PENGERTIAN PUBLIZISTIK WISSENSCHAFT

92 views

Lama sudah ilmu yang mengkaji pernyataan antarmanusia hanya sekitar pernyataan secara lisan dan secara tatap muka, baik dalam bentuk dialog di antara dua orang, maupun dalam bentuk kepada sekelompok hadirin. Dan itulah retorika yang telah dibicarakan di muka. Walaupun pada zaman Romawi sudah mulai berkembang proses pernyataan melalui media, tetapi belum dapat dinilai sebagai ilmu. Baru merupakan fenomena atau gejala. Ini terjadi ketika Gaius Julius Caesar (100-44 SM), kaisar Romawi yang termasyur mengeluarkan peraturan agar kegiatan-kegiatan Senat setiap hari diumumkan kepada masyarakat dengan cara ditempel pada papan pengumuman yang dinarfiakan Acta Diuma.

Sampai abad satu Masehi pernyataan antarmanusia untuk jarak jauh masih dilakukan dengan menggunakan Papyrus atau daun lontar, kulit binatang, logam tipis, dan lain-lain. Setelah ditemukannya kertas oleh bangsa Cina bernama Ts’a/ Lun pada tahun 105 M, kegiatan itu baru menggunakan kertas. Apabila setelah seorang berkebangsaan Jerman, Johannes Gutenberg (1400-1468) menemukan mesin Cetak, yang mampu melipatgandakan tulisan tercetak, saling menyampaikan pernyataan di antara manusia semakin semarak. Fenomena jurnalistik yang sudah tampak pada Acta Diuma tadi ternyata tidak berkembang disebabkan kekaisaran Romawi mengalami masa gelap (dark ages). Baru pada tahun 1609 muncul di Jerman surat kabar pertama dalam sejarah dengan menyandang nama “Avisa Relation Oder Zeitung” disusul oleh “Weekly News” yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1622.

Perkembangan surat kabar dalam bidang penyebaran informasi itu, ternyata menunjukkan pengaruhnya yang tidak kecil terhadap pemerintah dan masyarakat, sehingga mengundang perhatian para cendekiawan untuk mempelajarinya. Lebih-lebih setelah muncul ungkapan Napoleon Bonaparte yang terkenal yang menyatakan bahwa ia lebih takut pada empat surat kabar yang terbit di Paris daripada seratus serdadu dengan sangkur terhunus. Kegentaran kaisar Napoleon yang terpaksa itu karena surat kabar itu tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga opini yang dengan tajam sering mengeritik pemerintah. Sebagai hasil telaah para cendekiawan terhadap perkembangan dan pengaruh surat kabar itu, muncullah di Inggris “Science of the press”, di Prancis “Science de la Presse”, di Nederland Dagbladwetenschap dan di Jerman Zeitungswissenschaft, yang kesemuanya berarti “Ilmu Per- suratkabaran”. Ini terjadi pada abad 19.

Jelas bahwa pada waktu itu, persuratkabaran oleh para cendekiawan Eropa sudah dianggap ilmu (science, wetenschap, Wissenschaft). Sarjana-sarjana yang dikenal giat melibatkan diri dalam ilmu Persuratkabaran itu, antara lain, Dr. Friedrich Nedebach, Prof. Dr. N. Devolder, Prof. Dr. Karl d’Ester, Prof. Dr. Kurt Baschwitz, Dr. Maarten Scheiner, Dr. Theo Luykx, A.J. Lievegood, Dr. H.J. Prakke, Wilhelm Bauer, Dr. Hanstraub, Prof. Dr. Emil Dovivat, dan banyak lagi. Pada International Congress of University Teacher of the Science of the Press yang diadakan di Amsterdam Nederland bulan Mei 1933, Prof. Dr. Walter Hagemann, guru besar dalam Publisistik di Munster dalam pidatonya mengenai ilmu pers antara lain mengatakan sebagai berikut:

“In Germany this science has originated from “Staatswissenshaft” and philosophy; in the United States from the social sciences. With the latter the science is best at home, because its subject matters are the human relations however belong to this science: political science of the press does cover the field of information and public opinion including: rethories, press, film, radio and television. There exists a relationship between all these fields although they are differently accentuated. The term “science of the press is properly too narrow; ‘Publizistik” would be better. Di Jerman yang dianggap sebagai bapak Zeitungswissenschaft, jadi juga dari Publizistik sebagai perkembangan dari Zeitungswissenschaft, adalah Prof. Dr. Kari Bucher, yang namanya sudah tidak asing lagi bagi siapa saja yang pernah mempelajari dasar-dasar ilmu ekonomi. Adalah Prof. Bucher yang pertama kali mengajarkan ilmu mengenai persurat- kabaran pada tingkat Universiter, yakni di Universitas Bazel dalam tahun 1884 yang dikuliahkannya ialah sejarah pers, organisasi pers dan statistik pers. Kuliah kemudian dilanjutkan di Universitas Leipzig sesudah tahun 1892. Di sini ilmunya semakin dikembangkan sehingga meliputi :

—           Geschichte des Zeitungswesens

—           Organization und Technik des modernen Zeitungswesens

—           Presspolitik (Marbangun : 24).

Di atas telah disinggung bahwa publisistik merupakan perkembangan dari Zeitungswissenchaft. Perkembangan tersebut disebabkan :

Pertama: Khalayak membutuhkan ilmu pernyataan umum. Kebutuhan tersebut semakin terasa mendesak ketika radio dan film tampil ke muka sebagai alat pernyataan Publisistik baru.

Kedua : Meskipun memang Zeitungswissenschaft telah berhasil menjadi suatu ilmu yang disipliner dengan menggunakan gejala surat kabar sebagai objek penyelidikannya, namun satu hal yang tak terpegang itu – inti daripada segala pernyataan umum yakni fungsi sosial daripada kata dan makna yang seluas- luasnya. Dan fungsi sosial ini ialah bahwa alat-alat komunikasi mendukung dan menyatakan segala isi kesadaran (Bewust-seininhalten) yang disampaikan kepada orang-orang lain dengan tujuan bahwa sikap rohaniah dari dia yang menerimanya menjadi sama arah dengan dia yang menyatakannya.

Penyelidikan dan ajaran yang secara khusus memperhatikan masalah umum mengenai pengarahan, penghimpunan dan pemberian pengaruh secara rohaniah, merupakan sebuah ilmu yang disebut Publisistik.

Prof. Dr. Walter Hagemann yang namanya telah disebut-sebut di muka mendefinisikan Publisistik secara singkat saja, yakni : ajaran tentang pernyataan umum mengenai isi kesadaran yang aktual (die Lehre von der offentichen Aussage aktueller Bewustseinsinhalte). Yang lebih jelas, tetapi dengan jiwa dan nafas yang sama dengan definisi Prof. Hagemann adalah definisi Prof. Dr. Emil Devivat yang me-nyatakan sebagai berikut:

“Unter Publizistik verstehen wir jede offentlich bedingte und offen- tlich bewirkte geistige Unterrichtung und Leitung, die mit Gesin- nungskraften durch Uberzeugung zu Tun und Handeln fuhrt”.

Yang lebih luas adalah definisi Dr. H.J. Prakke yang dalam bukunya “Pers en Politieke Elite” mendefinisikan Publistik sebagai :

“de wetenschap, die zich i.h.b. bezig houdt met techniek en proble- matiek der openbare communicatie van actueele berichten, gedachten en gevoelens, van de klasieke rhetoriek via pers film en radio, tot de nog jonge televisie toe”.

Publisistik mengajarkan bahwa setiap pernyataan kepada umum dengan menggunakan media apa pun – apakah cetak atau elektronik – menciptakan suatu hubungan rohaniah antara si publisis dengan khalayak. Hubungan rohaniah itu merupakan suatu proses yang menurut Prof. Dr. Walter Hagemann yang namanya telah disinggung tadi terdiri dari tiga fase : das Ereignis, der Empfanger, dan die Wirkung (Marbangun : 60). Penjelasannya adalah sebagai berikut: a. das Ereignis (peristiwanya): Yang dimaksudkan dengan das Ereignis adalah proses kegiatan seorang publisis mulai dari peliputan suatu peristiwa di masyarakat melalui pengolahan di redaksi sampai penyebaran kepada khalayak. Dalam hubungan ini, peristiwa sebagai fase pertama dari proses publisistik itu diklasifikasikan sebagai peristiwa primer dan peristiwa sekunder atau dengan ungkapan lain : peristiwa lahir dan peristiwa batin. Peristiwa lahir adalah suatu yang dapat ditangkap oleh indera penglihatan yang bersifat kausal, mengandung sebab dan akibat. Sebaliknya peristiwa batin adalah peristiwa yang abstrak psikologis, yang terhubungkan dengan kognisi, afeksi dan konasi. Situasi rohaniah ini apabila diwujudkan ke dalam berita, menjadi informasi dan opini di mana interpretasi berperan penting. der Empfanger (penerimanya) Yang dimaksudkan dengan der Empfanger adalah orang-orang atau khalayak yang dijadikan sasaran penyebaran informasi dan opini tadi. Berita-berita termasa atau aktual terjadi secara bersinambung, yang secara universal mengenai apa saja, kapan saja, dan di mana saja, sejauh peristiwa itu berkaitan’dengan kepentingan manusia.

Penawaran informasi dan opini kepada khalayak jauh melebihi daya kemampuannya untuk dapat menerima seluruhnya. Isi kesadaran – atau istilah Hagemann : das Bewusztseininhalte – yang baru mendesak isi kesadaran yang lama. Ini berarti di antara berita- berita yang menerpa khalayak, ada yang diterima, tetapi ada juga yang dipertanyakan, disanggah, atau ditolak. Daya terima publisistik berbeda antara orang yang satu dengan orang lain, yang dipengaruhi bahkan ditentukan oleh berbagai faktor, seperti jenis kelamin, usia, ideologi, dan lain sebagainya. die Wirkung (daya pengaruhnya)

Sebagai komponen ketiga dari proses publisistik, die Wirkung menunjukkan sejauh mana efek yang timbul pada khalayak yang dijadikan sasaran publisistik. Menurut Hagemann setiap terpaan publisistik yang menimbulkan sikap tertentu pada der Empfanger yang kemudian berwujud perilaku, disebabkan terutama oleh perasaannya yang tersentuh ketimbang oleh pikirannya. Sifat emosional ini memungkinkan khalayak bersikap setuju atau tidak setuju, menerima atau menolak. Dalam hubungan ini mereka tidak menyelidiki kebenaran pernyataan yang menerpanya. Mereka belum menjadi subjek yang bergiat; mereka telah meninggalkan kesadaran rasionalnya. Hal ini terutama berlaku jika suatu pernyataan publisistik memihak secara terang- terangan, yang mengancam kepentingan rohaniahnya atau kepentingan materialnya, mengajak khalayak untuk melakukan sesuatu. Pengaruh publisistik berlangsung dalam dua dimensi rangkap, meluas dan mendalam. Ada pernyataan publisistik yang tersiar dengan cepat, tetapi pernyataan yang sesaat menggemparkan dapat dibuat tidak berarti oleh pembuktian. Bisa juga pernyataan itu disusul oleh pernyataan- pernyataan lain yang membuktikan kebalikannya. Ada pernyataan yang berdaya pengaruh ke dalam. Maknanya tidak dikenal oleh khalayak secara keseluruhan. Hanya sekelompok kecil yang tertarik yang karena kemampuan dan kesungguhannya dalam melakukan pertimbangan, mereka memahami benar makna pernyataan tersebut, lalu meneruskannya kepada orang lain yang diperkirakan akan memahami maknanya. Pernyataan itu tidak cemerlang, tidak menggelora, dan tidak menimbulkan gerak dinamika massa, tetapi bergerak maju secara perlahan, luwes, dan halus, sedangkan yang ditimbulkannya adalah kebenaran-kebenaran baru. Daya pengaruh publisistik menjadi penting, oleh karena akan mampu memobilisasi opini publik ke arah yang dikehendaki si publisis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *