Advertisement

urban planning (perencanaan perkotaan)

Perencanaan perkotaan sama tuanya dengan peradaban. Kota-kota antik merefleksikan pengagungan terhadap para penguasa dan berbagai kebutuhan militer dan keagamaan mereka. Kota pertama yang berisi kelas pekerja dirancang untuk melayani para buruh dalam rangka membangun sebuah piramida kerajaan Mesir. Pengaruh-pengaruh yang lebih demokratik masuk bersamaan dengan agora Yunani dan forum Romawi. Teknologi hidrolik selalu berpengaruh besar terhadap perencanaan perkotaan sejak kerajaan- kerajaan kuno Mesir dan Mesopotamia, hingga pembangunan kota-kota besar di negeri Belanda. Perencanaan kota-kota besar abad pertengahan ditata dengan dinding-dinding dan benteng- bentengnya. Para pendiri koloni dan markas militer memberikan banyak contoh mengenai kota hasil perencanaan.

Advertisement

Sejak akhir Abad Pertengahan, dukungan para penguasaa, perusahaan-perusahaan milik saudagar dan tuan tanah memberi kemungkinan pada para arsitek untuk mencipta atau memugar banyak kota besar yang terkenal. Beberapa contohnya adalah karya Bernini dan rekan-rekannya di Roma, dua bersaudara Woods di Bath, Craig di Edinburgh, dan kota-kota besar bergaya baroque di Jerman Selatan dan Austria.

Revolusi industri dan berbagai kota besar yang tumbuh pesat dan tidak beraturan telah mengubah ciri perencanaan perkotaan secara sangat radikal. Perencanaan berkembang melalui tiga jalur yang berbeda tetapi terkait satu sama lain.

Pertama, regulasi penggunaan tanah yang terperinci menjadi ciri banyak kota lama, tapi regulasi ini menjadi tidak populer selama kurun waktu industrialisasi laissez-faire pertama. Masalah-masalah kesehatan dan sanitasi memaksa diterimanya hukum dan aturan pembangunan mengenai lebarnya jalan dan penataan perumahan. Kemudian, diberlakukan undang-undang skema perencanaan yang memisahkan antara penggunaan tanah yang tidak sesuai, kepadatan perumahan. tanah cadangan untuk ruang terbuka dan untuk tujuan-tujuan umum lainnya.

Tipe perencanaan higienis ini sejak lama dikritik karena merusak” keragaman yang kaya” dalam kehidupan perkotaan. Pengaruh protektif dari hukum pembagian zona ini terasa paling kuat di pemukiman kelas-atas daerah pinggiran. Di tempat lain, kontrol perencanaan dipertahankan tetap fleksibel oleh tekanan dari pasar tanah pribadi. Kondisi seperti ini terutama terjadi di Amerika Serikat, di mana tata kota regular untuk lapangan olahraga justru mendorong spekulasi tanah, dan di mana aturan pertama tentang pembagian zona untuk New York membolehkan jumlah maksimum penduduk sebanyak 365 juta orang. Sebaliknya, pembangunan diawasi sangat ketat di negeri Belanda, dan beberapa negara Eropa lainnya, tetapi fragmentasi kepemilikan tanah dan adanya nilai-nilai spekulatif telah memperbesar kendala bagi perencanaan dan juga bagi partisipasi.

Upaya-upaya politik sudah dilakukan untuk memungut pajak dan mengawasi nilai-nilai pembangunan demi mendorong perencanaan; misalnya, di Inggris ada tiga upaya semacam itu antara tahun 1945 dan 1980. Upaya-upaya ini berhasil membatasi kompensasi perencanaan, sehingga membantu melindungi wilayah-wilayah pedesaan dan tanah-tanah subur di sekelilingnya, tetapi kurang berhasil dalam mengupayakan perbaikan atau pembaharuan perkotaan. Beberapa negara di Eropa, terutama setelah Perang Dunia II, telah memadukan dan merealokasikan kepemilikan tanah untuk membantu pembangunan kembali. Namun implementasi rencana-rencana itu tergantung pada inisiatif swasta atau pun pemerintah.

