Advertisement

Salah satu bentuk sikap adalah prasangka (prejudice). Pjrasangka adalah sikap yang negatif terhadap kelompok tertentu atau se-seorang, semata-mata karena keanggotaannya dalam kelompok tertentu (Baron & Byrne, 1994). Prasangka ini menurut sebagian penulis timbul karena penilaian yang tidak berdasar (unjustified) dan pengambilan sikap sebelum menilai dengan cermat, sehingga terjadi penyimpangan pandangan (bias) dari kenyataan yang sesungguhnya (Myers, 1996; Allport, 1954; Jones, 1972; Worschel, dkk, 1988).

Walaupun demikian, ada sebagian pakar yang berpendapat bahwa prasangka tidak selalu salah dan irasional. Sebagian juga didasarkan pada kenyataan (Brown, 1995). Selain itu, prasangka, seperti halnya dengan sikap, dapat juga positif (misalnya, orang Belanda selalu tepat waktu, dan orang Bali jujur). Hanya saja prasangka yang positif biasanya tidak menimbulkan masalah dalam hubungan antarpribadi atau antarkelompok, sehingga tidak dibicarakan secara khusus atau bahkan dianggap tidak ada (Brown, 1955).

Advertisement

Yang jelas, prasangka adalah problem psikologi sosial karena yang utama dari sikap ini adalah dampaknya pada hubungan antar-pribadi atau antarkelompok (Brown, 1955). Dampak yang negatif timbul karena adanya stereotipi (sifat-sifat yang khas yang seakanakan menempel pada kelompok) yang diberikan kepada kelompok. Sesuai dengan prinsip heuristics,stereotip ini bermanfaat untuk mengefisienkan proses di dalam kognisi seseorang, sehingga ia tidak perlu lagi berpikir terlalu sulit dan lama sebelum bereaksi terhadap orang lain atau kelompok lain. Misalnya, profesor pelupa (sering digambarkan dalam kartun seorang profesor mencari-cari kacamata yang sedang dipakai di atas kepalanya sendiri), orang Jawa pelan, orang Batak kasar, homo membawa AIDS. Sebagian orang dari kelompok itu, atau beberapa perilaku dari kelompok itu memang sesuai dengan stereo tip yang diberikan, tetapi masalahnya yang sebagian itu dipukul rata pada keseluruhan.

Dari kacamata teori psikologi kognitif stereotip ini timbul karena manusia membentuk skema atau kategori dalam kognisinya dan sekali skema ini sudah terbentuk, orang cenderung hanya menerima informasi yang sesuai dengan skema itu (O’Sullivan & Durso, 1984) dan menolak yang tidak sesuai (Evans & Tyler, 1986).

Masalah sosial akan timbul kalau kecenderungan pemukulrataan ini sudah menimbulkan dampak negatif yang biasanya terjadi jika sasaran parangka adalah kelompok minoritas, baik minoritas dalam arti jumlah (seperti kaum homo, dan Cina di Indonesia atau kulit hitam di Amerika) maupun dalam arti status (misalnya, wanita, di hampir seluruh dunia, dan kulit hitam di Afrika Selatan). Oleh karena itu, ada juga penulis yang mendefinisikan prasangka sebagai sikap negatif terhadap golongan minoritas saja (Eagly & Chaikan, 1993), walaupun pendapat ini tidak sepenuhnya benar, karena di Afrika Selatan ditemukan bahwa justru prasangka kulit hitam terhadap kulit putih lebih kuat daripada sebaliknya (Bradnum, Nieuwoudt & Tredoux, 1993).

Dampak negatif dari prasangka muncul karena timbulnya perilaku diskriminasi sebagai perwujudan dan prasangka (Myers, 1996). Dalam kotak 7.2 (tentang Cina di Indonesia), misalnya, dapat disimpulkan bahwa prasangka terhadap orang Cina di Indonesia diawali, antara lain dengan diskriminasi (perbedaan perlakuan) yang diberikan antara kelompok Eropa, Cina, dan pribumi.

 

Advertisement