Advertisement

Melawan penjajah Belanda terjadi di Minangkabau, di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Nama paderi (yang dapat juga disebut padari, pidari) konon berasal dari nama tempat di Aceh, yakni Pedir atau Pidie, yang pada masa itu menjadi tempat singgah orang Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji ke Mekah. Tetapi ada yang berpendapat bahwa nama paderi berasal dari kata Portugis padre yang berarti pastor Katolik. Seperti halnya ulama Katolik, kaum Paderi berpakaian serba putih, yang melambangkan kebersihan dan kesucian. Para pemimpinnya berjanggut panjang. Gerakan Paderi menjadi semacam gerakan pemurnian ajaran-ajaran Islam dari segala hal yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Gerakan ini didirikan oleh tiga orang ulama, yakni Haji Miskin, Haji Piambang, dan Haji Sumanik, sepulangnya mereka dari Tanah Suci. Mereka penganut aliran Wahabi, aliran Islam yang menjalankan ajaran- ajaran agama dengan keras. Ketiga ulama itu sangat kecewa melihat berbagai kebiasaan masyarakat Minangkabau yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pada masa itu berbagai bentuk maksiat, seperti mengisap candu, berjudi, menyabung ayam, minum tuak, sering dilakukan oleh kaum bangsawan (golongan adat) dan menyebar ke masyarakat. Mereka berpendapat bahwa salat lima waktu wajib dijalankan, para wanita wajib bercadar, dan berbagai bentuk maksiat harus diberantas, termasuk merokok dan makan sirih. Adat matriarkal yang turun temurun terdapat di Minangkabau juga dianggap tidak sesuai oleh ketiga ulama itu. Oleh sebab itu, gerakan Paderi mendapat tantangan keras dari kaum adat, bahkan menjadi konflik bersenjata. Dalam perkembangannya, ketiga ulama itu dapat mempengaruhi ulama-ulama terkemuka, antara lain Tuanku Nan Renceh, dan muridnya, Peto Syarif, yang disebut juga Imam Bonjol karena bermarkas di Bonjol. Dibentuklah perserikatan antara delapan ulama terkemuka, yang disebut Harimau Nan Selapan.

Advertisement

Dengan dukungan para ulama itu, gerakan Paderi semakin meluas. Pertempuran antara kaum adat dan kaum Paderi sering dimenangkan oleh kaum Paderi Mereka bahkan dapat menguasai Pagarruyung, pusat Kerajaan Minangkabau (1809). Gerakan ini terus meluas ke Tapanuli Selatan (1816). Tetapi pertentangan antargolongan dalam masyarakat Minangkabau ini mengalami perkembangan baru setelah kekuatan asing ikut campur tangan.

Belanda Campur Tangan. Pada masa itu, Inggris masih berkuasa di Indonesia. Sebagai letnan-gubernur Inggris di Bengkulu, pada bulan Juli 1818 Thomas Stamford Raffles datang ke Minangkabau untuk mengetahui dari dekat situasi di daerah tersebut. Karena

Kaum adat segera memanfaatkan perimbangan baru ini. Mereka meminta bantuan untuk menghadapi kaum Paderi. Atas permintaan Tuanku Suruaso (putra raja Minangkabau, Alam Muning Syah), pasukan Inggris ditempatkan di Simawang. Tetapi pemerintah Inggris di London tak menyetujui tindakan Raffles ini dan memerintahkannya menarik mundur pasukan.

Perlu diketahui pada tahun 1814 di London ditandatangani kesepakatan antara Inggris dan Belanda . ang dikenal sebagai Konvensi London, yang intinya ialah: Belanda kehilangan semua wilayah di Hindia Muka dan Malaka, tetapi memperoleh Sumatra. Setelah Belanda menerima penyerahan kembali daerah Sumatra Barat dari Inggris, kaum adat segera mengajak berunding, dan dicapai kesepakatan: Belanda membantu kaum adat dengan syarat bahwa penguasaan seluruh wilayah Kerajaan Minangkabau diserahkan kepada Belanda. Maka pasukan Belanda pun dikerahkan ke Simawang dan pecahlah Perang Paderi.

Dengan turut campurnya Belanda, kaum Paderi menghadapi dua musuh sekaligus, yakni Belanda dan kaum adat. Tetapi kaum Paderi tetap mendapat angin. Pada bulan September 1821, pos penjagaan Belanda di Simawang (dahulu pos ini merupakan benteng Inggris) berhasil dihancurkan kaum Paderi. Di sekitar daerah Lintau, gerakan Paderi mengadakan perlawanan gigih terhadap Belanda. Lima ratus pasukan Belanda (terdiri atas sekitar 200 orang Eropa, 50 orang Benggali, dan 140 orang pribumi serta 5 pucuk meriam) mengadakan penyerangan terhadap markas gerakan Paderi di Lintau. Akan tetapi serangan ini ditunda setelah mereka mengetahui bahwa pasukan Paderi cukup kuat.