Untuk mengefektifkannya, perencanaan pemerintah memerlukan kebijakan-kebijakan yang terpadu dan koordinasi yang rumit, dan di kalangan masyarakat Barat perubahan perkotaan semakin tergantung pada kepentingan bisnis dan keuangan.

Kedua, tradisi arsitektur historis berlanjut terus melalui cara-cara baru. Kota-kota besar modem biasanya tidak didominasi lagi oleh karya-karya besar yang bersifat publik, kecuali di negara-negara otokratik atau dalam kasus-kasus khusus seperti Brasilia. Perencanaan jalan raya akhirnya lebih berpengaruh atau bahkan dominan terhadap disain kota-kota besar. Rangkaian bulevar buatan Haussmann telah merestrukturisasi Paris, yang umumnya dimaksudkan untuk mengendalikan kerumunan orang. Gerakan “kota indah” yang diwakili oleh rencana Burnham untuk Chicago  mencakup berbagai boulevar, taman dan museum tetapi tidak memperdulikan ghetto-ghetto kumuh di belakang wajah kota itu. Parkways (jalan raya dengan jalur hijau di tengahnya) memadukan antara jalan raya dan taman, yang kadang-kadang memberikan pemandangan indah. Robert Moses dari New York berkarya melalui upaya mengaitkan perencanaan dengan koordinasi terhadap karya-karya publik. Disain-disain monumental untuk kota-kota besar masa depan seperti karya Le Corbuiser merupakan bagian dari tradisi arsitektur historis, tapi tampaknya hanya bisa diwujudkan melalui proyek-proyek khusus.

Ketiga, telah muncul berbagai pembangunan publik yang terencana seperti kota-kota baru di Inggris, Canberra di Australia dan banyak contoh lain. Kota-kota ini menyiratkan berbagai praktek masif dalam pembangunan kawasan umum, yang meneruskan berbagai tradisi kuno untuk pengelolaan tanah milik pribadi atau perusahaan. Intinya adalah pemilikan publik atas tanah, bila dipadukan dengan pemberian tanggung jawab secara luas bagi pembangunan kota di tangan lembaga kekuasaan yang sama. Pembangunan Stockholm pasca-perang ketika kota itu memiliki paling banyak tanah kosong, membiayai atau menyediakan paling banyak perumahan, dan memiliki serta mengembangkan sistem transportasi adalah contoh yang baik dari perencanaan komprehensif bagi pertumbuhan perkotaan. Banyak kota lain di Eropa dan Inggris memiliki potensi yang sama, meskipun jarang yang begitu lengkap. Perubahan-perubahan iklim politik dan pergantian pemerintah kota yang kuat dengan sistem metropolitan dua tingkat menjelang tahun 1980 telah mengakhiri era perencanaan kota dan mesin-mesin pembangunan (Self 1982). Perencanaan komprehensif oleh badan-badan ad hoc seperti korporasi kota baru juga terbukti mengandung kerentanan politik.

Pembangunan-pembangunan publik yang terencana sering mampu menyempurnakan standar sosial dan lingkungan dan memberikan akses yang lebih baik terhadap berbagai fasilitas bagi orang usia lanjut, remaja belasan tahun, dan istri- istri yang bekerja; tetapi pembangunan itu juga menerapkan konsep teknokratik pada para pengguna pasif. Ada banyak kegagalan dalam skema-skema pembangunan kembali (redevelopment schemes), yang menyebabkan pertumbuhan tinggi perumahan yang tidak populer, pengabaian kelalaian terhadap fasilitas-fasilitas sosial, dan di Amerika Serikat pengusiran orang-orang miskin secara ekstensif demi kepentingan pembangunan ekonomi yang disubsidi.

Profesi perencanaan kota secara historis didominasi oleh para arsitek tetapi dalam perkembangannya makin banyak memanfaatkan keahlian para insinyur, ahli penilai, ekonomi, sosiolog, dan lain-lainnya. Perencanaan regional salah satu perhatian khusus para ahli geografi memiliki arti yang makin penting. Perencanaan terkait erat dengan fungsi-fungsi besar lainnya, seperti perumahan pada masa lampau, dan terutama akhir-akhir ini dengan transportasi. Terdapat banyak silang pendapat mengenai pendidikan terbaik bagi seseorang perencana kota, dan mengenai kemungkinan pemisahan peranannya dari tugas manajemen perkotaan secara umum.

