professions (profesi)

Istilah profesi pada awalnya berarti sejumlah pekerjaan terbatas yaitu pekerjaan-pekerjaan yang hanya ada dalam era pra-industri di Eropa, yang membuat orang-orang berpenghasilan mampu hidup tanpa tergantung pada perdagangan atau pekerjaan manual. Hukum, kedokteran, dan keagamaan merupakan tiga profesi klasik, tetapi pejabat angkatan darat dan angkatan laut kemudian juga dimasukkan ke dalam profesi.

Proses industrialisasi dikaitkan dengan perubahan besar dalam struktur profesi lama ini, dan dengan pertumbuhan lapangan kerja baru yang pesat, banyak dari pekerjaan ini kemudian mendapatkan status profesional. Perubahan-perubahan dalam struktur pekerjaan tersebut direfleksikan dalam literatur sosiologi, misalnya studi klasik oleh Carr-Saunder dan Wilson (1933), dalam usaha untuk mendefinisikan ciri atau karakteristik dari profesi modern.

Pendekatan ini kadang-kadang disebut dengan pendekatan “ciri atau “daftar bagaimanapun juga belum mendapatkan persetujuan luas, seperti misalnya, apa definisi profesi yang bermanfaat dan memadai. Misalnya, Millerson (1964) setelah meneliti literatur dengan cermat, mendaftar tidak kurang dari duapuluh tiga unsur, yang dipisahkan dari karya duapuluh satu penulis, yang telah memasukkan berbagai definisi profesi. Tidak ada item tunggal yang diterima oleh penulis sebagai karakteristik profesi yang dibutuhkan, dan tidak ada dua penulis yang sepakat mengenai kombinasi elemen mana yang dapat diambil sebagai defrinisi. Tetapi ada enam karakteristik yang sering disebut-sebut yaitu: memiliki keahlian berdasarkan pengetahuan teoretis adanya pelatihan dan pendidikan uji kemampuan anggota organisasi terikat dengan aturan pelaksanaan; dan jasa altruistik.

Sepanjang 1950-an dan 1960-an banyak ahli sosiologi menggunakan pendekatan “daftar” (check-list) untuk mempelajari pekerjaan, seperti kerja sosial, pengajar, perawat dan pustakawan, untuk melihat apakah pekerjaan itu bisa disebut sebagai profesi atau tidak. Namun demikian sejak awal 1970-an pendekatan deskriptif ini semakin

ditinggalkan karena banyaknya kritik tajam, seperti misalnya dari Friedson (1970) dan Johnson (1972). Dikatakan bahwa ciri-ciri yang dipakai untuk mendefinisikan profesi seringkah, secara analitik dan empiris, bersifat mendua, sedangkan daftar dari elemen yang berfungsi mendefinisikan dibentuk secara sewenang-wenang, dan juga tidak banyak usaha untuk mengartikulasikan hubungan antara elemen-elemen secara teoretis. Akhirnya para kritikus merasa bahwa pendekatan ini cenderung merefleksikan gambaran ideologis yang oleh para profesional berusaha disampaikan dari karya-karya mereka sendiri

Sejak 1970-an literatur tentang profesi menjadi lebih kritis dan cenderung terfokus pada analisis kekuasaan profesional, dan posisi profesi di dalam pasar tenaga kerja. Berkaitan dengan posisi profesi tersebut, Berlant (1975) melihat profesionalisasi sebagai proses monopolisasi, sedang Larson (1977) melihatnya sebagai suatu proses mobilitas pekerjaan berdasarkan pada kontrol terhadap pasar tertentu. Namun demikian pengaruh yang dominan sepanjang 1970-an dan 1980-an mungkin dari Freidson dan Johnson, karena keduanya memfokuskan diri pada kekuasaan profesional.

Freidson berpendapat bahwa otonomi profesional yakni kekuasaan profesi untuk mendefinisikan dan mengontrol pekerjaan mereka yang membedakan karakteristik dari profesi. Dalam perspektif ini pengetahuan yang khusus atau perilaku altruistik tidak dipandang sebagai karakteristik esensial dari profesi. Namun, klaim terhadap atribut-atribut semcam itu entah itu valid atau tidak mungkin penting dalam proses profesionalisasi sepanjang atribut-atribut tersebut merupakan retorika dipandang dari segi kelompok pekerja yang berusaha untuk mendapatkan hak-hak istimewa seperti sistem lisensi, pengaturan sendiri, dan situasi pasar yang terjaga. Karena itu proses profesionalisasi dilihat bersifat politik dalam karakternya, suatu proses “di mana kekuasaan dan retorika persuasif lebih diutamakan ketimbang karakter obyektif dari pengetahuan, pelatihan dan pekerjaan.”

Karya Johnson berpusat pada analisis hubungan praktisi-klien. Dia mencatat bahwa pekerjaan yang secara konvensional disebut sebagai “profesi telah, di berbagai waktu dan tempat, menjadi subyek dari berbagai bentuk kontrol sosial. Jadi, daiam konteks tertentu, para praktisi mungkin tunduk pada kekuatan klien (patronase), atau hubungan praktisi-klien mungkin diperantarai oleh kelompok ketiga, seperti gereja atau negara (kontrol penengah). Istilah profesionalisme digu nakan untuk bentuk khusus dari kontrol pekerjaan, yang melibatkan pengaturan sendiri tingkat tinggi dan kemandirian dari kontrol eksternal yang, dalam bentuknya yang paling berkembang, merupakan produk dari kondisi sosial tertentu pada abad 19 di Inggris dan Amerika.

Abbott (1988:1991) menyatakan bahwa profesi adalah kelompok pekerjaan eksklusif yang melakukan yuridiksi pada bidang pekerjaan tertentu. Yuridiksi ini dilaksanakan berdasarkan kontrol yang kurang lebih abstrak, esoterik dan pengetahuan intelektual; kelompok yang kurang pengetahuannya (misalnya polisi dibandingkan dengan pengacara) umumnya gagal dalam mempertahankan profesionalismenya. Apa yang berbeda dari pendekatan Abbot bukanlah definisi profesinya tetapi penegasannya bahwa profesionalisasi tidak dapat dipahami hanya sebagai perkembangan linier sederhana dari pekerjaan individu yang dilihat secara tersendiri, karena perkembangan berbagai profesi harus dipandang sebagai saling ketergantungan.

Ada sejumlah, dan kadang-kadang bertentangan, definisi dari profesi. Abbot (1991) telah mencatat kebingungan ini dan menyarankan bahwa “memulai dengan definisi bukan berarti memulai semuanya.” Mungkin yang lebih membantu adalah Freidson (1986) yang menunjukkan perbedaan penting antara profesi di Amerika Serikat dan di Inggris dan status jabatan yang tinggi di daratan Eropa, dan berpendapat bahwa profesionalisme adalah “penyakit Anglo-Amerika Ia berpendapat bahwa masalah tidak diciptakan dengan memasukkan ciri pembawaan dan atribut dalam definisi. Masalah terletak lebih dalam ketimbang hal tersebut. Masalah tercipta karena ada usaha untuk memperlakukan profession seolah-olah sebagai konsep generik ketimbang konsep historis yang berubah dengan akar yang bersifat unik di dalam negara industri yang sangat dipengaruhi oleh institusi Angio-Amerika.