Teori relitivitas.

Pengertian philosophy of science (filsafat ilmu) adalah Ca­bang penelitian ini mencakup pertanyaan tentang ilmu pada umumnya (seperti apa­kah entitas teoretis adalah riil?), tentang kelompok ilmu tertentu (seperti dapatkah objek sosial dipelajari dengan cara yang sama seperti ilmu alam?—problem NATU­RALISM), dan tentang ilmu individual (se­perti apa implikasi dari teori relitivitas bagi konsep kita tentang ruang dan waktu?). Ia muncul sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari teori pengetahuan yang lebih umum di pertengahan abad sembilan belas—pada saat ketika ilmu sains yang berbeda-beda yang menyandang nama seperti “fisika,” “kimia” dan “biologi” menjadi “terprofe­sionalisasikan.” Tokoh utama dari generasi pertama adalah Auguste Comte, pencipta label “positivisme” (dan juga “sosiologi”), ultra empiris J. S. Mill (yang berpendapat bahwa bahkan proposisi matematika adalah empiris), dan sejarawan ilmu Kan­tian, William Whewell. Kebanyakan dari sejarah filsafat ilmu selanjutnya dapat di­anggap sebagai kelanjutan dari kontroversi antara Mill dengan Comte, di satu pihak, dan Whewell di pihak lain, di mana Mill dan Comte mendominasi hingga sekitar tahun 1970. Pandangan dominan tentang ilmu didasarkan pada empirisme Humean, yang diringkas dalam klaim E. Mach (1894, hlm. 192) bahwa hukum alam tak lain adalah “reproduksi mimetik dari fakta dalam pikiran.” Jadi akhir abad ke-19 me­nyaksikan kemenangan spektakuler kubu empiris saat konstruksi kimia tanpa atom oleh Benjamin Brodie dianggap, memin­jam kata Alexander Bain, sekadar “repre­sentasi fiksi.”

Empirisme logis dan reduksionisme.

PosmvIsm logis dari lingkaran Vienna era 1920-an dan 1930-an mengawinkan empirisme logis dan reduksionisme Mach, Pearson dan Duhem, dengan inovasi lo­gis dari Frege, Russell dan Wittgenstein untuk membentuk dasar pandangan sains yang dominan di pertengahan abad ke-20. Anggota utamanya adalah M. Schlick, R. Carnap, O. Neurath, F. Waismann dan H. Reichenbach. C. H. Hempel, E. Na­gel dan A. J. Ayer adalah intelektual yang dekat dengan aliran ini. Ludwig Wittgen­stein dan Karl Popper menempati posisi pinggiran. Formalisme dan linguistikisme merupakan karakteristik dari lingkaran Vienna. Ia dipengaruhi oleh konvensional­isme di Perancis yang dikembangkan di bawah pengaruh H. Poincare dan E. Le Roy selama dekade pertama abad ke-20 dan “disejarahkan” secara radikal oleh G. Bachelard dan G. Canguilhem sejak 1930- an. Warisan Whewell diambil oleh N. R. Campbell pada era 1920-an. Dia mendu­kung perlunya model dalam ilmu. Di luar mainstream ini adalah kosmologi dari H. I.. Bergson, S. Alexander dan A. N. White­head; dan materialisme dialektis dikodifi­kasikan secara sistematis dan disebarkan di USSR di bawah Stalin. Visi positivis tentang ilmu dipusatkan pada teori perkembangan ilmiah monistik dan teori struktur ilmu deduktivis. Yang pertama diserang dari tiga arah. Pertama, dari Popper dan (ex-) Popperian seperti I. Lakatos dan P. Feyerabend. Mereka ber­penclapat bahwa yang menjadi ciri utama ilmu adalah falsibialitas, bukan verifiabili­tas, dan signifikansi epistemologiSnya ter­letak dalam terobosan revolusioner seperti yang dilakukan Galileo atau Einsten. Ke­dua, dari Kuhn dan sejarawan lain (seperti A. Koyre) dan sosiolog (seperti L. Fleck) ilmu. Mereka membahas proses sosial riil yang ada dalam reproduksi dan transfor­masi pengetahuan ilmiah—dalam apa yang kelak dinamakan dimensi transitif atau epistemologis atau historis-sosiologis dari filsafat ilmu. Terakhir, dari Wittgensteinian, seperti N. R. Hanson, S. E. Toulmin dan W. Sellars. Salah satu persoalan yang muncul di masa awal debat tentang perubahan ilmi­ah adalah soal kemungkinan dan, seperti dikatakan Kuhn dan Feyerabend, aktuali­tas dari variasi makna dan inkonsistensi dalam perubahan ilmiah. Kuhn dan Feyer­abend menunjukkan adalah mungkin bah­wa tidak ada makna yang sama di antara satu teori dan penerusnya. Ini tampaknya mempersoalkan ide pilihan rasional dan memunculkan skeptisisme tentang eksis­tensi dunia yang bebas dari teori. Pengertian philosophy of science (filsafat ilmu) adalah Akan tetapi, jika relasi antara teori-teori adalah relasi konflik, bukan sekadar perbedaan, maka teori itu merupakan penjdasan­penjelasan yang berbeda untuk dunia yang sama; dan jika satu teori dapat menjelaskan fenomena yang lebih signifikan dalam term deskripsinya ketimbang teori lain, maka ada kriteria rasional untuk teori pilihan, dan ada kemungkinan untuk memahami ide perkem­bangan keilinuan. Teori struktur ilmiah deduktivis diserang oleh Michacl Scrivcn, Mary Hcsse dan Rom Harre karena dianggap kurang memenuhi kriteria kausalitas dan hukum Humean, kriteria penjelasan Hempelian, dan kriteria Nagelian untuk reduksi sains ke ilmu dasar lainnya. Kritik mereka ke­mudian digeneralisasikan oleh Roy Bhas­kar. Bhaskar berpendapat bahwa positivisme bisa mempertahankan keniscayaan atau uni­versalitas hukumnya—dan terutama trans­faktualitasnya (dalam sistem terbuka dan tertutup); dan untuk ontologi—dalam apa yang dicirikannya sebagai dimensi intran­sitif dari filsafat ilmu—yang tidak mengi­dentifikasi domain riil, aktual dan empiris. Serangan terhadap deduktivisme ini di­awali dan dilakukan oleh filsuf yang amat tertarik dengan ilmu manusia di mana apa yang oleh seorang penulis disebut “orto­doksi hukum-penjelasan” (Outhwaite, 1987b) tidak pernah masuk akal (Dona­gan, 1966).

