PENGERTIAN PERKAWINAN, KELUARGA, DAN KEKERABATAN DALAM PERSPEKTIF EVOLUSIONER ADALAH – Tidak seperti gejala evolusi pada teknologi, ekonomi, dEm organisasi politik, evolusi keluarga dan sis tem kekerabatan sama sekali tidak menunjukkan arah yang linier. Sebaliknya, evolusi sistem keluarga memmjukkan suatu pola kurvalinier (Blumberg dan Winch, 1977); keluarga-keluarga berskala kecil bersama-sama dengan keturunan bilateral lebih banyak terdapat pada ujung spektrum evolusi masyarakat pemburu dan peramu dan industri, sementara pengelompokan persekutuan keturunan unilateral terpusat pada masyarakatmasyarakat ternyata lebih dekat pacla bagian tengah spektrum itu (yakni, dalam masyarakat hortikultur dan banyak masyarakat agraris). Lagi pula, tidaklah mungkin untuk memandang berbagai bentuk residensi unilokal dan keturunan unilineal sebagai memiliki berbagai “tahap” dalam evolusi sosialbudaya. Patrilokalitas dan matrilokalitas, misalnya, maupun patrilini dan

adalah adaptasi yang berbeda terhadap berbagai kondisi yang me-landasinya; tak satupun daripada kondisi-kondisi itu yang dapat ditempatkan sebagai perkembangan yang “lebih rendah” atau “lebih tinggi” (atau sebagai “lebih dini ” atau lambat”) dalam evolusi sosial-budaya (yakni, bentukbentuk evolusi spesifik dan bukannya evolusi umum (cf. Aberle, 1961). Namun demikian, sis tem-sis tem perkawinan, keluarga, dan kekerabatan adalah gejala evolusi umum, karena sistem-sistem itu menunjukkan variasi yang teratur sepanjang arah menyeluruh transformasi evolusioner.

Berdasarkan atas suatu sampel sebanyak 90 masyarakat pemburu-peraru, Martin dan Voorhies (1975) menemukan bahwa 62 persen adalah bilateral,26 persen adalah patrilineal, dan hanya 12 persen mempunyai keturunan ganda atau matrilineal. Residensi adalah patrilokal atau bilokal, dan unit keluarga batih mendapat penekanan yang besar. Masyarakat pemburu dan peramu, dengan demikian, cenderung untuk mempunyai sistem keluarga yang sangat fleksibel, yang sangat adaptif dalam kondisi-kondisi perpindahan karena mengumpulkan bahan makanan. Walaupun ada kesamaan pola-pola keluarga pemburu dan peram» dengan yang dijumpai dalam masyarakat industri, namun terdapat suatu perbedaan yang penting. Di kalangan pemburu-peramu, kekerabatan menunjukkan keseluruhan jaringan kehidupan sosial, dan sesungguhnya setiap orang adalah anggota kerabat. Jadi kekerabatan mendominasi kehidupan sosial para pemburu-peramu sampai suatu tingkat yang barangkali tak dapat dipahami oleh anggota-anggota masyarakat industri. Perkawinan dalam masyarakat pemburu dan peramu Sering tapi frekuensi poligini lebih kecil. bila dibandingkan dengan di kalangan hortikulturalis. Perkawinan kadang-kadang dilegitimasikan dengan mas kawin. Tapi, sekali lagi, frekuensinya lebih kecil bila dibandingkan dengan dalam masyarakat hortikultur. Aturan-aturan eksogami secara tetap berlaku bagi keluarga batih, dan cukup sering diperl.uas ke kategori kerabat yang lebih besar. Kadang-kadang aturan-aturan itu diberlakukan untuk seluruh kumpulan (band).