Setelah datang bantuan pasukan dari Letkol. Raaf (akhir 1821), diadakan penyerbuan kembali. Tetapi pasukan ini dijebak dan dikalahkan oleh kaum Paderi. Karena gerakan Paderi di sekitar daerah Lintau dan Marapalam sulit ditaklukkan, Belanda mencoba membuat surat ajakan untuk berdamai. Tetapi kaum Paderi menolaknya. Di daerah lainnya, gerakan Paderi aktif melancarkan serangan. Di sekitar Baso mereka berhasil mendesak pasukan Belanda yang dipimpin oleh Kapten Goffinet pada bulan Agustus 1822. Sebulan kemudian gerakan Paderi mengadakan operasi di daerah Guguk Sidandang dan Tanjong Alam, serta membakar rumah penduduk yang memihak kepada kaum adat dan Belanda. Di daerah Bonio kaum Paderi berhasil mendirikan basis pertahanan. Karena kuatnya basis pertahanan kaum Paderi, pasukan Belanda merekrut penduduk setempat untuk melawan kaum Paderi. Tetapi basis pertahanan di Bonio ini memang sangat sukar ditaklukkan, karena tempat ini sangat strategis karena bukit-bukit yang mengelilinginya.

Maka pada bulan Januari 1824 pasukan Belanda kembali mengajak kaum Paderi untuk berdamai. Pemimpin gerakan Paderi di Bonjol, Tuanku Imam Bonjol, menerima ajakan tersebut. Tetapi Tuanku Dama- siang, tokoh gerakan Paderi di kota Laras, menolaknya. Maka, tanpa mempedulikan persetujuan perdamaian, Belanda pun menyerbu Laras. Karena Bonjol telah berdamai, pasukan Belanda dapat dipusatkan ke sini. Dalam pertempuran itu Tuanku Dama- siang mengalami kekalahan, sehingga ia terpaksa menerima persetujuan perdamaian itu. Dalam perkembangan selanjutnya, pasukan Belanda menduduki beberapa daerah lainnya, seperti VI Kota.

Pelanggaran persetujuan perdamaian itu menimbulkan kemarahan Imam Bonjol. Maka ia kemudian melakukan penyerangan terhadap pos Belanda d; Suruaso, dan membunuh banyak serdadu Belanda.

Perlawanan Meningkat Kembali. Pada tahun 1825 Belanda dihadapkan pada kesulitan baru. Di Jawa berkobar Perang Diponegoro. Sementara itu gerakan Paderi di Minangkabau belum berhasil ditaklukkan. Maka Belanda terpaksa membagi kekuatan militernya menjadi dua bagian, yakni sebagian dikirim ke Jawa untuk meredakan perlawanan Diponegoro dan sebagian lagi tetap berada di Minangkabau untuk menghadapi kaum Paderi. Dengan demikian, pasukan Be-landa yang berada di daerah Minangkabau praktis lemah. Tetapi Belanda mempunyai taktik lain. Pada akhir tahun 1825 Belanda berhasil mengadakan perjanjian baru dengan kaum Paderi. Dalam perjanjian tersebut Belanda mengakui kekuasaan tokoh-tokoh Paderi di Lintau, Limapuluh Kota, Lawas, dan Agam serta Bonjol.

Perjanjian perdamaian itu sangat mengecewakan kaum adat, karena Belanda secara tidak langsung telah mengakui eksistensi kaum Paderi. Hal ini sekaligus meretakkan hubungan persahabatan antara kaum adat dan Belanda. Tetapi Belanda mempunyai perhitungan lain. Dengan gencatan senjata ini, Belanda dapat mengkonsentrasikan kekuatan militernya di Jawa untuk memadamkan perjuangan Pangeran Diponegoro. Belanda dapat mengirim lagi sebagian pasukan Belanda ke Jawa. Diperkirakan pada akhir tahun 1826 hampir 90 persen dari 6.000 pasukan Belanda yang berada di Minangkabau dikirim ke Jawa. Dengan demikian pasukan Belanda sangat tidak mencu-kupi untuk menjaga pos-pos pertahanannya di Minangkabau.

Kondisi semacam ini dimanfaatkan oleh kaum Paderi untuk memulai perlawanan kembali. Rakyat Minangkabau memberi dukungan besar terhadap perlawanan ini, mengingat rakyat telah menderita akibat beban pajak yang berat yang dibuat oleh Belanda. Kaum adat, yang telah dikecewakan oleh Belanda, kinf bahkan mulai melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Perjuangan kaum Paderi kali ini diorganisasi dan dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol dan rekan-rekannya. Perahu-perahu Aceh di bawah pimpinan Sidi Mara turut memberi bantuan kepada kaum Paderi untuk mengepung pasukan Belanda di sekitar daerah pantai. Posisi pasukan Belanda pun terdesak. Untuk mengatasi hal ini, Gubernur Jenderal yang saat itu (1831) dijabat oleh van Den Bosch, mengangkat Kolonel G.P.J. Elout sebagai residen sekaligus merangkap pimpinan tertinggi militer Belanda di Sumatra Barat. Tugas utama Elout adalah meredakan perlawanan kaum Paderi. Akan tetapi gerakan Paderi yang tersebar di daerah-daerah seperti Naras dan Muara Palam makin meningkatkan perlawanannya. Belanda Mendatangkan Bantuan Militer. Setelah perjuangan Pangeran Diponegoro dapat dipadamkan pada tahun 1830, Gubernur Jenderal van Den Bosch pada pertengahan tahun 1832 mengirim bantuan militer dari Jawa ke Minangkabau. Karena pasukan Belanda bertambah kuat, beberapa daerah yang telah dikuasai oleh kaum Paderi, seperti Tapi Selo, Kebon Belongkat di sebelah timur Muara Palam, dan Bua, dapat dikuasai oleh pasukan Belanda.