Hukum universal. Pengertian philosophy of science (filsafat ilmu) adalah

Penguat deduktivisme adalah teori pen­jelasan Popper-Hempel, yang menyatakan bahwa penjelasan dibuat dengan mema­sukkan deduktif ke dalam hukum universal (yang diinterpretasikan sebagai regularitas empiris). Tetapi ditunjukan bahwa subsum­si deduktif ini biasanya tidak menjelaskan tetapi hanya menggeneralisasikan prob­lem (misalnya, dari “mengapa x ini o?” ke “mengapa semua x adalah o?”). Yang dibutuhkan oleh penjelasan adalah, sep­erti ditegaskan oleh Campbell dan Whewell, pengenalan konsep baru yang belum ada di dalam explanandum, model, mekanisme penjelasan generatif, dan sebagainya. Teta­pi, realis baru—yang kritis atau transen­dental—berbeda dengan Kantianisme Campbell. Pengertian philosophy of science (filsafat ilmu) adalah Realis ini mengakui bahwa, di bawah beberapa kondisi, konsep atau model dapat menunjukkan realitas haru yang lebih mendalam; dan ilmu dianggap sebagai proses yang lahir dari fenomena nyata, melalui modeling dan eksperimen­tasi, yang kemudian menjadi fenomena baru yang mesti dijelaskan Lehih jauh dikatakan bahwa hukum yang diidentifi­kasi ilmu di dalam kondisi eksperimen yang tertutup tetap dipakai dalam kondisi di luar eksperimen, dan karenanya menyediakan dasar untuk penjelasan dan diagnosis prak­tis dan aplikatif. Pada 1980-an argumen selanjutnya un­tuk realisme ilmiah dikemukakan oleh I. Hacking, A. Chalmers dan yang lainnya. Namun juga ada kebangkitan parsial po­sitivisme dalam “empirisme konstruks­tif” dari B. van Fraassen, yang sekali lagi membatasi observasi realitas, dan dalam aktualisme N. Cartwright, di mana hukum fisika, sepanjang tidak benar secara em­piris, adalah keliru. Pada saat yang sama realis kritis memulai mengeksplorasi per­tanyaan—dalam dimensi metakritis—ten­tang kondisi kemungkinan positivisme dan REALISM (misalnya, identifikasi empiris yang dimungkinkan oleh teknologi abad ke-20 dan strata yang dirujuk dengan isti­lah “atom,” “elektron,” “bintang radio,” “gen”). Dengan cara ini mereka dikaitkan dengan “program sosiologi pengetahuan” yang diasosiasikan dengan Barry Barnes, David Bloor dan aliran Edinburgh, yang memberi perhatian pada problem metakri­tik, metateori dan konseptual yang dike­mukakan oleh ilmu tertentu.