PENGERTIAN PERSOALAN KEMAJUAN ORANG KULIT HITAM – Dalam dekade lalu atau sekitar itu persoalan penting bagi banyak ilmuwan sosial ialah sejauh manakah orang kulit hitam di Amerika Serikat telah mencapai kemajuan dalam mencapai persamaan dengan orang kulit putih. Sebagaimana dicatat oleh para ilmuwan sosial, gerakan hak-hak sipil tahun 1960-an telah secara khusus ditunjukkan untuk mewujudkan tujuan ih.t. Jadi sekarang, setelah sekitar 30 tahun mulainya gerakan itu, sudah sejauh manakah keberhasilannya?

Reynold Farley (1984) melukiskan tiga pandangan yang berbeda mengenai persoalan kemajuan orang kulit hitam. Pandangan optimistik memandangl3ahwa orang kulit hitam pada umumnya telah mengalami kemajuan selama dekade terakhir ini; pandangan pesimistik menand askan bahwa kemajuan orang kulit hitam adalah khayalan belaka, atau sekurang-kurangnya jauh lebih terbatas daripada yang secara umum dipercayai; dan tesis polarisasi rnenandaskanbahwa, sementara sebagian orang kulit hitam memang telah mengalami kemajuan yang berarti, sejumlahbesar telah mengalami kemunduran dalam kesempatan hidup mereka dan malah semakin jauh tertinggal di belakang orang-orang berkulit putih. Barangkali contoh yang paling baik dari pandangan optimistik itu ialah Farley sendiri. Farleymengakui bahwa di beberapa daerah orangorang kulit hitam masih cukup jauh ketinggalan dari orang-orang b erkulit putih dibandingkan dengan tiga dekade lalu. Sebagai contoh, pengangguran orang-orang, berkulit hitam masih kira-kira dua kali lipat penganggurart berkulit putih, segregasi pemukiman di antara yang berkulit putih dan berkulit hitam masih mencolok, dan sedikit saja kemajuan yang terjadi ke arah integrasi sekolah-sekolah di kota-kota besar negara ini. Akan tetapi, Farley menandaskan bahwa di segi-segi lain, orang-orang berkulit hitam telah mendapat kemajuan berarti. Perbedaan ras dalam pencapaian pendidikan telah berkurang, orang-orang berkulit hitam telah lebih banyak menclapat kesempatan menduduki pekerjaan-pekerjaan yang berprestise dan yang rn endapat pembayaran tinggi dan penghasilan orang-orang berkulit hitam yang bekerja telah sangat n-teningkatt. Farley berkesimpulan bahwa pencapaian orangorang berkulit hitam telah menjadi besar dan tersebar luas. Pandangan pesimistik paling keras dianut oleh Alphonso Pinkney (1984). Pinkney menegaskan bahwa orang-orang berkulit hitam tidak membuat kernajuan sama sekali dalam tahun-tahun terakhir ini, tapi ia memang menegaskan bahwa besarnya kemajuan itu telah sangat dibesar-besarkan oleh para ilmuwan sosial berkulit putih maupun berkulit hitam. Ia sangat memberi perhatian kepada apa yang dipercayainya yakni kuatnya kelestarian rasisme, prasangka, dan cliskriminasi. Ia yakin bahwa Amerika Serikat masih seluruhnya suatu masyarakat rasis, meskipun terjadi penurunan pada beberapa bentuk rasisme yang kurang sopan. Rasisme ini secara nyata menjadi suatu ideologi yang otonom dan yang mengekalkan diri sendiri serta bertanggung jawab atas berlanjutnya diskriminasi ras dan subordinasi. Sebagai akibat, orang-orang berkulit hitam sedikit saja mencapai hasil dalam meningkatkan pekerjaan dan tingkat pendapatan mereka dan dalam pemberlakuan sebagai rekan yang sama dengan orang-orang berkulit putih. Bertentangan dengan kedua pandangan itu adalah tesis polarisasi yang menurut saya adalah yang paling peka dari ketiganya. Memang wakil yang penting dari pandangan ini ialah William Julius Wilson, seorang sosiolog utama berkulit hitam. Pandangan Wilson adalah suatu pandangan yang kompleks dan halus yang telah dikembangkart di dalam clua buku yang ditulis satu dekade yang lalu. Di dalarn The Declining Significance of Race (1978),Wilson menandaskan bahwa Amerika Serikat telah mengalami tiga periode historis relasi ras yang berbeda: periode-periode pra-industri, industri, dan industri modem. Seperti tercantum dalam teks utama, Wilson menandaskan bahwa teori Marx ortodoks berupaya untuk menjelaskan pola relasi ras dalam periode praindus tri, sementara teoripasar tenaga kerja terbagi jauh lebihbaik dalam menjelaskan antagonisme rasial selama periodeindustri. Tetapi sesudah akhir Perang Dunia II Amerika Serikat memasuki periode relasi ras industri modern, suatu periode, yang Wilson percaya, di mana teori Marx ortodoks maupun teori pasar tenaga kerja terbagi tidak berlaku secara memadai. Memang, ia mengajukan suatu tesis yang baru sama sekali untuk menjelaskan pola relasi ras selama periode ini. Ditegaskannya bahwa periode industri modern telah menyaksikan “menurunnya makna ras” dan, karena itu, meningkatkan makna kelas. Ditandaskannya bahwa nasib ekonomi orang-orang berkuLit hitam sekarang lebih ditentukan oleh kekuatan-kekuatan kelas dibanding dertgan kekuatan ras.

Wilson meletakkan bobot argumennya itu atas suatu analisis tentang bentuk struktur kelas orang berkulit hitarn yang sedang berubah selama beberapa dekade terakhir ini. Dicatatnya bahwa suatu kelas menengah orang-orang berkulit hitarn mulai terbentuk pada masa perempat pertarna abad xx. Sampai sesudah Perang Dunia II kelas ini merupakan hanya suatu bagian yang sangat kecil dari total populasi berkulit hitam. Akan tetapi, mulai sekitar tahun 1950 kelas ini m.ulai meluas. Kelas ini bertu mbuh dari 16 persen dari jurnlall penduduk ber.kulit hitam clalam tahun 1950 menjadi 24 persen dalam tahun 1960 dan kira-kira 35 persen dalam tahun 1970. (Definisi Wilson rnen.genai “kelas menengah” untuk penduduk berkulit hitam meliputi kelas pekerja berkulit hitain dertgan peng-hasilan yang tetap). Wilsonmenjejaki kenaikan ini terutama untuk suatu ekspansi umum sektor ekonomi perusahaan dan pemerintah dengan menandaskan bahwa ekspansi umum itu telah sangat meningkat de-ngan adanya kesempatan kerja kantor (white-collar) bagi orang-orang berkulit hitam yang lebih berbakat dan berpendidikan lebih baik. Pertumbtthan kelas menengah berkulit hitam ini telah disertai oleh terus terkonsentrasinya banyak orang berkulit hitam pada anak tangga terbawah dari tangga sosial-ekonomi, yang menyebabkan distribusi pendapatan di kalangan orang-orang berkulit hitam sekarang menjadi lebih tidak sama bila dibandingkan dertgan di kalangan berkulit putih. Jadi, meskipun banyak mobilitas ke atas telah dicapai oleh orang-orang berkulit hitam dalam dekade-dekade terakhir ini, suatu kelas bawah yang besar dari orang-orang berkulit hitam yang miskin masih ada; lagi pula, situasi ekonomi kelas bawah ini semakin memburuk dalam tahuntahun terakhir ini. Orang-orang miskin berkulit hitam itu, menurut Wilson, merupakan warisan dari sekian dekade diskriminasi sebelumnya atas orang-orangberkulit hitam. Wilson juga selanjutnya mengemukakan bahwa, pada dewasa ini, nasib ekonomi mereka lebih ditentukan oleh posisi kelas yang ditempati bersama dengan orang-orang kelas bawah berkulit putih bila dibandingkan dengan ras mereka sendiri. Dengan kata lain, Wilson memaksudkan bahwa sejumlah besar kelas bawah berkulit hitam terbentuk melalui diskriminasi rasial sistematis selama berpuluh tahun, ttapi persistensinya lebih disebabkan oleh identitasnya sebagai kelas bila dibandingkan dengan diskriminasi rasial yang terus-menerus.

Dalam hubungan dengan persoalan kemajuan orang-orang berkulit hitam, argumen Wilson ialah bahwa selama empat atau lima dekade lampau komunitas berkulit hitam telah semakin mencabang ke dalam suatu kelas menengah yang kecil dan suatu kelas bawah yang besar. Dalam The Truly D isadzYantage (1987) ia secara khusus berkonsentrasi atas situasikelas bawahberkulit hitam. Sebagaimana dicatatnya, sejak saat ia menulis bukunya yang terdahulu kelas bawah ini telahmenjadisemakin miskin, terdemoralisasi, dan terisolasi. Anggota-anggotanya telah menderita karena semakin banyak yang tidak mempunyai pekerjaan, kehancuran keluarga, da_n ketergantangan kesejahteraan, dan semakin berpaling kepada kejahatan kekerasan dan kegiatan-kegiatan di luar hukum guna mengatasi situasi yang semakin memburuk. Wilson menyebut sejumlah faktor untuk menjelaskan keadaan yang terus memburuk itu. Meskipun kelas bawah kulit hitam terbentuk sebagai akibat aclanya diskriminasi ras yang ekstrim selarna banyak dekade, bukan diskriminasj yang akan menjelaskan konclisi yang memburuk itu, tetapi terutarna suatu gabungan kondisi-kondisi ekonomi, geografi dan sosial tertentu. Banyak industri telah meninggalkan kota-kota di mana kelas bawah kulit hitam terkonsentrasi, membawa serta dengan mereka sejumlah besar pekerjaan untuk mana orang-orang berkulit hitam berpendidikan rendah paling cocok. Juga terdapat suatu kenaikan yang besar dalam jumlah pemuda berkulit hitam, jadi ikut menan-iba_h masalah pada masalah pengangguran. Pada saat yang sama, perluasan sektorsektor ekonomi perusahaan dan pemerintahan, seperti telah dicatat, telah memungkinkan lebih banyak orang berkulit hitam yang berbakat dan berpendidikan yang lebih baik untuk semakin meningkat beralih ke pekerjaan kantor (white-collar) yang lebih stabil. Ketika mereka berbuat demikian, Inaka kelas menengah kulit hitam itu berpindah dari pernukiman kulit hitam, di mana mereka pernah tinggal bersama dengan kelas bawah kulit hitam, ke pemukiman kelas pekerja dan kelas menengah yang dulunya semuanya kulit putih. Ha,lini telah menimbulkan suatu gerakan yang sangat serius ke arah integrasi sosial komunitas kulit hitam dan selanjutnya malah ikut menyumbang kesengsaraan ekonomi kelas bawah kulit hitarn. Sebagaimana dijelaskan oleh Wilson (1987: 56- 57): Eksodus keluarga-keluarga kelas menengah dan kelas pekerja dari banyak pemukiman ghetto akan menyingkirkan suatu “gencetan sosial” (socialbilffer) yang dapat menyimpangkan dampak pengangguran yang berlarut-larut dan meningkat yang melanda pernukiman-pemukirnan kota dalam tahun 1970-an dan awal tahun 1980-an. Argumen ini didasarkan pada asumsi bahwa jikapun segmen-segmen daerah kota yang mengalami kenaikan pengangguran jangka panjang, lembagalembaga di daerah itu (gereja, sekolah, toko, fasilitas rekreasi, dan sebagainya) akan tetap hidup jika banyak dasar dukungan mereka datang dari keluarga-keluarga yang lebih stabil secara ekonomi dan terjamin. Lagi pula, kehadiran keluarga-keluarga itu selama periode demikian akan mernberi model-model peranan utama yang ikut mernbantu mempertahankan persepsi bahwa pendidikan adalah penting, bahwa emploimen yang mantap adalah suatu alternatif bagi kesejahteraan, dan bahwa stabilitas keluarga adalah normanya, bukan kekecualiannya.

Jadi, di suatu pemukiman yang mempunyai sejumlah kecil keluarga yang bekerja secara teratur dan yang -mernpunyai mayoritas keluarga yang tidak mempunyai pekerjaan jangka panjang, orang akan mengalami suatu isolasi sosial yang menyisihkan mereka dari sistemjaringan kerja yang akan merembesi pemukiman lainnya dan adalah demikian pentingnya dalam belajar tentang atau menganjurkan untuk mencari pekerjaan yang tersedia di berbagai bagian kota. Dan karena prospekprospek untuk memperoleh pekerjaan berkurang, maka alternatif lain seperti ekonomi kesejahteraan dan bawah tanah bukan saja semakin diandalkan, tapi juga dipanclang sebagai siiatu cara hidup.

Bagaimana situasi yang semakin berbahaya ini dapat dibalikkan? Sebagaimana ditand_askan oleh Wilson secara meyakinkan, hal itu tak clapat dilakukan sekedar dengan apa yang disebut kebijakan-kebijakan spesifik ras, misalnya progran-t-prograrn tinciakan pembenaran. Program-program demikian hanya efektif dalam membuka kesempatankesempatan bagi orang-orangberkulit hitam yang miskin yang membutuhkannya. Apa yang diperlukan tidak kurang daripada suatu program reformasi ekonomi yang mendasar yang dipirnpin oleh pemerintah yang dapat men ciptakan banyak pekerjaan baru yang secara khusus dapat diperoleh oleh kelas bawah kulit hitam. Masihakan dilihat apakah program demikian akan tiba dalam masa depan yang dekat ini.

Filed under : Bikers Pintar,