PENGERTIAN PERESTROIKA DAN MAKNA SOSIOLOGISNYA – Beberapa tahun belakangart Uni Soviet telah mulai melakukan serangkaian pembaruan sosial, politik, dan ekonomi. Pembaruan ini mulai dengan naiknya, di musim semi 1986, Mikhail Gorbachey pada posisi Sekretaris Jendral Partai Komunis, badan politik paling kuat di Uni Soviet. Tak lama setelah berkuasa, Gorbachev mulai memmtut dua macam pembaruan, yang dikenal luas sebagai perestroika dan glasnost, biasanya diterjemahkan dengan “keterbukaan”, yang merupakan komitmen yang lebih besar kepada kejujuran dan membuka diskusi untuk persoalan-persoalan pemerintahan,begitu pula dengan mengakui cacat yang ada dankesalahan masa lalu. Kebijakan glasnost juga menjanjikan kebebasan yang lebih luas bagi ekspresi individual, baik dalam politik maupun yang lainnya, dan membiarkan kebebasan pers dalam menerbitkan fakta dan mengungkapkan pendapat.

Sementara itu perestroika merupakan pembaruan secara khusus terhadap ekonomi. Hal ini secara bahasa disebut “restrukturisasi” kehidupan ekonomi (Gorbachev, 1987). Ada beberapa aspek penting dari restrukturisasi, tapi yang paling mendasar adalah sebagai berikut (Lapidus, 1988; Kushnirsky, 1988; Leggett, 1988, Zemtsov dan Farrar, 1989):

1. Walaupun perencanaan ekonomi yang terpusat masih diper tahankan sebagai pedoman kebijakan, perusahaan perorangan diberi tang-gung jawab lebih besar dalam membuat keputusan tentang kegiatan produksi mereka. Perusahaan-perusahaan tersebut boleh saling bersaing, dengan tingkat keuntungan sebagai kriteria utama keberhasilan. Perusahaan yang kurang beruntung akan tersingkir. Selanjutnya, nrianajer perusahaan dipilih, dan tidak sekadar naik tahta karena sistem politik patronase yang biasa dijalankan sebelumnya.

2. Struktur upah diperbaiki sehingga menaikkan diferensiasi upah. Hal ini dirancang sebagai insentif bagi buruh untuk bekerja lebih keras dan lebih baik lagi. Sebaliknya, buruh dapat dipecat karena kerja yang buruk dan terlalu pembolos. Dengan pembaruan ini, pengangguran menjadinampak untuk pertama kalinya sejak awal berdirinya masyarakat Soviet.

3. Usaha patungan yang baru dengan perusahaan Barat dilakukan. Kerja sama ini semula dirancang untuk menarik modal Barat dan rneningkatkan produksi barang konsumsi.

Semua perubahan ini secara umum merupakan tanda-tanda adanya pembatasan-pernbatasan bagi perencanaan ekonorni terpusat, dan dengan dentikian juga merupakan tanda bagi meningkatnya kepercay aan pada pasar (Lapidus, 1988; Aganbegyan, 1988, 1989). Perubahanperubahan tersebut direncanakan untuk mengganti ekonomi Soviet ke arah yang lebih “kapitalistik”, gerakan yang tidak akan mengherankan Wallerstein dan pengikut teori sistem dunia sebab mereka memang memandang Uni Soviet telah benar-benar kapitalistik. Banyak pengamat perestroika pada saat ini mengajukan pertanyaan apakah perestroika merupakan suatu perubahan ekonomi yang benarbwar radikal, atau sekadar tambal sulam pada sistem yang ada. Walaupun banyak orang melihat pemb aruan Gorbachev sebagai penyimpangan fundamental dari praktek ekonomi yang berjalan (Lapidus, 1988; Aganbegyan, 1989), pendapat yang lain menganggap perestroika sebagai pembaruan yang kurang mendasar (Kontorovich, 1987; Zemtsov dan Farrar, 1989; Leggett, 1988, Manclel, 1989). Ilya Zemtsov dan John Farrar, rnisalnya, yakin bahwa “dilihat dari isinya, perubahan ekonomi Gorbachey sebaiknya dipandang hanya sebagai tambalan dan sulaman dari sistem yang ada” (1989:8,1). Robert Legget menyatakan bahwa “kesepakatan besar para ahli Barat yang telahmenganalisis perub ahan-perubahan dalam ekonomi Soviet dibawah Gorbachev ialah bahwa perubahanperubahan itu tidak membentuk pembaruan yang sesungguhnya” (1988:35). Leggett menyimpulkan bahwa pembaruan Gorbachey tidak begitu berbeda dalam prinsip atau isi dari sejenis pembaruan yang diusahakan oleh Uni Soviet sejak tahun 1950an.

