-kasus berikutnya diberi bayaran lebih tinggi). Setiap kejadian tidak biasa berulang dapat memunculkan bentuk lain dari aturan yang menunjukkan bahwa dua peran mungkin tak dapat dilakukan oleh orang yang sama apabila ada praduga tentang kemungkinan terjadinya tumpang tindih kewajiban. Hakim tak dapat memimpin sidang atas sebuah kasus yang di dalamnya terdapat kepentingan pribadi. Seorang pengacara tak dapat mewakili kedua orang yang sama-sama didakwa atas satu pelanggaran, karena kedua orang tersebut mungkin berselisih satu sama lain berkenaan dengan culpability relatif mereka. Hakim dan pengacara akan dikecam apabila mereka di saat senggangnya berhubungan dengan kriminal.

Peran hakim dan pengacara telah ditetapkan, sementara si terdakwa biasanya tidak. Kadangkala ada terdakwa yang menentang kewenangan „ pengadilan dalam mengadili dirinya, tapi ia tetap disidangkan. Bisa jadi seseorang berkeberatan atas cap sebagai terdakwa, tapi begitu didakwa ia biasanya punya kepentingan untuk memainkan peran yang diharapkan dengan tujuan agar bisa mendapatkan manfaat yang memungkinkan mereka melepaskan diri dari dakwaan ataupun mendapatkan hukuman yang lebih ringan. Dengan demikian bisa dipahami mengapa seseorang berperilaku tertentu jika diasumsikan bahwa mereka memahami apa yang diharapkan dari mereka dan berusaha membalik harapan-harapan tersebut demi keuntungan mereka.

Proses pengadilan mengilustrasikan kegunaan konsep peran untuk alasan lainnya bahwa proses pengadilan tersebut bisa diberi suatu dimensi historis yang memperlihatkan perbedaan tetap dan definisi tentang peran yang terlibat. Di kebanyakan masyarakat pada momen sejarah tertentu, berbagai perkara diselesaikan oleh keadilan-kadi (menggunakan ungkapan bahasa Arab yang digunakan Max Weber). Dalam keadilan kadi seseorang yang memiliki kekuasaan politik membuat keputusan informal berdasarkan nilai- nilai etis dan praktis, jadi tidak mengacu pada keputusan sebelumnya atau hukum yang berlaku. Pada situasi seperti itu, peran politik dan hukum menjadi sulit dibedakan. Bahkan sampai abad 17 pertengahan, pengadilan pidana di Inggris berdasarkan standar modern sangat sederhana: Surrey mengadili rata-rata 14 terdakwa dalam Sehari yang terlibat pelanggaran berat. Sekarang, pelaksanaannya lebih kompleks. Bukti dari tiap saksi diuji dengan seksama; juga tersedia waktu untuk mengevaluasi bukti dalam hal peran yang sedang dimainkan saksi; sementara itu semua orang di pengadilan pasti akan menyadari bahwa hakim, pengacara dan saksi menjadi bagian dari suatu drama dan menginterpretasikan peran mereka dengan cara yang tidak beda dengan yang dilakukan para aktor di panggung. Standar hidup material yang cukup tinggi memungkinkan seseorang mempunyai kesadaran yang lebih tinggi tentang perilaku mereka.

Dalam buku Games People Play, Eric Berne (1964) menggambarkan dan menjuluki berbagai sebutan untuk karakterisik-karakteristik perselisihan yang ada dalam keluarga. Salah satunya adalah Uproar (hingar bingar), paling sering terjadi antara seorang ayah dominan dan seorang anak perempuan remaja yang meminta kebebasan lebih besar. Dalam hal ini berkaitan dengan kebebasan seksual. Diberi sebutan hingar bingar karena perselisihan ini seringkali akhirnya diakhiri dengan teriakan marah, pergi ke kamar dan membanting pintu dari salah satu atau kedua pihak. Dengan mudah bisa dilihat bahwa hingar bingar’ merupakan permainan di mana dua orang memainkan peran yang berbeda (meskipun dalam peran tersebut tidak dijelaskan tentang hak dan kewajiban, yang merupakan cara tradisional untuk mengkonsepsi peran dalam antropologi dan terutama sosiologi). Namun, apabila para pemain telah membaca analisis tentang permainan tersebut, mereka mempunyai kemungkinan lebih besar untuk memahami apa yang sedang terjadi saat mereka sendiri terjebak dalam suatu perselisihan semacam ini. Mereka akan memahami dinamika hubungan tersebut sekaligus cara-cara memeliharanya. Mereka tidak hanya menyadari bahwa mereka memainkan sebuah peran tetapi juga akan menyadari sedang menjalankan peran tersebut, dan dalam situasi- situasi tertentu mereka akan mengambil jarak antara diri mereka dan peran mereka dengan cara mengisyaratkan bahwa mereka tidak benar-benar serius berperilaku seperti itu. Kesadaran ini ditunjang oleh penggunaan kata ‘peran’ dalam bahasa sehari-hari, dan juga oleh adanya buku- buku yang menganalisis perilaku dalam kerangka peran, juga ditunjang oleh sifat kebudayaan Eropa dan Amerika Utara di paruh kedua di abad 20.