Perkembangan perencanaan modern banyak dipengaruhi oleh para penulis imajinatif seperti Geddes, Mumford(1961), dan para idealis praktis seperti Ebenezer Howard dan Sir Frederic Osborn, yang memprakarsai dua buah kota kebun. Konsep-konsep pertumbuhan berimbang, pembatasan ukuran perkotaan, masyarakat-masyarakat baru, dan proteksi pedesaan adalah penting bagi kemajuan besar dalam kekuatan-kekuatan perencanaan kota setelah tahun 1940. Berbagai ideal sosial meskipun dikalahkan oleh tuntuan-tuntutan pasar tetap penting bagi perencanaan dan juga bagi para perencana profesional.

Sistem-sistem perencanaan makin kompleks, karena sering melibatkan sejumlah pedoman nasional, rencana penataan regional, rencana subregional atau distrik, dan rencana lokal yang rinci. Rencana yang beragam ini kadang-kadang menimbulkan konflik dan sering mengundang oleh para pengembang baik dari pemerintah maupun swasta. Perencanaan telah membangun teknik-teknik yang rumit untuk meramalkan dan merancang model, dan makin terfokus pada pengarahan dan pemantauan kecenderungan-kecenderungan ekonomik dan sosial yang tidak wajar.

Namun demikian, corak perencanaan perkotaan tetap sangat politis dan reflektif terhadap nilai-nilai dominan dalam suatu masyarakat. Di berbagai sistem komunis, pemerintah mempunyai kekuasaan yang besar terhadap perencanaan, tetapi sering diterapkan secara monolitik yang mengabaikan hak-hak swasta. Di negara-negara demokratik kapitalis, perencana bisa menjadi seorang spesialis dalam regulasi penggunaan tanah, atau seorang generalis yang lemah dalam mengartikulasikan kepentingan masyarakat. Banyak yang sudah ditulis tentang berbagai ketidaksederajatan spasial di kota dan dominasi kepentingan-kepentingan kapitalis (Harvey 1973).

Perencanaan perkotaan yang efektif tergantung pada paduan antara regulasi publik dan inisiatif publik. Makin lama makin penting untuk mengatasi persoalan-persoalan seperti kemacetan dan polusi lalu lintas, pemborosan lahan perkotaan, pembangunan pusat kota yang berlebihan, penurunan kualitas lingkungan; untuk meningkatkan akses peluang kerja dan fasilitas-fasilitas sosial melalui pembangunan sentra-sentra baru; dan untuk menetapkan standar-standar yang memuaskan bagi perumahan dan lingkungan yang ramah. Perencanaan kota tradisional semakin perlu diintegrasikan dengan tujuan-tujuan lingkungan. Meskipun perencanaan patut dipuji atas segala prestasinya seperti perlindungan terhadap pusat-pusat sejarah, perlindungan terhadap wilayah pinggiran kota dan beberapa kota baru yang terencana baik namun meleset jauh dari tujuan-tujuan tersebut di atas. Kemajuan tidak hanya tergantung pada perekrutan para perencana yang berpendidikan tinggi dan berdedikasi pada tujuan-tujuan mendasar itu, tetapi lebih dari itu juga bergantung pada dukungan politik yang lebih kuat dan kerelaan politik untuk mengatasi dampak-dampak destruktif dan memecah belah terhadap ekonomi pasar modern.

Incoming search terms:

  • materi perencanaan perkotaan
  • pengertian perencanaan kota
  • definisi perencanaan kota
  • makalah nilai nilai perencanaan kota
  • pengertian merencanakan kota

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • materi perencanaan perkotaan
  • pengertian perencanaan kota
  • definisi perencanaan kota
  • makalah nilai nilai perencanaan kota
  • pengertian merencanakan kota