Masyarakat hortikultur bercirikan adanya persekutuan kelompok keturunan, yang pada umunmya adalah Patrilini adalah tipe keturtman yang paling tinggi frekuensinya, tapi matrilini terdapat dalam perbandingan kasus yang cukup. Martin dan Voorhies (1975), dengan menggunakan sampel sebanyak 104 masyarakat hortikultur, melaporkan bahwa 56 persen adalah matrilini 24 persen, keturunan ganda 3 persen, dan keturunan bilateral 16 persen. Dalam kebanyakan masyarakat demikian, keluarga batib menjadisangat tersubordinasikan terhadap kelompok-kelompok kerabat yang lebih besar. Kelompok-kelompok yang berskala besar demiklan mendominasi jaringan kehidupan sosial, dan mereka merumuskan tempat setiap individu yang di dunia ini. llldividu uldividu saling bertalianberdasarkart keanggotaan mereka di dalam kelompok-kelompok persekutuan itu sebagai anggota dari kelompok yang sama atau kelompok-kelompok yang berbeda dan jenis sanak keluarga tertentu di dalam kelompok yang sama. Semua kegiatan sosial dilaksanakan dalam kerangka kekerabatan. Kelompok-kelompok demikian menjadi demikian penting pada tahap evolusi sosial-budaya karena kelompok-kelompok itu muncul untuk mengatur akses individu-individu untuk memperoleh tanah dan produk tanah itu. Keturunan unilineal mempunyai segi keunttmgan yang besar yang memungkinkan dibentuknya kelompok-kelompok kerabat yang tidak tumpang tindih, saling eksklusif, dan terpisah. Hal ini membolehkan setiap orang menjadt anggo ta satu kelompok tertentu saja. Keanggotaan dalam kelompok demikian membatasi hak-hak seseorang atas tanah dan harta benda lainnya, dan sebagai tambahan, menetapkan suatu susunan sanak keluarga tertentu ytmg dapat memberi bantuan dan pertolongan bilamana diperlukan.

Persekutuan kelompok keturunan memainkan peranan yang penting dalam mengatur perkawinan. Kelompok-kelompok itu adalah eksogami, dan hal u1i memaksakan orang untuk mencari istri di kalangan kelompok yang lain dari kelompok mereka sendiri. Perkawinan di dalam masyarakat hortikultur sering poligini, danmayoritas terbesar masyarakat hortikulturalis jelas menyukai bentuk perkawinan plural. Pembayaran mas kawin sering menyertai transaksi marital, khususnya pada masyarakat patrilineal. Dengan mtmculnya stratifikasi sosial yang intensif dan negara di dalam masyarakat agraris, maka kelompok-kelompok kerabat mulai menurun arti-nya. Kelas, kasta, dan golongan menjadi elemen-elemen kunci dalam organisasi sosial dan mulai menggantikan beberapa fungsi kelompok-kelompok kekerabatan sebelumnya. Negara menggantikan kekerabatan sebagai integrator utama masyarakat. Sementara kekerabatan tetap mempunyai arti penting yang bertahan dalam kehidupan kebanyakan individu, namun strukturnya berubah. Keturunan tuliliYleal mulai berkurang karena timbulnya keturtman bilateral, dan kedua tipe keturunan itu kira-kira tampak sebanding dalam masyarakat-masyarakat agraris. Suatu sampel sebanyak 53 masyarakat agraris menunjukkan 45 persen adalah patrilineal, 45 persen lainnya adalah bilateral, dan hanya 9 persen adalah matrilineal (Martin dan Voorhies, 1975). Jadi, sementara banyak masya.rakat agraris terus mempunyaipersekutuan kelompok keturunan, hampir sama banyak dengan itu mempunyai keluarga luas bilateral yang besar. Meskipunbanyak masyarakat agraris telakt melembagakan poliguli, tapi monogami menguasai praktek perkawinan kebanyakan orang. Hal ini menunjukkan meningkatnya biaya yang berhubungan dengan pemeliharaan lebih dari satu istri. Lagi pula, endogami barangkali lebih penting daripada eksogami sebagai prinsip perkawinan dalam kebanyakan masyarakat agraris. Perka-winan semakin dibatasi pada anggota-anggota kelas, kasta, a.tau kelompok etnik sendiri. Pembayaran mas kawin digantikan oleh harta bawaan. Masyarakat industri terintegrasikan oleh perekonomian dan negara, bukan oleh kekerabatan. Kehidupan kekerabatan dart keluarga mulai berku-rang artinya. Keluarga batih muncul sebagai satuan keluarga yang menonjol, dan jaringan kerabat luas secara bilateral, meskipun masih tetap ada, memainkan peranan yang kecil saja dalam kehidupan sosial. Keluarga di dalam masyarakat industrimenjadi suatu satua.n yang jauh berkurang fungsinya bila dibandingkan dengan di dalam masyarakat pra-industri, di mana banyak fungsi sebelumnya telah diambil alih oleh lembaga-lembaga laizl. Sebagai contoh, keluarga bukan lagi sebagai suatu satuan produksi ekonomi, tetapi diturunkan menjadi peranan konsumtif dalam perekonomian.