Lepas dari tujuan perubaban-perubahan yang diadakan itu, kenyataan bahwa perubahan-perubahan tersebut telah menjadi perhatian dunia, dan bahwa hal itu telah dianalisis secara n-teluas oleh ilmuwan sosial Barat, menunjukkan bahwa ada sesuatu yang bermakna di dalamnya. Untuk lebih jelasnya, cliajukart dua pertanyaan penting mengenai hal itu mengapa perubahan-perubahan itu terjadi pada saat ini, dan apakah perubahan-perubahan itu dapat berhasil membawa Uni Soviet kepada apa yang sedang dicarinya. Untuk pertanyaan yang pertama —mengapa perestroika, dan mengapa perestroika harus sekarang?— aclalah jelas bahwa paling tidak jawabannya menyinggung krisis sosial dan ekonomi yang sedang dihaclapi Uni Soviet, suatu krisis yang telah tertangkap oleh banyak pengamat Barat (Leggett, 1988; Lapidus, 1988; Zemtsov d’an Farrar, 1989; Kaneda, 1988; Mandel, 1989). Krisis ini meliputi kemunduran ekonomi dan demoralisasi pada banyak kelompok masyarakat Soviet. Robert Leggett (1988) dan Tatsuo Kaneda (1988) meringkas climensi-dtmensi persoalan tersebut: Pertumbuhan telah condong turun selama beberapa dekade, seperti terjadinya kegagalan panen yang berulang-ulang, hambatan produksi dalam industri, kurangnya energi dan tenaga kerja, dan produktivitas yang selalu rendah. Pertumbuhan GNP selama perencanaan lima tahun yang kesebelas (1981-85) memperlihatkan keadaan yang paling buruk dibandingkan semua periode pelita sejak perang dunia II. Sementara itu perbaikan-perbaikan dalam standar kehidupan niakin sulit sebagai akibat dari memburuknya keadaan ekonorni, dan ketidakpuasan rakyat meningkat. Hal terakbir ini berwujud dalam penurunan moral pekerja, sikap-sikap yang                materialistik, makin seringnya  muncul perilaku “menyimpang” d-an “salah” kalangan kaum muda Soviet, tingginya tingkat kriminalitas, penyalahgunaan alkohol dan obat keras, dan men ingkatnya anti nasionalisme Rusia di kalangan kelompok-kelompok etnik (Leggett, 1988:23,25).runan kapasitas Soviet untuk pengembangan teknologi; ketergantungan pada kemajuan teknologi Barat; jatuhnya daya saing internasional; ku-rangnya kebutuhan dasar yang kronis; munculnya pasar-pasar gelap; menjalarnya penyuapan dan korupsi; banyaknya hutang; perasaan alienasi dan kebiasaan minum di kalangan rakyat, yang menolak kerja dan yang menyebabkan angka kesakitan dan kematian meningkat (Kaneda, 1988:81).

Zen.-dsov dan Farrar (1989) dan Ernest Mandel (1989) memandang motif-motif pembaruan Gorbachev dan para pendukungnya di kalangan elit politik Soviet berakar dalam strategi perlindungan-diri kaum elit. Zemtsov dan Farrar melihat perestroika sebagai berasal dari keinginan kaum elit untuk mengubah sistem Soviet agar berfungsi secara lebih efektif, tapi betapapun kecilnya kekuasaannya dalam sistem menjadi sangat berarti. Mandel lebih eksplisit. Ia memandang Gorbachey dan para pendkikungnya mengetahui akibat bagi kaum elit karena adanya krisis ekonomi dan sosial, dan karena itu terdorong untuk mengadakan pembaruan supaya dapat mencegah memburuknya situasi di masa datang. Sebagairnana ia menulis, “Gorbachev mewakili tanggapan dari sayap modernis dalambirokrasi terhadap akibatbagi stabilitas kekuasaannya dengan adanya krisis ini dan dengan munculnya kesadaran rakyat” (1989: xi). Narnurt demikian, penafsiran irii nampak terlalu sempit. Seperti diungkap dalam teks utama, dalam dekade-dekade terakhir Uni Soviet telah mulai meleburkan ekonominya ke dalam ekonomi-dunia kapitalis. Sejalan clengan gerakannya menuju arah kapitalis, ia telah mulai rnakin bertindak dalam tradisi negara kapitalis di arena ekonomi internasional. Yaitu, ia telah memanfaatkan arena tersebut sebagai usaha rnemajukan posisi ekonominya sejajar dengan negara-negara lain. Krisis ekonomi yang sedang dialami mungkin makin jadi masalah daripada sekedar inefisiensi dalarn organisasi ekonomi intemalnya. Krisis ini mungkin juga akibat dari tidak memadainya strategi kompetisi ekonomi tertentu dalam arena ekonomi internasional. Garis pembenaran ini sangat dikuatkan oleh karangan Abel Aganbegyan, Inside Perestroika: The Future of Soviet Econoniy, (1989). Aganbegyan, penasihat ekortomi utama Gorbachev, memperjelas kelu-arbiasaan maksud Uni Soviet sekarang untuk dapat bersaing dalam ekonomi-dunia kapitalis pada tingkat kekuatan ekonomi yang penting. Menurut Aganbegyan, kata kunci perestroikaialahperubahanekonomi menuju promosi ekspor.

