PENGERTIAN POLA KEHIDUPAN TERSTRATIFIKASI DALAM MASYARAKAT NEGARA SOSIALIS – Reformasi fundamental diberlakukan dengan tujuan pemerataan dalam distribusi pendapatan dan perbedaan upah antara pekerja kasar dan pekerja kantoran dikurangi. (Kebijaksanaan pemerataan yang sama juga diberlakukan setelah perang dunia II di negara-negara komunis Eropa Timur lainnya). Sebagai tambahan kebijakat›-kebijakan ini, diberlakukan reformasi pendidikan dengan tujuan pemerataan hak-hak istimewa. Reformasi-reformasi ini ditujukan untuk memberi kesempatan kepada para generasi muda kelas bawah mengikuti pendidikan tinggi. Dimulai pada awal 1930, gerak egaliter ini dihentikan dan bahkan diperbaharui melalui sejumlah kebijakan baru oleh Stalin. Stalin menyerang semua program pemerataan dan menyatakan dirinya sebagai penentang uravniloka (“penjual-pemerataan”). Alasan yang diajukan adalah untuk mencapai industrialisasi dan membangun masyarakat modern, insentif-insentif besar harus diberikan kepada individu yang mempunyaipekerjaan dengan keterampilan yang lebih tinggi. Kebijakan ini mengakibatkan timbulnya kembali perbedaan-perbedaan pendapatan yang tajam. Ketidaksamaan ekonomi tersebut berlangsung terus sampai kira-kira pada pertengahan 1950-an. Pada masa ini, kritik terhadap perbedaan pendapatan mulai timbul dan mulai lagi dikurangi. Tetapi di akhir 1980-an reformasi ekonomi yang terkenal dengan nama perestroika cenderung menimbulkan perbedaan pendapatan. Dalam buku ini, adalah sulit untuk mengetahui sampai sejauh mana kebijakan ini menghasilkan sesuatu. Dalam kerangka konternporer, adalah jelas bahwa kelompok-kelompok sosial dapat dibedakan dengan tingkat pendapatannya dan bentuk-bentuk hak istimewanya. Dapat atau tidaknya kelompok ini disebut dengan “kelas”, sampai pada tingkat tertentu, hanya merupakan sebuah definisi. Ideologi resmi Uni Soviet (pada sebelum 1985 dan awai dari perestroika dan glasnost) menyebutnya sebagai “strata nonantagonistik” dengan catatan bahwa kelompok tersebut tidak dibedakan atas pemilikan modal, yang secara formal telah dihapus dalam Uni Soviet. Jadi apa yang disebut dengan pengkelasan nonegaliter diberlakukan di negara sosialis. Yakni, adanya kelompok-kelompok sosial berbeda yang memiliki hak-hak istimewa material yang berbeda, tetapi kelas-kelas ini tidak dapat dianggap sebagai kelas karena tingkat hak istimewanya tidak bergantung pada pemilikan kekayaan. Karena pemilikan kekayaan pribadi tidak ada, suatu kelompok tidak bersaing mendapatkan sesuatu dengan menjatuhkan kelompok lainnya, dan hubungan sosial antara kelompokkelompok itu bukan hubungan yang antagonistik.

Dari titik tolak pandangan Marxisme klasik, yang menghubungkan kelas dengan pemilikan kekayaan, pandangan resmi Soviet ini masuk akal, konsepsi kelas Marxian Barat telah dimodifikasi tahun-tahun terakhir ini dan mereka memasukkan gagasan dominasi atau kontrol sebagai komponen paling essensial dalam konsep tentang kelas. Dengan mengikuti jalan pikiran tampaknya masuk akal untuk menganggap kelompok sosio ekonomi di dalam masyarakat sosialis negara sebagai kelas, karena ia didasarkan pada perbedaan tingkat penguasaan atas berbagai sumber daya ekonomi. Struktur kelas masyarakat negara sosialis adalah sebagai berikut: (1) para intelektual kantoran (white collar inteligentsia), terdiri dari para profesio-nal, manajerial dan administrator, (2) pekerja manual terampil, (3) pekerja kantoran tingkat bawah, (4) pekerja tidak terampil. Kelas yang paling istimewa dalam sosialisme negara adalah kaum intelektual kantoran. Parkin mengemukakan bahwa pemilahan kelas (class cleavage) terbesar dalam sosialisme negara adalah antara kelompok ini dengan semua kelompok yang berada di bawahnya. Para intelektual tidak hanya menerima pendapatan yang lebih tinggi dari yang lain tetapi juga menerima bonus dan tambahan gaji khusus, sep erti: akomodasiberkualitas tinggi, kesemp atan perjalanan ke luar negeri, menggunakan mobil dan barang milik negara, dan lain-lain. Lebih jauh lagi, pembedaan sosial antara para intelektual dan kelas-kelas lain lebih diperbesar lagi dengan keberadaan para intelektual seb agai anggota partai . Keanggotaan partai itu sendirimenawarkan tamb ahan keuntungan. Ini termasuk kesempatan mendapatkan tiket untuk teater terbagus, atau dapat menyekolahkan anak-anaknya di sekolah atau universitas yang bagus.

Apakah kaum intelektual ini merupakan kelas penguasa dalam pan-dangan Marxian? Sebagian ahli berpendapat bahwa paling tidak mereka merupakan satu segmen dari kelas penguasa. Milovan Djilas (1957), misalnya, mengemukakan bahwa sebagian kecil intelektual, yang menjadi fungsionaris partai, merupakan elit penguasa yang hampir mirip dengan kelas penguasa yang ada pada masyarakat kapitalis. Djilas melihat elit ini, yang disebutnya sebagai “kelas baru”, memiliki kekayaan, hak istimewa yang tinggi dan merupakan kelas yang terus bercokol mendominasi masyarakat sosialis negara. Walaupun argumentasi Djilas sangat berguna, ada beberapa kritik terhadap pemikirannya tersebut dan tesisnya masih harus diuji lagi. Anthony Giddens (1980), misalnya, sambil menolak adanya kelas tersebut, menyatakan bahwa kelompok elit tersebut tidak bisa langsung dibandingkan dengan kelas penguasa kapitalis. Ia meneliti bahwa dalam masyarakat sosialis negara, kelas dominan menikmati keistimewaannya hanya atas dispensasi kekayaan kolektif, dan ini yang membedakannya dengan kelas kapitalis, yang menguasai sumber-sumber kekayaan pribadi yang besar. Pandangan senada dikemukakan oleh Parkin, bahwa walaupun kelas intelektual dapat memberi hak-hak ‘ istimewa tertentu kepada anak-anak mereka, tetapi tidak dapat memberikannya seperti kelas elit kapitalis, sehingga para intelektual bukanlah kelas yang merekrut anggotanya sendiri (self-recruiting) dan mengekalkan diri (self-perpe-tuating) dengan cara yang sama seperti elit kapitalis.

Filed under : Bikers Pintar,