Advertisement

Dalam perkembangan kehidupan manusia tidak jarang kelompok suatu suku bangsa tertentu berpindah dari daerah asalnya menuju daerah suku bangsa lain atau ke suatu daerah yang dihuni oleh berbagai macam suku bangsa, sehingga di daerah itu terjadi hubungan antarpenduduk. Interaksi mereka itu kemudian menyebabkan ciri suatu suku bangsa (dengan kebudayaannya yang spesifik) lambat laun menjadi hilang, dan pada akhirnya membentuk sebuah kelompok sosial baru yang berbeda dengan asal mereka masing-masing. Dalam perkembangannya kemudian proses percampuran ini dapat melahirkan sebuah pola hidup baru, karena masing-masing kelompok sosial akan saling berinteraksi dalam rangka memenuhi kebutuhannya masing-masing, sehingga tercipta suatu pola hidup yang sama dengan identitas yang sama pula. Akhirnya lahirlah satu identitas bentukan baru. Keadaan semacam ini dapat kita saksikan misalnya dalam kehidupan di perkotaan. Ciri kuat dari kehidupan kota ialah pola hidup jasa dan sistem stratifikasi sosial yang spesifik, berbasis pendidikan, politik dan ekonomi dari masyarakatnya, sehingga kedudukan seseorang dalam strata tertentu tidak didasarkan pada suku bangsa, tetapi tergantung pada faktor pendidikan, politik dan ekonomi.

Kelompok suku bangsa tertentu dapat mempunyai bentuk pola hidup yang berbeda, tergantung pada karakteristik lingkungan alam di mana mereka tinggal. Dalam rangka melangsungkan kehidupan, mereka-dalam batas-batas tertentu-mendapat pengaruh dari faktor-faktor lingkungan alam, meskipun secara kesukubangsaan mereka sebenarnya diikat oleh suatu identitas suku bangsa yang sama. Seorang dari suatu suku bangsa tertentu misalnya, yang karena bermukim di daerah subur, melakukan kegiatan bersawah sebagai mata pencariannya, dan kepercayaan yang dimilikinya adalah keyakinan supranatural tentang kesuburan tanaman. Sementara, orang lain dari suku bangsa yang sama, karena bermukim di daerah pesisir, ia bermata pencarian menangkap ikan, dan kepercayaan yang dimilikinya adalah keyakinan kepada hal-hal supranatural tentang laut atau angin.

Advertisement

Dari bentukan pola hidup yang ada kita dapat mengetahui bahwa manusia mempunyai berbagai macam pola hidup dan ini menggambarkan keterkaitan fungsi-fungsi dari masing-masing pranata yang berlaku dalam komunitas yang bersangkutan. Bentuk-bentuk komunitas dan masyarakat yang ada di Indonesia dapat digolongkan secara umum dalam berbagai pola kehidupan yang berbeda satu sama lain sesuai dengan aturan adat-istiadatnya masing-masing. Pola-pola kehidupan tersebut terbedakan. Misalnya bentuk pola hidup pedesaan yang mata pencarian pokoknya ialah menghasilkan bahan mentah, berbeda dengan bentuk pola hidup perkotaan yang mata pencarian utamanya menghasilkan jasa.

Perwujudan kebudayaan dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup manusia pada dasarnya memiliki perbedaan model serta bentuk dan caranya, dan hal ini banyak tergantung pada lingkungan hidup yang dihadapinya. Perwujudan kebudayaan yang ada pada manusia yang secara nyata terbentuk sebagai pranata sosial sering disebut sebagai tipe sosial budaya (Koentjaraningrat, 1984). Pranatapranata sosial yang ada dalam masyarakat sebagai tempat perwujudan dari tindakan sebagai wujud kebudayaan akan mengacu pada pengetahuan, aturan-aturan, sistem nilai dan norma yang ada sebagai kebudayaan yang abstrak atau tak benda (intangible). Pada hakikatnya, dalam sebuah pranata sosial terdapat juga bendabenda budaya yang dipakai demi kelancaran aktivitas dalam pranata sosial tersebut. Masing-masing pranata sosial yang ada dalam masyarakat akan saling berkaitan secara fungsional antara satu dengan lainnya sehingga terbentuk tipe sosial budaya yang spesifik, yang mengakibatkan terjadinya perbedaan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Tipe sosial budaya ini mengacu pada bentuk kebiasaan sehari-hari berkenaan dengan lingkungan yang dihadapinya. Masing-masing pranata sosial yang berlaku dalam suatu masyarakat akan mengatur sendiri status dan peran individu yang ada di dalamnya, sehingga peranan yang tampak sebagai sebuah tindakan akan mengacu pada status tertentu, dan biasanya akan selalu berulang-ulang sebagai suatu kebiasaan adat-istiadat.

Di Indonesia, secara umum kita dapat melihat banyaknya tipe sosial budaya yang hidup dan senantiasa berkembang hingga kini. Tidak mudah untuk menghubungkan secara sinambung data arkeologi dan sejarah dengan masing-masing tipe sosial budaya di Indonesia guna menemukan dan menentukan akar kebudayaan tipe sosial itu, karena pada hakikatnya data yag diperoleh dari kedua disiplin itu terbatas, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Perkembangan kebudayaan suatu masyarakat pada dasarnya akan dipengaruhi oleh adanya perubahan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat itu seperti: perubahan lingkungan alam atau terjadinya hubungan sosial dengan masyarakat dan kebudayaan lain. Dengan adanya perubahan lingkungan, pengetahuan yang ada dalam kebudayaan tersebut tidak dapat lagi dipakai untuk memahami lingkungan yang telah berubah itu. Oleh karena itu, pengetahuan masyarakat harus senantiasa dikembangkan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Begitu juga dengan adanya pengaruh dari sosial budaya masyarakat lain-sebagai akibat dari hubungan sosial-biasanya akan terjadi pengaruh dari masing-masing pengetahuan kepada masing-masing pengetahuan kebudayaan masyarakat, sehingga terjadi suatu proses difusi (saling memengaruhi) dalam pengetahuan masyarakat, dan pada akhirnya terjadilah suatu perubahan kebudayaan.

Perubahan kebudayaan bisa juga terjadi dari dalam masyarakat itu sendiri, seperti adanya pertambahan jumlah penduduk. Dalam konteks ini kita dapat melihat bahwa adanya aturan yang biasanya mengatur jumlah individu pada suatu jumlah tertentu menjadi tidak mampu mengatur pertambahan individu karena sudah berbeda jumlahnya, sehingga perlu dikembangkan suatu adaptasi baru.

Melalui kedua faktor tersebut, suatu kebudayaan dapat bergeser dan berubah dari masa ke masa. Pada umumnya manusia akan selalu berpikir dan mencoba sesuatu hal yang baru, sehingga ketika terjadi penemuan-penemuan baru (inovasi), akan muncul pula aktivitas yang baru berkenaan dengan inovasi itu. Jika kita mengamati lintasan sejarah perkembangan suatu masyarakat, kita dapat melihat adanya perbedaan pola atau tipe kehidupan sosial budaya masyarakat tertentu. Aktivitas-aktivitas yang dahulu biasa dilakukan dan diwujudkan dalam tindakan sebagai hasil suatu kebudayaan, pada masa berikutnya tidak dapat diwujudkan lagi, karena tidak ada pranata sosial yang mendukungnya, atau sudah berubah pranata sosialnya.

Jika ditilik dari sudut pandang sejarah, kebudayaan dapat ditelusuri perkembangannya dari satu masa ke masa yang lain. Hal ini dapat terjadi ketika kebudayaan tersebut mengalami perubahan dari gagasan-gagasannya, tingkah laku anggota masyarakatnya, dan pada benda-benda budaya yang dihasilkannya, sehingga akan tergambar suatu proses adaptasi dalam menghadapi perubahanperubahan yang terjadi. Proses adaptasi tersebut merupakan suatu bagian dari sistem teknologi yang ada dalam kebudayaan manusia. Masing-masing kelompok sosial budaya dari suatu masyarakat pada dasarnya akan diubah-baik secara sadar atau tidak-oleh anggota masyarakat yang bersangkutan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada dasarnya bermula dari sistem teknologi, karena sistem teknologi merupakan suatu sistem yang paling dekat hubungannya dengan lingkungan, karena keterkaitannya dengan mata pencarian atau kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, dalam sistem teknologi dari kelompok-kelompok tipe sosial budaya tertentu, terciptalah strategi-strategi beradaptasi yang tertentu pula.

