PENGERTIAN PILIHAN TEKNIK

64 views

PENGERTIAN PILIHAN TEKNIK – Tujuan tidak membenarkan cara. Prinsip tersebut dianggap intrinsik bagi suatu masyarakat merdeka. Selama bertahun-tahun pertanyaan mengenai teknik-teknik be-havioral telah diperdebatkan di kalangan profesional dan menjadi subjek berbagai keputusan pengadilan. Mungkin karena berbagai terapi insight tidak menekankan upaya langsung untuk mengubah perilaku, terapi tersebut jarang menjadi subjek penelitian, tidak demikian halnya dengan terapi perilaku. Teknik-teknik behavioral yang sangat konkret, spesifik, dan direktif telah menarik perhatian besar, seperti juga aliansinya dengan psikologi eksperimental. Bagi beberapa orang merupakan suatu har yang merendahkan untuk meyakini bahwa pemahaman kita terhadap manusia kemungkinan dapat ditingkatkan dengan menggunakan tikus dan burung merpati sebagai analogi untuk manusia.

Terdapat suatu kepedulian khusus mengenai etika memberikan rasa sakit untuk tujuan terapi. Bagi beberapa orang istilah terapi perilaku memancing citra seorang tokoh protagonis yang kejam dalam sebuah film klasik KubrickA Clochworh Orange, mata yang ditarik terbuka dengan alat penyiksa, dibuat mual dengan meminum obat, sementara adegan kekerasan berkelebat di layar. Program terapi aversi tidak pernah mencapai titik koersi dan drama semacam itu, tetapi memang setiap prosedur semacam itu melibatkan tindakan menimbulkan rasa tidak nyaman pada pasien, kadang hingga ke titik ekstrem. Membuat pasien muntah atau menahan rasa sakit karena sengatan listrik yang diberikan hingga ke titik ekstrem merupakan dua teknik aversi yang pantas mendapatkan nama tersebut. Adakah suatu kondisi yang dapat menjustifikasi terapis untuk memberikan rasa sakit pada klien?

Namun, haruskah kita hanya memedulikan rasa sakit fisik? Kesedihan yang kita alami pada saat orang yang kita cintai meninggal dunia merupakan hal yang menyakitkan secara psikologis. Mungkin lebih menyakitkan dari sengatan listrik berkekuatan 1.500 mikroamper. Siapa yang dapat menjelaskannya? Karena kita berpendapat bahwa rasa sakit dapat bersifat psikologis, haruskah kita melarang seorang terapis Gestalt untuk tidak membuat pasien menangis dengan mengonfrontasikan pasien dengan berbagai perasaan yang telah dihindarinya selama bertahun-tahun? Haruskah kita melarang seorang psikoanalis untuk tidak mengarahkan pasien ke suatu pencerahan yang mungkin akan menimbulkan penderitaan besar, begitu besarnya karena konflik vang telah direpres selama bertahun-tahun?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *