PENGERTIAN PREDIKSI KEBERBAHAYAAN

28 views

PENGERTIAN PREDIKSI KEBERBAHAYAAN – Komitmen sipil pada intinya merupakan suatu bentuk penahanan preventif; terdapat prediksi bahwa seseorang yang dinilai sakit mental suatu saat dapat berperilaku mernbahayakan sehingga harus ditahan. Namun, seluruh sistem hukum dan konstitusional AS diatur untuk melindungi masyarakat dari penahanan preventif. Dengan demikian, kecuali jika terdapat penyakit mental, seseorang secara umum dapat dipenj arakan hanya setelah diputus bersalah atas suatu tindak kejahatan (atau, jika dituduh, namun belum diputus bersalah, tidak dapat dibebaskan dengan jaminan jika kejahatan yang dituduhkan sangat berat dan jika tertuduh berisiko lari dari wilayah hukum di mana ia ditahan untuk menghindari sidang pengadilan). Lebih jauh lagi, para terpidana biasa secara rutin dibebaskan dari penjara meskipun statistik menunjukkan bahwa sebagian besar akan kembali melakukan tindak kejahatan.

Namun, bagaimana jika seseorang secara terbuka mengancam akan melukai orang lain, misalnya seorang yang setiap hari selama satu jam berdiri di tepi jalan dan meneriakkan ancaman kepada orang-orang yang menghuni apartemen yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri? Apakah negara harus menunggu sampai orang tersebut melaksanakan ancamannya? Biasanya tidak. Dalam kasus seperti itu proses komitmen sipil dapat dilaksanakan jika orang yang bersangkutan tidak hanya dinilai sudah hampir membahayakan orang lain, namun juga sakit mental. Sebagian besar profesional kesehatan mental, dalam kesepakatan dengan masyarakat umum, akan menyimpulkan bahwa orang tersebut haruslah seorang psikotik untuk dapat berperilaku demikian.

Kemungkinan melakukan tindakan yang membahayakan bersifat sentral bagi komitmen sipil, namun apakah keberbahayaan dapat diprediksi dengan mudah? Ber-bagai studi awal yang menguji akurasi prediksi bahwa seseorang akan melakukan tindakan yang membahayakan menemukan bahwa para profesional kesehatan mental tidak dapat melakukan penilaian tentang hal itu dengan baik. Beberapa peneliti lantas berpendapat bahwa komitmen sipil dengan tujuan penahanan preventif harus dihapuskan. Namun, Monahan dengan hati-hati mengkaji secara teliti berbagai penelitian tersebut dan menyimpulkan bahwa kemampuan untuk memprediksi kekerasan tidak diukur secara memadai. Sebagian besar studi tersebut mengikuti pola metodologis berikut ini.

•             Orang-orang diinstitusionalisasi karena penyakit mental dan karena berbahaya bagi masyarakat.

•             Pada saat orang-orang tersebut dirawat di rumah sakit, sekali lagi diprediksi bahwa beberapa di antaranya akan melakukan kekerasan jika dibebaskan ke masyarakat.

•             Setelah beberapa waktu, orang-orang tersebut dibebaskan, sekaligus menggabungkan berbagai kondisi untuk eksperimen alami.

•             Pengecekan perilaku para pasien yang telah dibebaskan selama beberapa tahun berikutnya tidak mengungkap banyaknya perilaku membahayakan.

Apa yang salah dengan penelitian semacam itu? Monahan menunjukkan bahwa hanya sedikit—jika ada—pertimbangan yang diberikan pada berbagai perubahan yang mungkin telah dihasilkan oleh institusionalisasi itu sendiri. Dalam berbagi studi yang dikaji, periode penahanan berkisar antara beberapa bulan hingga 15 tahun. Perumahsakitan paksa yang berlangsung untuk waktu lama sangat mungkin membuat pasien menjadi lebih pasif, jika tidak ada alasan lain kecuali bahwa mereka menjadi jauh lebih tua. Lebih jauh lagi, berbagai kondisi di masyarakat yang terbuka di mana kekerasan yang diprediksikan tersebut akan terjadi dapat sangat bervariasi. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengharapkan prediksi semacam itu memiliki validitas tinggi.