Perkawinan di dalam masyarakat industri secara universal adalah monogami, di mana poligami dilarang secara hukum. Sebagai tambahan, sis tem perkawinan ini diatur secara tegas oleh pertimbangan endogami. Orang xenderung kawin dalam kelas sosial dan dalam kelompok ras, etnik dan agamanya sendiri. Dalam konteks ini, perkawinan sebagian besar menjadi urusan pilihan sendiri bersama yang tidak dibatasi oleh kepentingan kelom_ pok kerabat yang lebih besar.

1. Tipe-tipe kelompok kerabat yang paling mendasar dalam masyarakat manusia adalah keluarga batih, keluarga luas, dan persekutuan kelompok keturunan. Keluarga batih terdiri dari seorang suami, seorang istri, dan anak-anak mereka yang hidup bersama dan memehhara sebuah rikmah tangga bersama. Keluarga luas adalahjaringan yang lebih besar dari keluarga-keluarga batih yang bertalian. Persekutuan kelompok keturunan adalah pengelompokan keluarga luas yang sangat besar yang dijumpai dalam banyak masyarakat pra-industri.

2. Semua masyarakat mempunyai cara untuk mengorganisasi tempat tinggal dan kelompok keturunan. Kelompok tempat tinggal adalah kelompok kerabat yang memelihara suatu rumah tangga bersama. Mereka itu dapat berupa patrilokal, matrilokal avunkLllokal, bilokal, ambilokal, natolokal, atau neolokal. Kelompok keturunan adalah kelompok indiyidu-individu yang mengorganisasi diri menurut prinsip-prinsip hubungan kekerabatan tertentu. Prinsip-prinsip itu dapat bersifat patrilineal, matrilineal, ganda, ambilineal, atau bilateral.

3. Keturunan patrilineal adalah tipe keturunan yang paling umum pada masyarakat di dunia ini. Tipe ini menelusuri keturunannya melalui ayah, dan kelompok keturunan ini dibentuk sekitar hubungan di antara ayah dan anak laki-laki kelompok patrilineal hampir selalu patrilokal. Keturunan matrilineal adalah tipe yang kurang umum yang menelusuri keturunan melalui garis ibu. Inti dari suatu kelbmpok keturunan matrilineal terdiri dari saudara-saudara perempuan dan saudara-saudara laki-laki yang mengatur masalah-masalah kelompok. Sistem keturunan matrilineal adalah unik dalam menetapkan “kebapakan sosiologis” mereka, yakni suatu pengaturan di mana anak-anak diasuh terutama oleh paman-paman dari pihak ibu bukannya dari pihak bapak biologis mereka. Kelompok keturunan matrilineal paling umum adalah matrilokal atau ayunkulokal, tetapi mereka juga menggunakan pengaturan tempat tinggal lain.