‘Ayah’ dan ‘anak perempuan remaja’ dianggap sebagai posisi sosial, tetapi perilaku yang diharapkan dari mereka yang menduduki posisi ini lebih sulit dijelaskan dibandingkan kasus hakim dan pengacara di atas. Hingga sekarang di Inggris (dan di beberapa tempat di Eropa), anak perempuan diberi batasan secara lebih ketat dibandingkan anak laki-laki. Ketika mereka sudah cukup umur untuk menikah, wanita muda kelas menengah meninggikan potongan rambut mereka untuk mengindikasikan perubahan status mereka. Gaya penataan rambut ini merupakan sebuah isyarat peran; perubahan ini sebagai upacara kecil dari perubahan peran (sedangkan pernikahan adalah upacara besarnya). Perempuan yang belum menikah tak boleh menemui pria tanpa ditemani pendamping. Karena ekspektasi peran ini berubah seiring perubahan-perubahan lain dalam struktur sosial, namun cepat dan besarnya perubahan di keluarga tertentu tentunya merupakan hasil dari konflik antara ayah dan anak perempuannya masing-masing pihak berusaha memaksakan definisinya sendiri tentang perilaku yang diharapkan. Tentu saja, perubahan ekspektasi berkenaan dengan peran gender telah menjadi diskusi yang serius. Yang bisa dilakukan sosiolog atau ahli psikologi-sosial adalah menegaskan ekspektasi peran seperti anak perempuan remaja’ yang diciptakan oleh anggota masyarakat yang menempati posisi-posisi yang lain tapi berkaitan. Penelitian terhadap ekspektasi ini dan determinannya dapat mengarah pada suatu analisis tentang masalah yang lebih umum dan menunjukkan cara-cara termudah dalam menyelesaikan masalahan tersebut. Hal ini terutama relevan untuk masalah-masalah domestik kelompok imigran Muslim di berbagai kota Eropa. Dalam hubungan ayah-dan anak perempuannya di kelompok ini, konflik antara kedua sistem nilai itu tampak lebih mencolok.

Banyaknya kandungan pengertian kata expect (berharap/mengharap) dalam bahasa Inggris tentu saja menyimpan kesulitan tersendiri. Seseorang mengharapkan dokter itu laki-laki, sementara perawat itu perempuan, hanya karena yang menempati kedua posisi itu memang kebanyakan demikian berdasarkan gender. Ini adalah murni ekspektasi statistik. Orang lain bisa saja mengharapkan dokter itu laki-laki dan perawat itu perempuan karena suatu keyakinan bahwa memang demikianlah yang seharusnya terjadi (sama seperti ekspektasi bahwa para pastor di Gereja Katholik adalah laki-laki). Ini disebut ekspektasi normatif. Dua ekspektasi tersebut ada dalam proses pertumbuhan individu di masyarakat di mana semua dokter adalah laki-laki yang pada gilirannya akan percaya bahwa dokter itu memang seharusnya laki-laki. Siapapun yang menggunakan konsep peran harus dapat menjelaskan ekspektasi yang melekat dalam suatu posisi, apakah ekspektasi statistik atau ekspektasi normatif; keduanya dapat dipahami dalam analisis peran.

