PENGERTIAN PSIKOANALISIS DAN TERAPI PERILAKU: SEBUAH PEMULIHAN HUBUNGAN? – Pertanyaan mengenai apakah terdapat dasar pijakan yang sama antara psikoanalisis dan terapi perilaku telah dibahas selama bertahun-tahun. Hanya sedikit profesional yang optimis tentang sebuah penyatuan yang bermakna, dan berpendapat bahwa dua sudut pandang tersebut merupakan dua paradigma yang tidak cocok satu sama lain. Namun, Paul Wachtel, dalam penelitiannya mengenai integrasi semacam itu menawarkan suatu skema yang sangat menjanjikan, setidak-tidaknya untuk menciptakan suatu dialog antara para terapis yang berorientasi psikoanalisis dan terapis perilaku.

Sebagaimana diindikasikan sebelumnya, para analis ego jauh lebih menekankan keberfungsian ego di masa kini dibanding Freud. Sullivan, contohnya, berpendapat bahwa pasien akan merasa lebih nyaman terhadap dirinya sendiri dan berfungsi secara lebih efektif jika mereka memfokuskan pada berbagai masalah dalam perilaku interpersonal mereka saat ini. Akan tetapi, tampaknya Sullivan bersikap ambivalen terhadap prinsip memfokuskan secara langsung pada tindakan dan perasaan seseorang di masa sekarang jika dengan melakukan itu berarti mereka tidak akan memulihkan ingatan mengenai konflik-konflik di masa kanak-kanak yang ditekan Wachtel, di sisi lain, berpendapat bahwa terapis, termasuk yang bekerja dengan menggunakan paradigma psikoanalisis, harus membantu klien mengubah perilakunya saat ini, tidak hanya agar mereka dapat merasa lebih baik di masa kini, namun juga agar mereka dapat menyelesaikan konflik di masa lalu yang direpres.

Wachtel mendasarkan pendapat utamanya pada Horney, Sullivan, dan Erikson dan menyebutnya “psikodinamika siklikal”. Ia yakin bahwa perilaku seseorang di masa kini mempertahankan berbagai masalah yang ditekan melalui umpan balik yang diperolehnya dari interaksi saat ini dengan orang lain. Wachtel berpegang pada teori psikoanalisis bahwa masalah yang dialami seseorang dimunculkan oleh berbagai kejadian masa lalu yang ditekan, namun ia berpisah dari psikoanalisis dan juga dari sebagian besar analis ego dengan berpendapat bahwa orang bertindak dengan cara yang mempertahankan berbagai masalah yang dialami.

Ambil contoh seorang laki:laki muda yang menekan kemarahannya yang ekstrem kepada ibunya karena telah memperlakukan ayahnya dengan semena-mena bertahun-tahun lalu di saat ia kecil. Sebagai pemuda, untuk mengendalikan kemarahannya, ia mengembangkan pertahanan dalam bentuk kesopanan yang berlebihan dan peng-hormatan kepada perempuan. Di masa sekarang kebaikan dan ketidakasertifannya memancing beberapa perempuan untuk memanfaatkannya, namun ia juga salah menginterpretasi situasi di mana perempuan secara tulus berperilaku baik kepadanya. Dengan kesalahan menginterpretasi keramahan sebagai penghinaan yang merendahkan, ia menjadi semakin membenci perempuan dan semakin menjauhkan diri dari mereka. Kepasifan pemuda tersebut di masa sekarang, bersumber dari “mammoth berbulu”nya kemarahannya di masa kanak-kanak yang terpendam kepada ibunya—menimbulkan masalah pribadi di masa sekarang dan menghidupkan kemarahannya yang terpendltm. Seolah-olah ego dewasanya tanpa disadari berkata , “Kau lihat, perempuan, seperti ibuku, benar-benar jalang. Mereka tidak bisa dipercaya. Mereka senang menyakiti dan sadis.” Konfirmasi di masa sekarang atas keyakinan di masa kanak-kanak tersebut membawa kembali konflik yang terpendam dan membuatnya tetap hidup. Siklus tersebut terus berlangsung, di mana perilaku laki-laki muda itu sendiri dan kesalahan konsepsinya semakin menegaskan kekejaman perempuan.

Wachtel berpendapat bahwa terapi harus mencoba mengubah pola behavioral di masa kini untuk kebaikan mer’eka sendiri, yang merupakan doktrin terapis perilaku dan untuk mengungkap, dan mengubah psikodinamika yang mendasari, yang merupakan fokus pendekatan psikoanalisis. Dengan menunjukkan bahwa perubahan langsung pada perilaku dapat membantu pasien memperoleh pemahaman yang lebih realistis mengenai berbagai konflik di masa lalu mereka yang ditekan, Wachtel berharap dapat membuat para kolega analitisnya tertarik pada teknik-teknik yang digunakan oleh para terapis perilaku. Ia mungkin akan memberikan beberapa pelatihan asersi bagi laki-laki muda yang penuh hormat tersebut dengan harapan akan memutus lingkaran setan dengan mengubah hubungannya di masa sekarang dengan perempuan. Setelah berulang kali mema tahkan keyakinan bahwa semua perempuan ingin memanfaatkannya, laki-laki muda tersebut dapat mulai memahami dan akhirnya melepaskan konflik sayang-benci dengan ibunya yang ditekan.

