Teoretisi kepribadian.

Pengertian personality (personalitas) adalah “Hanya ada sedikit perbedaan antara seseorang den­gan orang lainnya,” kata William James pada awal abad ke-20, tetapi “perbedaan kecil ini amatlah penting.” Persoalan yang penting itu adalah personalitas atau kepribadian. Personalitas terdiri dari atribut dan proses biologis dan psikologis, mas­ing-masing jika dipisahkan akan memiliki kesamaan dengan beberapa atau seluruh personalitas orang lain, tetapi unik bagi individu dalani konfigurasinya. Teoretisi kepribadian karenanya berhadapan dengan banyak pendekatan: mereka bisa berkon­sentrasi pada struktur konfigurasi itu atau memilih dari sejumlah atribut dan proses yang mereka anggap signifikan untuk me­mahami perbedaan individual. Keberhasil­an mereka dalam memanfaatkan kebe­basan mernilih ini didokumentasikan oleh Gordon Allport (1937), yang mengidenti­fikasi hampir 50 konsep berbeda tentang personalitas.

Kesenangan dan moralitas.

Akan tetapi, ada satu pendekatan yang mendominasi pemikiran kepribadian sepanjang abad ke-20: Sigmund Freud (misalnya, 1923). Namun pendapat ini tidak diakui secara universal; sebaliknya, dapat dikatakan bahwa pengaruhnya yang lama itu dibantu oleh para penentangnya (misalnya Eyserick, 1947, 1982) dan pen­dukungnya. Pandangan ini mendominasi seluruh kultur. Bagaimanapun juga, ja­rang ada pendekatan sistematis untuk pe­mikiran kepribadian yang tidak merujuk pada konsep global Freud, entah itu secara positif atau negatif. Esensi pendekatannya terletak dalam pandangan tiga struktur kepribadian, yang merupakan klasifikasi komprehensif dari proses psikologis yang terus-menerus berinteraksi: proses ego, yakni hubungan timbal balik dengan du­nia luar, termasuk persepsi, pembelajaran, memori, pemikiran dan tindakan serta me­kanisme pembelaan bawah sadar; proses id, mencakup kebutuhan biologis, penca­rian kesenangan dan pengalaman yang ter­tekan, semuanya bawah sadar; dan proses superego, yakni aplikasi standar moral yang diinternalisasikan untuk diri sendiri. Pendapat tentang struktur personalitas ini mirip dengan klasifikasi Aristoteles ten­tang tujuan dasar dalam tindakan manusia sebagai profit, kesenangan dan moralitas. Dalam interaksi dinamisnya, tiga tipe prses dapat inenarik ke arah yang berbeda dan karenanya menjelaskan pengalaman­pengalaman kontlik batin dan gangguan kepribadian. Ide dasar Freud tentang struktur per­sonalitas dielahorasi dan dimodifikasi se­bagian oleh dirinya sendiri, tetapi sebagian besar oleh pengikutnya termasuk putrinya, Anna, yang menyebut mekanisme pem­belaan tambahan, oleh Heinz Hartmann yang mempostulatkan otonomi proses ego, dan oleh Erik Erikson yang menempatkan perkembangan ego ke dalam konteks so­sialnya dan mendeskripsikan tahap-tahap­nya di sepanjang siklus kehidupan. Alfred Adler dan Carl jung, yang pada awalnya adalah pengikut tetapi kemu­dian mengkritik Freud, mengembangkan pendapat sendiri tentang personalitas. Adler, pencipta istilah “inferiority complex,” me­mahami kepribadian sebagai kebiasaan awal untuk mengatasi perasaan inferior bayi, se­buah pengalaman yang cenderung berulang saat menghadapi dunia sosial dan tuntutan eksternal. Berbeda dengan Freud yang pesi­mis, dia menganggap dorongan meraih superioritas, keinginan untuk herkuasa, merupakan akar dari seluruh perkemban­gan manusia. Jung sedikit berbeda dengan Adler dan pendapatnya agak mirip dengan kon­sep dasar Freudian, meski kosakata ima­jinatifnya untuk proses psilcologis, yang diselimuti oleh ide-ide mistik, menutupi kesamaan ini. Dia menambahkan gagasan ketidaksadaran kolektif ke dalam model Freudian, ketidaksadaran yang ditrans­misikan dari leluhur kita, yang dianut oleh semua orang dan memuat arketip pemikir­an dan emosi. Dia juga memperkenalkan istilah “extraversion” dan “introversion” ke dalam psikologi kepribadian yang kelak berperan penting dalam pendekatan yang berbeda. Oposisi intelektual terhadap models psilwdinamis muncul di dalam dan di luar psikologi serta di dalam dan di luar akade­misi, yang didasarkan pada dua argumen utama: keberatan terhadap determinisme oleh masa kanak-kanak awal dan proses bawah sadar; dan keberatan terhadap metode “tak ilmiah” yang dipakai psiko­analisis. Keberatan pertama menimbulkan psi­kologi humanistis, yang sernpat disebut se­bagai kekuatan ketiga di dalam psikologi yang berada di antara kekuatan PSYCHO­ANALYSIS dan BEHAVIOURISM. Di bawah pe­ngaruh eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan fenomenologi Martin Heidegger, ide bawah bawah sadar ditolak dan diganti dengan kehendak bebas, agensi, ada-di­dunia, dan becoming sebagai aspek sentral dari kepribadian. Pengertian personality (personalitas) adalah Ludwig Binswanger di Swiss, Carl Rogers dan Abraham Maslow di AS, dan Ronald Laing di Inggris, adalah eksponen utama dari konsep ini; masih be­lum diketahui apakah mereka akan tetap terus bertahan. Keberatan terhadap konsep psikodina­mis sebagai tidak ilmiah didasari oleh pendapat mereka teritang sains yang tidak mengakui hipotesis yang tidak bisa diuji se­cara eksperimental. Tentu saja, adalah se­mentara jelas bahwa eksperimentasi meng­hadirkan tes ide-ide (dalam praktiknya beberapa ide Freud telah diuji dalam ratu­san eksperimen), namun pendekatan dasar ini sangat sulit, jika bukannya mustahil, untuk dites secara eksperimental. Henry Murray (1959) dan Gordon All­port (1.961) memberi kontribusi penting baik itu untuk asumsi dasar tentang struk­tur kepribadian maupun untuk metodenya. Keduanya berkonsentrasi pada orang nor­mal dalam habitat naturalnya, dengan per­hatian naturalnya; keduanya memandang motivasi sebagai pusat penataan person­alitas. Murray, yang mengaku dipengaruhi oleh Freud dan Jung, menolak dua motif dasar Freud—dorongan kehidupan dan kematian—karenanya dianggapnya ter­lampau terbatas. Dia mengusulkan sekitar 20 kebutuhan yang berasal dari otak yang berinteraksi dengan “tekanan-tekanan,” yakni properti lingkungan sosial yang me­menuhi atau menghambat pemuasan ke­butuhan itu. Allport lebih kritis terhadap model Freudian. Dia menganggap kepriba­dian dimotivasi oleh bakat bawaan dan niat rasional yang dipadukan, yang dise­butnya “proprium,” yang diartikannya sebagai sistem psikofisik yang cenderung mengarah pada otonomi fungsional dari motif-motif (independen dari motivasi kanak-kanak).

