PENGERTIAN PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI TERAPAN

67 views

Menurut George Foster, “Antropologi terapan- dianggap kurang ‘gengsi’ dibandingkan dengan antropologi yang berorientasi pada teori”. Dua sebab terpenting yang oleh Foster dianggap sebagai dasar status lebih rendah dari antropologi terapan adalah persoalan relativitas kebudayaan serta kemerdekaan pribadi manusia.5 Berbagai ahli antropologi merasa bahwa amatlah penting supaya di dalam segala segi antropologi kesadaran mengenai relativitas kebudayaan tetap dipertahankan, dan hendaknya menjauhkan diri dari penilaian mengenai kebudayaan orang lain ataupun bertindak sesuai dengan penilaian demikian. Terang sudah, bahwa apabila seorang ahli antropologi terjun dalam suatu program antropologi terapan, boleh dikatakan tak mungkin baginya untuk sepenuhnya memenuhi tuntutan tersebut di atas. Kedua, sudah lumrah bahwa ahli antropologi ingin mempertahankan kebebasannya sebagai peneliti yang berdiri sendiri. Sebagai profesor pada universitas, seorang ahli antropologi mempunyai semacam kemerdekaan profesional, kemerdekaan pribadi serta kemerdekaan akademis yang umumnya tidak berlaku dalam bidang antropologi terapan, karena ia senantiasa harus berhati-hati, sesuai dengan keinginan serta tuntutan-tuntutan dari badan bagaimanapun yang menggunakan tenaganya. Debat mengenai kapan dan apakah ahli-ahli antropologi memang harus ikut terjun dalam perubahan sosial yang terencana tak dapat tidak masih akan berlangsung dalam tahun-tahun mendatang. Penerapan antropologi pada permulaan sejarahnya juga mempunyai hubungan dengan statusnya dewasa ini. Antropologi terapan mula-mula digunakan oleh pejabat-pejabat dari beberapa negara besar di Eropa dalam pemerintahan kolonial masa itu. Pejabat-pejabat demikian umumnya bukan ahli antropologi, akan tetapi pekerjaan mereka menyebabkan bahwa mereka memerlukan paling tidak penelaahan hal-hal yang dasar mengenai bangsa-bangsa primitif yang mereka perintah. Sayang sekali, pengetahuan ini telah mereka miliki, terlalu sering digunakan untuk menekan kebutuhan dan keinginan dari penduduk bersangkutan, sehingga antropologi terapan memulai karirnya dalam cara yang sangat meragukan.

Para ahli antropologi terapan di Amerika Serikat khusus diandalkan karena nasehat mereka selama Perang Dunia II, waktu para tentara Amerika Serikat yang bingung serta heran, ingin memahami apa sebabnya musuh-musuh mereka orang Jepang “menolak” untuk bertindak sebagai orang-orang “normal”. Salah satu hal yang sangat menekan jiwa pemimpin-pemimpin militer Amerika adalah kecenderungan yang terdapat pada prajurit-prajurit Jepang, untuk mencoba bunuh diri waktu mereka ditangkap dalam pertempuran dan tidak membiarkan diri jadi tawanan pihak Amerika. Sudah pasti prajurit-prajurit Amerika yang ditawan tidak bersikap demikian. Akhirnya, angkatan perang mengerahkan sejumlah ahli antropologi sebagai penasehat Divisi Analisa Jiwa Asing dari Departemen Penerangan Lembaga Peperangan Amerika Serikat, untuk membantu mereka memahami kode kehormatan bangsa Jepang yang jelas-jelas berbeda sekali dari kode kehormatan orang Amerika. Setelah bekerja dengan para ahli antropologi itu, pihak militer Amerika dengan terheran-heran jadi tahu bahwa sebab utama dari sikap aneh tawanan-tawanan Jepang itu adalah keyakinan bangsa Jepang bahwa penyerahan diri dalam keadaan perang, sekalipun dalam keadaan terjepit sekali, atau bahkan dijadikan tawanan dalam keadaan luka dan pingsan sehingga penangkapan mereka tak akan dapat dicegah, merupakan penodaan yang luar biasa. Bangsa Jepang pun beranggapan bahwa pihak militer Amerika membunuh semua tawanan mereka. Jadi, dengan mengetahui bahwa tawanan-tawanan Jepang merasa demikian dinodai sehingga tak sanggup kembali ke kehidupan biasa mereka, serta kenyataan bahwa mereka sepenuhnya mengira walau bagaimanapun akan ditembak begitu saja oleh musuh yang menawan mereka, sama sekali tak mengherankan bahwa sejumlah besar prajurit-prajurit Jepang yang jadi tawanan, lebih senang menemui ajal terhormat melalui tindakan mereka sendiri. Dengan mengetahui jalan pikiran Jepang, pihak militer Amerika berusaha menerangkan kepada tawanan-tawanan Jepang bahwa mereka tak akan ditembak jika ditawan, dengan akibat bahwa jauh lebih banyak prajurit Jepang menyerah. Beberapa orang tawanan bahkan memberikan infor militer kepada pihak Amerika bukan dengan maksud mengkhianati negara mereka sendiri, melainkan karena hendak mencoba memulai kehidupan baru, karena penghinaan penawanan atas diri mereka tidak memungkinkan mereka untuk kembali memasuki kehidupan lama mereka.

Semenjak Perang Dunia II, para ahli antropologi terapan memusatkan perhatian pada proyek-proyek yang lebih tradisional sifatnya, misalnya dalam proyek perbaikan kesehatan dan perbaikan perumahan. Di Amerika Serikat misalnya sukarelawan-sukarelawan Peace Corps yang hendak bekerja di negara berkembang diberi penerangan oleh para ahli antropologi mengenai daerah-daerah tempat mereka bekerja. Namun proyek-proyek sederhana yang kelihatannya ini pun jauh lebih kompleks daripada yang diduga.

Incoming search terms:

  • antropologi terapan adalah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *