Calon politisi.

Pengertian political party (partai politik) adalah Untuk memenuhi tujuan mereka mendapatkan kekuasaan atau mencegah pihak lain un­tuk mendapat kekuasaan, partai politik biasanya membangun aparatur yang besar dengan cabang di seluruh negeri; mereka mengadopsi program yang mereka usulkan atau paksakan pada populasi; dan mereka merekrut calon politisi masa depan.

Du­kungan rakyat. Pengertian political party (partai politik) adalah

Partai politik pada dasarnya adalah ino­vasi abad ke-19. Mereka kadang-kadang muncul sebelum abad itu, tetapi dalam tipe tata pemerintahan tertentu, seperti Re­publik Roma, kota-kota Italia pada masa Renaisans, atau Stuart dan Hanoverian di Inggris. Penyebarannya di Eropa Barat dan Amerika Utara berbarengan dengan munculnya sistem politik yang didasarkan pada penguasa dan yang dikuasai. Di tem­pat di mana politik berlangsung hanya di dalam elit tertutup yang tidak bertanggung jawab kepada rakyat, partai politik tidak eksis; sebaliknya, di beberapa bentuk pemerintahan representatif, bahkan yang amat terbatas sekalipun, muncul partai politik. Tetapi partai politik berkembang penuh jika ada tiga kondisi atau syarat yang ter­penuhi—dan ini cenderung ada di ham­pir semua tempat diseluruh dunia. Syarat pertama adalah adanya kantung sosial (misalnya etnis, religius atau kelas)—se­bab jika tak ada, kelompok itu cenderung hanya merupakan pertemanan saja; kedua, pemerintahan harus didasarkan pada du­kungan rakyat, bahkan walau hanya se­batas ucapan; dan ketiga, harus ada keya­kinan bahwa kemenangan akan tercapai hanya jika massa populasi atau setidaknya sebagian populasi yang penting telah dio­rganisasikan—konspirasi kecil karenanya dianggap tidak memadai. Tiga syarat itu kebanyakan tidak ter­penuhi di hampir semua negara di Eropa Barat pada awal abad ke-19. Kelompok­kelompok cenderung didominasi oleh klik kecil atau oleh anggota dari elit sosial lama; mereka adalah partai “kader”. Di bawah tekanan karena meluasnya hak pilih, or­ganisasi partai mulai berkembang; mereka mendapat anggota dan mengangkat peja­bat resmi, yang makin banyak diambil dari jajaran kelas menengah biasa dan bahkan dari kelas pekerja; mereka menjadi partai “massa,” dengan contoh terbaiknya adalah partai buruh atau demokratis sosial yang didirikan diakhir abad ke-19. Mereka ini bersifat demokratis karena kebijakannya secara resmi diputuskan oleh kongres yang mewakili anggota; dalam praktiknya, para pemimpin memegang kekuasaan substansi­al dan sering dituduh menjalankan kontrol birokratis. Untuk memerangi lawan musuh mereka secara efektif, pihak-pihak dari ke­lompok pusat dan kanan pelan-pelan men­gadopsi banyak ciri organisasional dari pe­saing mereka. Era partai massa tampaknya dimulai sejak abad ke-20. Pengertian political party (partai politik) adalah Tetapi pada saat yang sama tipe partai politik lain, dengan tujuan yang berbeda, mulai berdiri, pertama di Eropa Timur dan Eropa Tengah, dan setelah 1945 di banyak negara baru di Dunia Ketiga. Tipe partai ini didirikan untuk menopang pemerin­tahan yang ingin menegakkan aturan oto­riter atau bahkan totalitarian, entah itu di dalam aliran kanan (fasisme dan Nazisme adalah contoh paling kentara) atau Kiri (komunisme, dan juga beberapa bentuk “populisme” Dunia Ketiga). Di dalam rezim­rezim itu, partai tunggal adalah instrumen kediktatoran, karena ia menyediakan sa­rana untuk menyebarluaskan pesan pengu­asa ke seluruh pelosok negeri. Tujuannya adalah untuk memobilisasi populasi dan mengontrolnya, walaupun upaya ini bia­sanya harus dikombinasikan dengan popu­laritas pemimpin “karismatik” (lihat CHA­RISMA). Akan tetapi, bahkan dalam kasus ini, kesuksesan partai tunggal sering kali hanya sebentar dan jarang yang bertahan lama: kegagalan rezim komunis di Uni So­viet yang selama beberapa dekade tampak kokoh telah menunjukkan kelemahan in­trinsik dari sistem partai tunggal. Sistem partai kompetitif tampaknya le­bih stabil, setidaknya di Eropa Barat dan Amerika Utara. Sistem ini menyebar ke belahan lain dunia, dengan tingkat kesuk­sesan bervariasi. Secara khusus Amerika Latin mengalami periode politik kompeti­tif yang diikuti dengan periode kekuasaan militer. Bahkan di Eropa Barat, sistem partai kompetitif banyak dikritik dan dika­ji ulang. Stabilitas partai massa diperta­nyakan, karena menurunnya “identifikasi” partai dan perkembangan “independensi” elektorat. Program-program partai banyak yang tidak jelas saat harus menghadapi tuntutan baru yang dikemukakan oleh ke­lompok-kelompok yang mengajukan isu “postmodern” baru, khususnya dalam kai­tannya dengan isu lingkungan. Pengertian political party (partai politik) adalah Perkembangan ini menyebabkan peran partai dipertanyakan. Fungsi program mereka tampaknya berkurang; program mereka terkadang diabaikan oleh rakyat melalui referendum; personalisasi pimpinan, yang dibantu oleh media massa dan khusus­nya televisi, menyebabkan elit partai dan struktur partai menjadi redundant. Meski ini sedang terjadi di Barat, ambruknya banyak sistem partai tunggal dan terutania sistem partai tunggal komunis merupakan pukulan telak bagi prestise partai sebagai organisasi mobilisasi. Tetapi tidak ada pengganti riil untuk partai di dunia kontemporer, entah itu di negara industri maju atau negara berkem­bang. Beberapa hubungan antara orang dan pemerintah harus eksis, bahkan sean­dainya hubungan itu renggang sekalipun; juga harus ada tempat di mana program dan kebijakan diadopsi secara formal dan dipublikasikan secara resmi dan di mana tuntutan kelompok-kelompok dapat disa­jikan dan didiskusikan; dan harus ada salu­ran untuk merekrut politisi di masa depan. Karena alasan-alasan tersebut, partai akan tetap berperan penting dalam kehidupan politik kita, walau antusiasme dan dukung­an pada partai berkurang dan kritik terus berdatangan.­