Struktur kepribadian. Pengertian personality (personalitas) adalah

Pengaruh dari dua teoretisi kepriba­dian ini sangat besar, tetapi ide-ide mereka tentang struktur kepribadian tidal< dikem­bangkan lebih lanjut. Ada banyak temuan dan skala kepribadian yang disusun dan distandarisasikan. Kini ada instrumen un­tuk berbagai atribut kepribadian, seperti ex­traversion/introversion, kecemasan, depresi, machiavelisme, anomie, penilaian moral, prasangka, dan lain-lain. Mereka dipakai secara luas untuk membandingkan antara kelompok, untuk periode waktu, meski mereka juga bisa membantu mengklari­fikasi ide-ide tentang sifat dari disposisi tersebut. Mereka yang mempostulatkan kom­ponen warisan (hereditary) dalam kepri­badian, tentu saja, puas dengan ukuran yang menyeluruh; penekanan mereka pada determinasi biologis dari tipe kepribadian adalah berbeda. William Sheldon (1942) memandang kepribadian ditentukan oleh struktur tubuh; Hans Eysenck (1982) meng­anggapnya ditentukan oleh sistem syaraf. Dengan mengikuti tradisi Hippocrates, Sheldon menganggap temperamen sebagai esensi dari kepribadian. Dia mempostulat­kan ketergantungannya pada somatotype seseorang dan menemukan korelasi tinggi antara dua variabel ini. Menurut Eysenck, esensi kepribadian ditentukan oleh proses otak, yang belum sepenuhnya dipahami, yang hasilnya dapat diukur berdasarkan empat dimensi yang independen satu sama lain. Dimensi itu adalah: extraversion/in­troversion, neurotisisme, psikotisisme, dan 1<ecerdasan. Skala Eysenck untuk tiga di­mensi ini kini dipalcai luas dalam riset bah­kan oleh mereka yang tidak menyetujui pendekatannya. Buku teks utama tentang teori kepriba­dian (Hall et. al. 1985) menyajikan banyak kontributor lain, termasuk beberapa ahli teori pembelajaran, terutama B. F. Skinner. Tetapi, dapat diperdebatkan apakah dia dan behaviouris lainnya memberi kontri­busi untuk pemikiran tentang kepribadian, betapa pun pentingnya mereka dalam kon­teks lain; mereka jelas tidak mengklaim demikian. Pengertian personality (personalitas) adalah Asumsi adanya organisasi in­ternal yang menjelaskan interpretasi dunia eksternal tampaknya bertentangan dengan jalan pemikiran Skinner. Di akhir abad ke-20 tidak ada pendeka­tan yang diterima umum untuk memahami kepribadian. Perbedaan utama antara mo­del psikodinamis dengan asumsi tentang modei mental bawah sadar dan model lainnya, meski ada kontroversi di masing­masing model. Usaha untuk menjembatani perbedaan ini secara periodik dilakukan di sepanjang abad ke-20; tetapi usaha itu gagal. Usaha paling baru (Westen, 1985) adalah upaya menunjukkan kompatibilitas (kesesuaian) hasil riset empiris dengan ide psil«)dinamis. Tetapi upaya ini masih be­lum jclas keberhasilannya.