Kelompok-kelompok tipe sosial budaya di Indonesia menurut Koentjaraningrat (1984), pada dasarnya dapat dibedakan sebagai berikut: tipe sosial budaya berburu meramu, berladang (tebang-bakar), nelayan, beternak, bertani dengan irigasi, dan tipe sosial budaya jasa (termasuk di dalamnya perdagangan, transportasi). Tipe sosial budaya merupakan gambaran dari perwujudan kebudayaan yang dimiliki manusia, sehingga dengan tipe sosial budaya kita dapat membandingkan suatu pola hidup suatu masyarakat tertentu dengan pola hidup masyarakat lainnya.

Dalam kepustakaan sebelum tahun 1950-an para ahli antropologi membagi tipe-tipe sosial budaya ini sebagai suatu urutan evolusi kehidupan manusia. Dalam beberapa catatan ahli antropologi digambarkan bahwa kehidupan berburu meramu adalah sebuah tipe kehidupan yang paling dasar, dan akan berkembang menjadi sistem perladangan berpindah. Setelah itu berkembang menjadi sistem pertanian irigasi, dan terakhir menjadi sistem industri jasa. Bahkan para ahli antropologi ketika itu menggambarkan bahwa kehidupan berburu meramu adalah sebuah kehidupan barbarisme, dan yang paling tinggi adalah kehidupan beradab (icivilized).

Menurut ahli arkeologi tingkatan kebudayaan dalam arti benda-benda dapat dijadikan dasar untuk merekonstruksi kehidupan sosial budaya dari pendukung benda-benda budaya yang bersangkutan. Soejono misalnya menyatakan bahwa tingkat prasejarah secara universal mencakup tingkat kebudayaan mesolitik (tingkat kebudayaan batu madya, atau tingkat berburu meramu taraf lanjut), tingkat kebudayaan neolitik (tingkat kebudayaan batu baru, atau tingkat bercocok tanam) serta tingkat kebudayaan megalitik dan tingkat kebudayaan perunggu-besi (tingkat perundagian).

Konsep-konsep ini menjadi tidak terbukti dengan benar ketika pada beberapa masyarakat dan hidup pada satu waktu yang sama seluruh tipe-tipe sosial budaya tersebut terwujud dalam kehidupan nyata sebagai bentuk masyarakat dan kebudayaan. Seperti di Indonesia yang telah disebutkan di atas secara umum terdapat enam tipe sosial budaya yang sangat berbeda-beda, dan masing-masingnya tidak akan dapat menggunakan model dan cara yang dilakukan dalam mencari penghidupannya jika dipertukarkan satu dengan lainnya. Pola-pola hidup yang berbeda-beda tersebut menunjukkan kebudayaan yang sangat berbeda satu dengan lainnya dan ini menunjukkan adanya sistem teknologi yang spesifik yang sesuai dengan pola hidup yang ada. Kebudayaan masa mesolitik, yang pada urutan evolusi budaya berada pada tahap sebelum pengenalan terhadap besi, ternyata masih hidup dalam masyarakat sekarang, yang dipengaruhi pula oleh pola hidup masa kini.

Incoming search terms:

  • perwujudan kebudayaan
  • apa yang dimaksud perwujudan kebudayaan
  • perwujudan budaya
  • perbedaan antara kebudayaan dengan perwujudan kebudayaan
  • pengertian perwujudan budaya
  • pengertian perwujudan kebudayaan
  • jelaskan apa yang di maksud dengan perwujudan kebudayaan
  • manusia perwujutan dari apa
  • artefak
  • Yang dimaksud dengan perwujudan kebudayaan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • perwujudan kebudayaan
  • apa yang dimaksud perwujudan kebudayaan
  • perwujudan budaya
  • perbedaan antara kebudayaan dengan perwujudan kebudayaan
  • pengertian perwujudan budaya
  • pengertian perwujudan kebudayaan
  • jelaskan apa yang di maksud dengan perwujudan kebudayaan
  • manusia perwujutan dari apa
  • artefak
  • Yang dimaksud dengan perwujudan kebudayaan