Advertisement

Kesulitan dalam memadukan aspek akademis dan profesional dari psikologi pendidikan bersumber dari tiga faktor. Pertama, psikologi pendidikan mencerminkan semua keruwetan dan keunikan psikologi. Kedua, mungkin ini konsekuensinya, tidak ada pendekatan atau pemahaman baku dalam bidang psikologi pendidikan. Ketiga, meskipun perhatiannya terarah ke berbagai masalah pendidikan, sebenarnya fokus psikologi pendidikan lebih spesifik, yakni pada sistem persekolahan (schooling system) (jadi yang menjadi bahan kajiannya adalah pendidikan yang berlangsung di sekolah-sekolah). Psikologi secara umum mementingkan kuantifikasi. Dalam psikologi pendidikan, hal ini menumbuhkan industri jasa tes psikologi yang dipercaya memberi label dan skor kapasitas individu. Bidang ini begitu menonjol sehingga menjadi ciri utama psikologi pendidikan sehingga para pelakunya terlanjur dicap sebagai teknisi tes kecakapan (di AS) atau kemampuan pribadi (di Inggris). Bias ini begitu parah sehingga membutakan para pelaku psikologi pendidikan itu sendiri. Pada gilirannya, pengutamaan aspek-aspek teknis itu mempengaruhi substansi ilmu psikologi pendidikan. Pada akhirnya bidang ini terus berkutat pada usaha-usaha kuantifikasi yang dicoba diterapkan ke berbagai hal mulai dari pola tidur yang salah, mimpi-mimpi yang muncul, hingga kenakalan anak-anak dan pengaruhnya ke proses pematangan kepribadian. Secara substantif, psikologi pendidikan masih goyah. Survey atas program pengajaran psikologi pendidikan di berbagai universitas mengungkapkan bahwa sebagian besar jam kuliah hanya diisi dengan teknik pengukuran kepribadian, evaluasinya. dan pembuatan program komputernya. Aspek lain seperti formasi dan penyakit kepribadian memang diajarkan, namun porsinya tidak signifikan. Dalam kondisi seperti ini, tinjauan terhadap disiplin lain dari psikologi pun nyaris tak tersentuh sehingga bidang ini menjadi kian sempit. Teori-teorinya juga tidak berkembang, dan teori yang ada (kebanyakan dikembangkan pada 1950-an, dan yang menonjol adalah teori-teori Skinner) menjadi nyaris doktriner, meskipun belakangan pemikiran Piaget, Chomsky, Vygotsky dan tokoh lainnya mulai menonjol. Karena praktek dan teorinya stagnan, maka perkembangan psikologi pendidikan tidak kaya warna, dan substansinya pun nyaris linier. Konsepsi kemanusiaan yang ada di dalamnya kian sempit dan dangkal. Padahal, kebutuhan sekolah bagi generasi muda menuntut dikembangkannya berbagai rumusan baru yang lebih kaya yang dapat memberi sumbangan pemikiran, bantuan dan bimbingan yang lebih nyata dalam pengembangan sistem persekolahan.

Incoming search terms:

  • difinisi kuantifikasi keunikan

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • difinisi kuantifikasi keunikan