Advertisement

trust and co-operation (perserikatan dan kerja sama)

Kebanyakan penelaah perserikatan sepakat bahwa perserikatan (trust) memungkinkan terjadinya kerjasama dan dengan demikian meningkatkan kesejahteraan umum masyarakat. Tanpa perserikatan orang akan menghindari interaksi yang meskipun beresiko tetapi menjanjikan keuntungan (Hardin 1982; Orbeli dan Dawes 1993). Tetapi bagaimanapun, di luar pemahaman umum tentang pentingnya perserikatan sebagai fasilitator maupun pelicin dari hubungan antar-personal maupun antara-organisasional, baru terdapat sedikit konsensus mengenai sifat dan fungsi dari perserikatan.

Advertisement

Ahli-ahli ekonomi sering menganggap bahwa perserikatan didasarkan sepenuhnya pada kepentingan dari pihak-pihak yang mengikatkan diri pada perserikatan (trustee), dan pandangan ini juga dimiliki oleh beberapa ahli ilmu politik dan sosiologi (misalnya Coleman 1990;Hardin 1992). Dalam pandangan ini truster mengikat trustee untuk melakukan tindakan X jika dan hanya jika truster mengetahui bahwa kepentingan trustee akan terpenuhi dengan konsekuensi dari tindakan X tersebut. Dalam pengertian ini seseorang dapat membuktikan kesetiaannya (trustworthiness) melalui sebuah detektor kebohongan yang di tanam di dalam tubuhnya melalui sebuah operasi yang akan secara otomatis meledakkan bom pada saat ia berbohong; jadi tidak seorang pun akan ragu terhadapnya. Berbagai sandera seperti garansi bagi mobil bekas ini memainkan peran sebagai “bom”, serta menunjukkan tanda bahwa ia bisa dipercaya. Yang akan mengambil keuntungan dengan meyakinkan bahwa dirinya bisa dipercaya mendapat insentif untuk menempatkan sandera seperti itu. Kesetiaan dengan demikian didasarkan pada kepentingan dari trustee.

Harus dicatat bahwa teori yang didasarkan pada kepentingan diri dari perserikatan ini adalah sebuah teori kesetiaan, bukannya perserikatan. Perserikatan tidak memainkan peranan yang independen dalam teori ini, atau “perserikatan itu dalam dirinya sendiri tidak terdiri dari apa-apa” (Hardin 1992; 512). Kepercayaan dari seorang truster kurang-lebih merupakan penilaian yang akurat terhadap kesetiaan trustee.

Sebaliknya, banyak psikolog meyakini bahwa perserikatan kepercayaan ada di saat perhitungan kepentingan diri berakhir. Seperti yang disebutkan oleh Lewis dan Weigert (1985) “Pengetahuan yang berdiri sendiri tidak akan pernah menyebabkan kita percaya (to trust)” dan “perserikatan dimulai ketika prediksi sederhana memenuhi tujuan (1985: 970, 976). Psikolog biasanya tertarik pada perbedaan individual mengenai kepercayaan sebagai sebuah ciri pribadi. Sebagai contoh. Rotter(1967:653) mendefinisikan kepercayaan sebagai sebuah “pengharapan yang digeneralisasi” (generalized expectancy sehingga pernyataan-pernyataan lisan maupun tertulis dari orang lain dapat diandalkan”. Di mana pun kepercayaan hanya merupakan refleksi dari kesetiaan seseorang dalam pendekatan yang didasarkan pada kepentingan diri, sesuai dengan pendekatan psikologi kepercayaan tidak hanya mencakup pengamatan obyektif dari kesetiaan seseorang.

Sesuai dengan pendekatan ini, kepercayaan dari truster dan sikap koperatif trustee adalah dua sisi dari satu mata uang. Seseorang akan bekerja sama jika dan hanya kerja sama itu konsisten dengan kepentingan orang tersebut. Baik kepercayaan truster maupun kerja sama trustee pada akhirnya didasarkan kepentingan trustee. Sebaliknya, psikolog lebih memperhatikan pada hubungan antara kepercayaan dan kerja sama dalam perilaku seorang individu. Banyak kajian empiris telah berulangkah menunjukkan korelasi positif antara kepercayaan (yaitu pengharapan dari tindakan kooperatif seorang mitra) dan perilaku kooperatif (lihat Dawes 1980 untuk kajian dari literatur ini). Arah hubungan kausal antara keduanya belum dirumuskan sepenuhnya. Pruitt dan Kimmel (1977) yakin bahwa kepercayaan adalah sebuah kondisi kritis bagi kooperasi: kerja sama terjadi jika seseorang yang telah mengembangkan motivasi kooperatif dapat mempercayai orang lain dan mengharap bahwa mereka tidak bertindak eksploitatif. Orbeli dan Dawes (1993), bagaimanapun, memperdebatkan bahwa peng-harapan seperti ini adalah sebuah “proyeksi” dari kesetiaan seseorang.

Sejak awal tahun 1990-an telah muncul pendekatan yang ketiga yang mendasarkan perserikatan pada kepentingan pihak truster, dan bukannya pada trustee (yaitu Orbeli dan Dawes 1993; Yamagishi dan Yamagishi 1994). Kepercayaan dalam pendekatan ini dapat didefinisikan sebagai bias kognitif dalam penilaian niat dari trustee yang didasarkan pada informasi yang tidak sempurna. Pendekatan ini mengklaim bahwa bias kognitif seperti itu atau heuristic memiliki “nilai survival” dalam lingkungan sosial tertentu.

Incoming search terms:

  • perserikatan kerja
  • arti perserikatan
  • arti perserikstan
  • arti truster
  • pengertian hubungan kerjasama dan kepercayaan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • perserikatan kerja
  • arti perserikatan
  • arti perserikstan
  • arti truster
  • pengertian hubungan kerjasama dan kepercayaan