4. Kebanyakan ilmuwan sosial percaya bahwa sistem tempat tinggal adalah yang pertama ditetapkan dan kemudian menimbulkan pengaturan keturunan. Patrilokalitas dan patrilini rupanya dijumpai secara luas dalam kondisi-kondisi infrastruktur dan struktur, tapi khususnya di mana terdapat tekanan penduduk yang tinggi, sering terjadi perang dengan masyarakat-masyarakat tetangga, dan konsentrasi kekayaan. Teori matrilokalitas yang paling umum diterima ialah yang timbul dari kondisikond isi yang mengharuskan kaum pria sering tidak berada di wilayah rumah mereka untukjangka waktu yang lama. Perang yang dilakukan pada jarak yangjauh dari rumah agaknya merupakan alasan yang paling umum bagi kepergian demikian itu. Apabila matrilokalitas telah berkembang, maka rupanya matrilini akan timbul secara alarniah. Beberapa masyarakat matrilokal dan matrilineal cenderung untuk berkembang menurut arah pelestarian lembaga-lembaga matrilineal mereka, tetapi menggunakan avunkulokali tas, mungkin disebabkan oleh perlunya kaum kerabat laki-laki untuk bersatu guna mengelola bentuk-bentuk kekayaan yang baru.

5. Bentuk perkawinan yang mendasar’di seluruh dunia adalah monogami, pologini, dan poliandri. Poligini adalah bentuk perkawinan yang disukai dalam kebanyakan masyarakat dunia, tapi kebanyakan orang melakukan perkawinan secara monogami. Poliandri adalah praktek yang jarang.

6. Penghindaran kawin sumbang adalah suatu ciri universal masyarakat, manusia. Banyak masyarakat sesungguhnya menetapkan sanksi-sanksi yang keras terhadap kawin sumbang. Sedikit saja konsensus di kalangan ilmuwan sosial mengenai penyebab penghindaran kawin sumbang. Argumen-argumen yang mengemukakan bahwa kawin sumbang itu dilarang karena akan mengancam kestabilan kelornpok adalah yang paling umum. Lainnya percaya bahwa penghindaran kawin surnbang itu timbul dari kecenderungan biologis yang alamiah. Beberapa bukti mutakhir telah mendukung pandangan ini. Penghindaran kawin sumbang hendaknya tidak dikacaukan dengan eksogami, yang adalah suatu larangan untitk kawin di dalam persekutuan kelompok keturunan sendiri. Eksogami tersebar luas dalam masyarakat primitif, dan agaknya memainkan peranan yang penting dalam pembentukan aliansi di kalangan kelornpok-kelompok kerabat sehingga memperkecil konflik sosial yang destruktif. Endogami adalah suatu praktek yang tersebar luas dalarn masyarakat-masyarakat yang terstratifikasi secara kompleks. Endogami ini adalah kecenderungan pada orang-orang untuk kawin di dalam kelas, ras, dan lain-lain mereka sendiri.

7. Dalam banyak masyarakat primitif mas kawin pada umumnya dibayarkan oleh kelompok kerabat pengantin pria kepada kelompok kerabat pengantin wanita, yang dimaksudkan untuk membayar ganti rugi kepada kelompok si istri untuk kerugian pelayanan produktif dan reproduktifnya. Dalam masyarakat agraris harta bawaan menggantikan mas kawin. Harta bawaan adalah dana yang berharga yang dikumpulkan oleh seorang wanita untuk melakukan perkawinan.

8. Perkawinan, keluarga, dan kekerabatan adalah gejala evolusi, meskipun tidak sederhana. Hubungan di antara kekerabatan dan tahap perkembangan teknologi masyarakat adalah kurvalinier. Keturunan bilateral dan penekanan pada keluarga batih cenderung dijumpai sekurang-kurangnya dan berada pada ujung paling maju spektrum evolusi, yakni di kalangan para pemburu-pemburu dan industrialis. Masyarakat-masyarakat hortikultur pada umumnya mempunyai persekutuan kelompok keturunan unilineal. Kelompok-kelompok itu memainkan peranan penting dalam pengelolaan tanah. Masyarakat agraris juga cenderung untuk mengutamakan persekutuan kelompok keturunan, meskipun tidak terlalu mencolok seperti masyarakat hortikultur.

Filed under : Bikers Pintar,