Wachtel juga ingin menyampaikan beberapa hal kepada para terapis perilaku. Ia berpendapat bahwa para terapis perilaku dapat belajar banyak dari para kolega analitis mereka, terutama menyangkut jenis masalah yang cenderung dialami oleh banyak orang. Contohnya, teori psikoanalisis berpendapat bahwa anak-anak memiliki perasaan yang kuat dan ambivalen terhadap orang tua mereka, beberapa di antaranya sangat tidak menyenangkan sehingga direpres, atau setidaknya sulit untuk difokuskan dan dibicarakan secara terbuka.

Bagi seorang terapis perilaku laki-laki muda yang penuh hormat tersebut pada awalnya dapat terlihat takut pada hubungan heteroseksual. Karena memahami ketakutan tersebut seperti yang terlihat, terapis akan bekerja untuk membantu klien mengurangi ketakutan tersebut, mungkin dengan kombinasi desensitisasi, terapi perilaku rasional emotif, dan pelatihan keterampilan sosial. Namun, terapis perilaku mungkin akan gagal menggali kemungkinan, yang disarankan oleh literatur psikoanalisis bahwa laki-laki muda tersebut pada dasarnya marah kepada perempuan. Rasa takutnya kepada perempuan akan dipandang sebagai reaksi defensif, suatu cara untuk meminimalkan kontak dengan mereka dengan tujuan menghindari ancaman impuls-impuls agresifnya terhadap mereka. Wachtel akan menyarankan terapis perilaku untuk sensitif terhadap konflik di masa kanak-kanak yang menjadi fokus analis dan untuk bertanya kepada laki-laki muda tersebut mengenai hubungannya dengan ibunya. Jawaban atau perilaku pasien dapat memberikan petunjuk adanya kekecewaan. Terapis kemudian akan memandang laki-laki yang penuh hormat tersebut secara berbeda dan menduga bahwa ia bukannya takut kepada perempuan, namun marah kepada mereka karena ia menghubungkan mereka dengan seorang ibu yang menjadi objek kebencian dan kasih sayang di awal masa kanak-kanaknya. Informasi tambahan ini diasumsikan akan merujuk pada intervensi behavioral yang berbeda, suatu intervensi yang ditujukan untuk menangani kemarahan pasien kepada perempuan, bukan ketakutannya yang tampak kepada mereka.

Wachtel juga menginginkan para terapis perilaku untuk memahami bahwa penguat dapat tidak terlihat dan seorang pasien dapat menyangkal bahwa ia benar-benar menginginkan sesuatu dan juga dapat tidak menyadari penyangkalan tersebut. Dengan kata lain, para terapis harus jeli akan adanya motivasi yang tidak disadari akan adanya kemungkinan bahwa seseorang dapat dimo tivasi atau dikuatkan oleh serangkaian peristiwa yang tidak disadarinya.

Pemikiran psikoanalisis kontemporer dapat membantu para terapis perilaku untuk menyadari mahna suatu intervensi tertentu bagi seorang pasien. Kita lihat salah satu kasus yang kami tangani, seorang perempuan muda yang kami putuskan untuk diberi pelatihan asersi. Ketika kami mulai menjelaskan prosedur permainan peran, ia menjadi kaku di kursinya dan mulai terisak. Tetap melanjutkan pelatihan tanpa memedulikan reaksinya terhadap deskripsi pelatihan merupakan hal yang tidak sensitif dan praktik klinis yang buruk. Sebuah kesadaran mengenai teori psikoanalisis membuat kami sensitif terhadap kemungkinan bahwa pelatihan asersi menyimbolhan sesuatu bagi perempuan tersebut. Maka, dengan lembut kami mendorongnya untuk berbicara dengan bebas, untuk mengasosiasikan secara bebas tentang pemikiran pelatihan asersi. Ia menceritakan serangkaian insiden di masa kanak-kanak orang tuanya mengkritik cara berperilakunya dengan teman-temannya tanpa memberikan dukungan dan ran-saran konstruktif mengenai cara lain untuk berperilaku. Tanpa ia sendiri menyadari hal itu pada awalnya, pasien diingatkan pada rasa sakit hatinya di masa lalu ketika kami menyarankannya untuk mempelajari cara yang lebih asertif dalam berhubungan dengan orang lain. Kami kemudian dapat menjelaskan kepadanya teknik yang akan diberikan, yaitu pelatihan asersi dan memisahkannya dari kritikan yang tidak membantu dan negatif yang diterima di masa lalu. Dengan demikian, kami dapat memersuasinya untuk mencoba melakukan permainan peran. Insiden tersebut juga mencerminkan berbagai masalah pasien yang tidak terselesaikan dengan orang tuanya dan figur-figur otoritas pada umumnya.

Dalam jalur terkait, Wachtel berpendapat bahwa dibanding para terapis perilaku, para psikoanalis lebih mungkin mempertimbangkan kekhawatiran, harapan, dan ketakutan para pasien mereka yang tidak biasa atau nonnormatif. Dengan dituntun oleh pandangan bahwa masalah emosional timbul dari represi impuls-impuls id, mereka menganggap masalah psikologis merupakan refleksi harapan dan ketakutan di masa kecil, misteri gelap pemikiran proses primer, seperti merasa benci pada orang yang disayangi. Para terapis perilaku cenderung memiliki pandangan yang lebih langsung, mungkin bahkan lebih datar, terhadap masalah pasien.

Filed under : Bikers Pintar,