Monahan berpendapat bahwa prediksi keberbahayaan mungkin jauh lebih mudah dan lebih pasti dalam situasi darurat yang sebenarnya dibanding dalam situasi setelah perumahsakitan untuk waktu lama. Pada saat komitmen kedaruratan diperlukan, orang yang bersangkutan dapat tampak berada di luar kendali dan dapat mengancam akan melakukan tindak kekerasan. Bisa jadi ia juga memiliki riwayat perilaku kekerasan di masa lalu—sebuah prediktor yang baik terhadap perilaku kekerasan di masa mendatang—dan korban serta senjata dapat berada di tangan. Suatu ledakan emosi yang membahayakan tampaknya segera terjadi. Secara singkat, kekerasan yang memerlukan komitmen kedaruratan dapat terjadi dengan segera dan dalam situasi yang diketahui:

Akal sehat mengatakan kepada kita bahwa prediksi kekerasan dalam contoh-contoh semacam itu kemungkinan sangat akurat. Namun, untuk menguji validitas kemungkinan tersebut, kita harus membiarkan tanpa pengawasan separuh dari orang-orang yang diperkirakan akan segera melakukan tindak kekerasan dan kemudian memban-dingkan perilaku mereka dengan orang-orang yang dirumahsakitkan dalam situasi yang sama. Eksperimen semacam itu secara etika tidak bertanggung jawab. Bila data eksperimental tidak mungkin dikumpulkan, para profesional kesehatan mental harus menggunakan logika dan memberikan penilaian sehati-hati mungkin.

Pengkajian ulang terhadap penelitian terdahulu menunjukkan bahwa akurasi yang lebih besar dalam memprediksi keberbahayaan dalam jangka panjang dapat dicapai dibanding yang diasumsikan sebelumnya. Prediksi kekerasan paling akurat dalam kondisi berikut ini (perhatikan peran faktor-faktor situasional, kadang dalam interaksi dengan berbaga: variabel kepribadian).

•             Jika seseorang telah berulang kali melakukan tindak kekerasan dewasa ini masuk akal untuk memprediksi bahwa ia akan melakukan tindak kekerasan dalam waktu dekat kecuali jika terjadi perubahan besar dalam sikap atau lingkungan orang tersebut. Oleh karena itu, jika sorang yang kejam dimasukkan ke lingkungan yang dibatasi, seperti penjara atau rumah sakit psikiatrik, dengan pengamanan ketat, ia mungkin tidak akan bertindak kejam karena adanya perubahan lingkungan yang nyata.

•             Jika kekerasan dilakukan jauh pada masa lalu orang tersebut, dan jika merupakan tindakan tunggal, namun sangat serius, dan jika orang yang bersangkutan telah dipenjara selama beberapa waktu, kekerasan dapat diperkirakan terjadi setelah dibebaskan jika ada alasan untuk meyakini bahwa kepribadian dan kemampuan fisik orang tersebut sebelum masa penahanan tidak berubah dan jika orang tersebut akan kembali ke lingkungan yang sama di mana ia sebelumnya melakukan kekerasan tersebut.

•             Meskipun tanpa riwayat adanya kekerasan, kekerasan dapat diprediksi jika orang yang bersangkutan dinilai sudah hampir melakukan tindak kekerasan, contohnya, jika orang tersebut mengarahkan senjata api yang berisi peluru ke sebuah gedung yang dipenuhi orang.

Selain itu, sebagaimana disebutkan sebelumnya, penyalahgunaan zat meningkatkan angka tindak kekerasan secara signifikan (Steadman dkk., 1998). Temuan ini memperkuat penyalahgunaan zat sebagai salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam upaya memprediksi tindak kekerasan. (Penyalahgunaan zat juga memprediksi tiridak kekerasan di kalangan individu yang tidak mengalami gangguan mental.

Kekerasan di kalangan pasien mental yang telah dibebaskan biasanya dapat diatri-busikan pada beberapa individu yang tidak meminum obatnya sesuai instruksi. Komitmen rawat jalan adalah suatu cara untuk meningkatkan kepatuhan minum obat. Ini merupakan suatu pengaturan di mana pasien diperbolehkan keluar dari rumah sakit, namun harus tinggal di rumah singgah atau lokasi berpengawasan lain dan melaporkan ke suatu lembaga kesehatan mental secara teratur dan sering. Hingga ke titik di mana komitmen rawat jalan meningkatkan kepatuhan ter-hadap jadwal minum obat dan mempertahankan kontak rutin dengan para profesional kesehatan mental—dan bukti mengindikasikan bahwa demikianlah yang terjadi—kita dapat mengharapkan penurunan angka kekerasan pada para mantan pasien. Memang, berbagai layanan pendukung, seperti rumah-rumah tinggal, dapat secara nyata mengurangi kemungkinan dilakukannya tindak kekerasan oleh seorang yang memiliki kecenderungan melakukannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *