PENGERTIAN PERSPEKTIF KONSTELASI TEORI-TEORI ADALAH – Konstelasi teori berintikan beberapa dasar pemahaman dalam membangun teori antropologi, yaitu (a) berdasarkan rangkaian kejadian atau peristiwa; (b) berdasarkan urutan waktu; (c) berdasarkan sistem gagasan; (d) berdasarkan kesejajaran tradisi-tradisi bangsa; dan (e) berdasarkan `pokok bahasan yang melompat-lompat’ (agenda hopping). Perspektif inilah yang memberi corak isi buku ini. Dalam bab-bab selanjutnya, penulis hanya akan memusatkan perhatian pada sebagian paradigma pokok berdasarkan pertimbangan relevansi dengan keberadaan paradigma-paradigma yang hingga masa kini tetap struggle dan berkembang sesuai dengan zaman.

Dengan pengecualian paradigma evolusionisme, yang releynsinya diperdebatkan pada masa kini, dan banyak teks tidak lagi memasukkan paradigma ini ke dalam pembahasan antropologi kontemporer (misalnya, Layton, 1996), penulis tetap memasukkannya atas dasar pertimbangan antropologi dan teori-teori antropologi secara langsung atau tidak adalah produk dari pemikiran evolusionisme. Paradigma evolusionisme adalah induk dari semua pemikiran teori antropologi. Teori-teori dalam paradigma evolusionisme tidak dibicarakan secara detail karena banyak di antaranya tidak lagi mampu dan relevan untuk menjelaskan persoalanpersoalan antropologi kontemporer. Secara khusus, misalnya, partikularisme sejarah, evolusionisme awal, dan kebudayaan dan kepribadian. Tentu saja justifikasi relevan atau tidak relevan dalam hal ini lebih merupakan pembahasan yang “tertunda”, karena bukan hal mustahil pada suatu waktu kelak, paradigma-paradigma tersebut mengalami revisi atau modifikasi sehingga secara kontekstual mampu menjawab persoalan tertentu yang muncul pada masa itu.

Isu seleksi menjadi penting di sini, dan yang menjadi persoalan adalah pertimbangan-pertimbangan saat melakukan seleksi. Dengan kata lain, suatu paradigma terdiri dari teori-teori yang telah diseleksi. Seperti telah dikemukakan di atas, penggolongan ini bersifat relatif karena tentu ada teori-teori dalam paradigma tertentu dapat pula dimasukkan ke dalam paradigma yang lain. Sebagai contoh, teori kulturkreise dan difusionisme Inggris dapat dimasukkan ke dalam paradigma partikularisme historis meskipun keduanya juga dapat dimasukkan ke dalam paradigma evolusionisme. Selalu ada bias dalam membangun kategori semacam ini. Sebagian antropolog mungkin memandang antropologi simbolik sebagai paradigma tersendiri yang terpisah dari paradigma antropologi psikologi dengan alasan bahwa antropologi simbolik telah berkembang lebih jauh menjadi interpretivisme simbolik dengan persoalan metodologi yang lebih maju dan lsompleks. Karena itu, bukan tak mungkin jika kemudian paradigma interpretivisme simbolik tampil sebagai paradigma baru pada akhir tahun 1980-an.

Filed under : Bikers Pintar,