Bagi negara sosialis ,terkemuka dunia, ini merupakan sebuah pe-nyimp angan lu ar biasa dari praktek-praktek ekonomi masa lamp au, dai ini tentu menunjukkan adanya perubahan dalam pandang-an ekonomi dan kepentingan-kepentingan kelompok elit Soviet yang cukup besar. Hal itu juga meyakinkan, sebagaimana Aganbegyan secara hati-hati telah menyatakan, bahwa perestroika bukanlah sekadar tarnbalan ekonomi (economic tinkering). Gorbachev dan para pendukungnya nampaknya berbuat lebih dari sekadar memperbaiki kerusakan dalam ekonorni Soviet. Mereka nampak menuntaskan perubahan, yang dimulai belum lama sebelum mereka, Uni Soviet menuju partisipasi penuh dalam sistem dunia kapitalis. Jika masih ada keraguan mengenai yang sedang terjadi, kita perlu menyitir Aganbegyan sekali lagi (1989:175-176): Bagaimana prospek perestroika? Mandel telah mengajukan ernpat kemungkinan akibatnya. Pertarna, pembaruan akan dibiarkmberlanjut dan akan menghasilkan banyak akibat yang dikehendaki Gorbachev. Kedua, dorongan yang diberikan oleh perestroika akan menyebabkan Gorbachev disingkirkan oleh para pembaru yang lebih radikal, yang menginginkan perubahan yang lebih mendasar dalam sistem Soviet. Ketiga, usaha-usaha pembaruan tidak akanberjalan, dan sebagai akibatnya akan timbul pembersihan politis dalam partai, termasuk kemungkinan menyingkirkan Gorbachey. Terakhir, kegagalan usaha-usaha pembaruan yang terjadi cukup cepat akan menghasilkan banyak ketidakpuasan di kalangan kelas buruh, yang akan menjadi sangat terpolitisasi. Akibatnya, sebuah “kepemimpinan politik yang baru akan mun – cul dari kelas buruh dan dari kaum inteligensia sosi.alis yang mernbantu massa dalam menggapai tujuan–tujuan fundamental mereka. Revolusi politik, dalam arti klasik Marxis, akan mencapai kemenairwan” (Mandel, 1989:xvi). Mandel yakin bahwa, dari empat kemun.gkinan akibat itu, yang pertama adalah yang paling kurang dan yang ketiga serta keempat adalah yang paling mungkin. Sebagai seorang intelektual yang secara politik setia pada pandangan Marxis, Mandel terang menghendaki akibat yang keempat. Saya sendiri berpikir bahwa dua akibat pertama yang paling numgkin. Tentu saja, reaksi terhadap Gorbachev selalu mungkin, tapi nampaknya bahwa perubahan ekonomi yang telah terlanjur terjadi di Uni Soviet menjadi begitu mendalam dan mengembalikan jarum jam nampaknya sudah tidak mungkin. Karena perubahan-perubahan ini, kelompok elit Soviet yang penting sekarang selain mendukung seluruh strategi Gorbachev juga menginginkan beranjak lebih jauh daripada yang dilakukannya. Saya tidak akan heran bila, pada abad yang akan datang, ekonomi Soviet telah berubah secara dramatis.

Filed under : Bikers Pintar,