Peran sebagai sebuah konsep dalam ilmu sosial tak dapat dibandingkan dengan partikel dasar dalam ilmu fisika. Tak mungkin membuat daftar semua peran dalam masyarakat tertentu karena tak ada prinsip yang jelas dalam menentukan posisi sosial: pada akhirnya menjadi sebuah pertanyaan apakah ada gunanya dalam kondisi tertentu menyebut, katakanlah, pejalan kaki sebagai sebuah peran. Sepanjang masyarakat menyadari bahwa diri mereka dan orang lain menduduki posisi yang memiliki berbagai hak dan kewajiban, maka perilaku mereka tidak dapat dipahami tanpa mengacu pada berbagai ekspektasi mereka tentang bagaimana seharusnya mereka berperilaku dan perilaku apa yang harus dilakukan orang lain dalam berhadapan dengan mereka. Peneliti bisa saja menanyai para anggota masyarakat mengenai ekspektasi mereka; peneliti bisa saja mengobservasi perilaku mereka dan menarik kesimpulan tentang ekspektasi mereka; atau peneliti dapat melakukan kedua hal ini dan mendapati bahwa apabila ekspektasi ini tidak terpenuhi mereka tidak selalu melakukan sesuatu (pelanggaran serius tentu saja merupakan soal lain). Untuk menganalisis perilaku aktual, konsep peran hanya sebuah permulaan yang harus dilengkapi konsep terkait lainnya yang dapat memberinya nilai kegunaan yang lebih besar. Biddle (1979) mendefinisikan 334 konsep semacam itu.

Biddle juga mengomentari karya penelitian yang menyatakan bahwa anak laki-laki dan anak perempuan diperlakukan berbeda dalam sekolah. Di Amerika, anak laki-laki (yang banyak diajar oleh guru perempuan) lebih sulit membaca dibandingkan anak perempuan, tapi di Jerman (di mana guru kebanyakan pria), justru anak laki-laki yang lebih pintar membaca. Penjelasan yang bisa disodorkan atas penemuan ini adalah bahwa para murid melihat guru mereka sebagai model peran. Murid perempuan bisa mengidentifikasi bersama guru perempuan tapi murid laki-laki mengalami konflik akbiat sifat maskulin mereka dan konflik hubungan mereka dengan model peran perempuan. Konflik ini dapat menstimulasi mereka berperilaku menyimpang dari ketentuan sistem sekolah. Argumentasi serupa dapat ditemui di masyarakat Amerika dan Inggris, di mana masyarakat kulit hitam adalah minoritas. Anak-anak kulit hitam yang nilai ujiannya jelek dianggap karena kekurangan model peran, seperti guru kulit hitam, pembaca berita TV berkulit hitam, dan pahlawan berkulit hitam yang terkenal. Hipotesis seperti ini dapat diuji dengan metode ilmu sosial. Bukti yang ada juga menunjukkan bahwa ketiadaan model peran laki-laki dan perempuan yang baik di rumah dapat menimbulkan akibat negatif terhadap perkembangan kepribadian anak.

Penulis yang menaruh perhatian pada harmoni sosial terfokus pada sebuah konsepsi tentang masyarakat sebagai satu unit di mana setiap orang memiliki berbagai peran yang harus dimainkan, dan dalam unit itu peran-peran yang utama sudah ditetapkan dengan jelas. Bagi para penulis ini, konsep peran membantu mereka menjelaskan hubungan antara individu dan masyarakat. Tapi bagi mereka yang melihat masyarakat sebagai sebuah arena di mana berbagai kelompok memiliki kepentingan yang saling bertentangan satu sama lain, pandangan seperti ini dipandang sebagai kecurigaan; mereka cenderung melihat individu dipaksa oleh ekspektasi model tak sempurna secara sukarela, atau bersikeras bahwa konsep peran itu sebenarnya berlebihan. Semua ini merupakan kritik terhadap penggunaan yang keterlaluan atas konsep peran (yang dipandang sebagai suatu representasi hubungan sosial), bukannya sebagai pendekatan untuk memecahkan masalah peran yang mestinya berusaha menguraikan suatu pola khusus dari perilaku. Saat ilmuwan sosial memulai observasi dan meneliti berbagai tindakan masyarakat, mereka harus terus-menerus menjelaskan perilaku dalam kerangka kompromi yang dilakukan masyarakat atas berbagai peraturan. Pengacara tidak mengajukan pertanyaan-mengarah (leading question) dalam situasi-situasi tertentu yang memang dilarang. Segala penjelasan mengenai mengapa masyarakat mengikuti peraturan menyiratkan suatu konsep peran, karena peraturan diterapkan pada orang-orang yang memiliki posisi sosial tertentu. Berdasarkan sifat masalah yang bersangkutan, maka menjadi penting untuk menggunakan konsep-konsep lain dari khasanah analisis peran yang pernah dikembangkan secara khusus oleh para ahli psikologi sosial. Jika telah ditemukan rumusan yang paling efektif dalam memberikan penjelasan, maka kebingungan tentang berbagai definisi alternatif akhirnya bisa diselesaikan.