Pada akhir tahun 1833, salah seorang tokoh gerakan Paderi, yakni Tuanku Nan Cilik, menyerah kepada Belanda. Hal ini merupakan pukulan terhadap perjuangan kaum Paderi. Dari tokoh ini Belanda memperoleh informasi tentang kekuatan gerakan Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol, terutama yang berpusat di Bonjol. Sementara itu dalam pertempuran di sekitar jurang antara Martua dan Agam pada akhir tahun 1833, gerakan Paderi juga menderita kekalahan. Setelah beberapa daerah dapat ditaklukkan, Belanda kemudian memusatkan kekuatan militernya untuk menyerang Bonjol. Sebelum mengadakan penyerangan, Belanda telah berhasil menguasai jalan-jalan yang menuju Bonjol sebagai pusat gerakan Paderi. Tetapi kaum Paderi di Bonjol yang berjumlah sekitar 12.000 orang dapat memukul mundur pasukan Belanda. Setelah gagal dalam serangan pertama, pasukan Belanda menambah jumlah pasukannya dari daerah- daerah lain. Pada serangan yang kedua, Belanda berhasil menguasai sebuah bukit di Bonjol pada bulan Mei 1835. Dengan demikian posisi kaum Paderi semakin terdesak.

Berakhirnya Perang Paderi. Diblokadenya jalan-jalan yang menghubungkan Bonjol dengan daerah lain mengakibatkan kaum Paderi sulit bergerak. Seiring dengan semakin terdesaknya kaum Paderi, Belanda menawarkan gencatan senjata. Tuanku Imam Bonjol yang memimpin gerakan Paderi menyatakan kesediaannya untuk tidak saling menyerang dengan syarat pasukan Belanda ditarik dari daerah Alahan Panjang. Tetapi Belanda tidak mau menerima syarat itu dan pertempuran pecah kembali.

Pada akhir tahun 1835 pasukan Imam Bonjol masih menunjukkan semangatnya. Benteng pusat perlawanan di Bonjol masih dapat dipertahankan. Untuk menghancurkan benteng ini, pasukan Belanda mengadakan penyerangan dari empat penjuru. Dari Rao di utara, pasukan yang dipimpin oleh Eilers menyusuri selatan dengan menundukkan kota-kota sepanjang perjalanan (termasuk Lubuk Sikaping); Letnan Kolonel Elout menyerang dari arah barat (pantai) melalui Toku dan Mangopo; satu pasukan lain yang dipimpin Mayor De Quay menyerbu Lima Puluh Kota melalui VII-Lurah (Palupuh). Serangan dari arah selatan dipimpin oleh Jenderal Riesz yang memimpin induk pasukan melalui Matur, dengan pusat operasi di Fort de Kock.

Tetapi serangan dari keempat penjuru yang direncanakan akan bertemu di Bonjol pada tanggal 16 September 1837 itu mengalami keterlambatan. Keadaan alam, ditambah4 hujan lebat dan wabah penyakit yang menyerang pasukan Belanda serta penunjuk jalan yang melarikan diri merupakan sebab keterlambatan itu. Akan tetapi, sekitar bulan Oktober mereka dapat bertemu di Bonjol dan mereka mengadakan penyerangan besar-besaran ke benteng Bonjol. Pada bulan dan tahun 1937 itu juga benteng Bonjol jatuh ke tangan Belanda dan Tuanku Imam Bonjol ditangkap oleh pasukan Belanda. Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur, setelah itu ke Ambon, akhirnya ke Manado; di sinilah Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia pada tahun 1864.

Incoming search terms:

  • pengertian perang padri
  • apa yang dimaksud perang padri
  • apa yang dimaksud dengan perang padri
  • pengertian perang paderi
  • Arti perang padri
  • Jelaskan pengertian perang padri
  • Arti paderi
  • yang dimaksud perang padri
  • apa itu perang padri
  • apa yg dimaksud perang padri

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian perang padri
  • apa yang dimaksud perang padri
  • apa yang dimaksud dengan perang padri
  • pengertian perang paderi
  • Arti perang padri
  • Jelaskan pengertian perang padri
  • Arti paderi
  • yang dimaksud perang padri
  • apa itu perang padri
  • apa yg dimaksud perang padri